
Happy reading guys and jangan lupa untuk menekan tombol like ya kakak-kakak reader.
Terima kasih π
βοΈβοΈβοΈ
"Ayo suster, dorong." titah polisi pada perawat.
"Tolong..! jangan bawa aku dulu, aku masih ingin bicara dengan Erick..!" mohon Rachel pada polisi yang mengawalnya.
"Maaf Miss, waktu anda 10 menit sudah lewat." beritahu polisi.
"Erick...! tolong aku..!" pekik Rachel dengan memanggil nama Erick.
"Dasar polisi bodo..! kau membantuku juga, tidak ada yang tahu. Aku akan membayar mu..!" ucap Rachel dengan sombong, yang merasa masih mempunyai uang yang banyak.
"Dorong...!" titah polisi.
Perawat mendorong brankar tanpa perduli dengan teriakan Rachel, yang berteriak dan mengumpat polisi dan perawat dengan kata-kata kotor dan kasar.
"Kalian tidak ada otak..! aku akan memberikan kalian uang..!" pekik Rachel, yang marah. Karena keinginannya untuk berbicara dengan Erick dihalangi oleh polisi yang menjaganya.
Tanpa mengindahkan umpatan Rachel, perawat mendorong brankar Rachel menuju kamarnya.
"Dasar wanita gila..!" seru Ardan.
"Untung kita sudah terbebas dari dia, dan kau Erick. Berterima kasihlah pada uncle Axelo, karena dia telah membebaskan mu dari pesona wajah palsunya." sambung Ardan.
"Apakah Tuan mengenal dia?" tanya Sandra.
"Wanita itu iblis, dia masuk kedalam keluarga Godfrey untuk mengacaukan keluarga Godfrey. Miss brown, apa anda sangat mengenal wanita itu? dari yang saya dengar tadi. Sepertinya wanita itu ada masalah dengan anda?" tanya Erick.
"Dia yang membuat saya dengan Mike mantan tunangan saya berpisah, keduanya ada main. Dan yang lebih gilanya lagi, wanita itu adalah sepupu saya. Mamanya saudari mama saya yang paling tua." cerita Sandra dengan perasaan yang malu, karena membeberkan aib keluarganya.
"Perempuan tidak waras..!" ucap Jovanka spontan dengan suara yang keras.
Semua mata memandang kearah Jovanka.
"UPS....!" Jovanka menutup mulutnya dengan jemarinya, karena kaget. Mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya sendiri.
"Maaf.." ucap Jovanka dengan suara yang pelan, dan mengusap perutnya.
Apa yang dilakukan Jovanka, tidak luput dari pandangan mata Sandra.
"Adik Bastian hamil?" batin Sandra.
Pintu ruang ICU terbuka, dengan keluar seorang perawat.
"Keluarga pasien Bastian Reuel ," ucap perawat.
"Saya adiknya, bagaimana kondisi saudara saya?" tanya Jovanka seraya berjalan mendekat kearah perawat.
"Pasien baru saja sadar, satu orang bisa masuk untuk menjenguknya," ucap perawat tersebut.
"Saya suster," ucap Jovanka, seraya mengangkat tangan kanannya.
"Ayo ikut saya," ucap perawat, membawa Jovanka masuk kedalam ruang ICU.
__ADS_1
"Jo." Erick mencekal lengan Jovanka, menahannya agar tidak masuk kedalam ruang ICU.
"Aku mau menjenguk saudaraku..!" Jovanka menepiskan pegangan tangan Erick, kemudian berjalan cepat mengikuti perawat yang masih menunggunya didepan pintu ICU.
"Rick, biarkan dia menjenguk saudaranya." kata Ardan pada Erick.
"Tapi.."
"Tidak ada tapi-tapian, dia sudah lama tidak bertemu dengan Bastian. Ayo duduk" ujar Ardan sembari menarik Erick untuk duduk.
"Kenapa kau khawatir Jovanka bertemu dengan Bastian? apa kau khawatir, Jovanka tahu. Bahwa Bastian tidak bersalah, kau berbohong. Agar Jovanka mau menikah denganmu?" tebak Ardan.
Erick tidak menjawab pertanyaan Ardan.
"Jika Jovanka tahu, tidak apa-apa kan? kau akan memiliki anak dan semoga anakmu laki-laki. Setelah anakmu lahir, kalian bisa berpisah. Kau tidak mencintainya kan? jika dia tahu kebohongan mu, juga tidak apa-apa kan," kata Ardan.
"Kau tidak butuh ibunya kan? kau hanya membutuhkan anak dalam kandungannya saja." sambung Ardan.
Perkataan Ardan berhasil menyentil hati Erick.
Deg...
Erick menoleh kearah Ardan, matanya menatap Ardan dengan tajam.
"Kenapa? apa ada yang salah dengan perkataanku? apa kau sudah ada rasa cinta pada Jovanka ?" goda Ardan.
"Jaga mulutmu..!" ketus Erick.
"Erick.. Erick..aku tahu, kau sudah mencintai istri sementara mu." batin Ardan.
"Kak Tian.." suara Jovanka lirih dan bergetar.
Mata Bastian yang terpejam, terbuka sedikit demi sedikit.
"Jo.." terlihat Bastian gembira, melihat keberadaan Jovanka dihadapannya. Tangannya terulur ingin menyentuh Jovanka, tetapi. Bastian meletakkan kembali tangannya, saat merasakan nyeri dibagian sikunya. Saat dia mengangkat tangannya.
"Kak Tian baik-baik saja..?" tanya Jovanka khawatir, begitu melihat bibir Ardan meringis dan kening Bastian mengernyit menahan sakit.
"Tidak apa-apa, hanya siku terasa sakit," jawab Bastian.
"Tangan kak Tian letakkan saja, biar Jo yang pegang tangan kak Tian." jemari Jovanka menggenggam jemari Bastian dan mengusap-usapnya.
"Jo, akhirnya kakak bertemu denganmu. Kakak pulang, dan rumah dalam keadaan kosong," ucap Bastian.
"Kak Tian pulang..! kapan?"
"Seminggu yang lalu, siapa yang memberitahu padamu Jo. Bahwa kakak kecelakaan ?" tanya Bastian.
Jovanka tidak menjawab pertanyaan Bastian, dia yang bertanya pada Bastian.
"Kak, apa kakak ada masalah? di mana kak Tian selama ini?"
"Kakak tidak ada masalah, sebenarnya bukan kakak yang bermasalah. Tetapi teman kakak, dia memeras seorang penguasa. Dan kakak tidak di izinkan pergi, sebelum teman kakak itu memberikan apa yang diinginkan oleh Penguasa itu." cerita Bastian.
"Bukan kak Tian yang bermasalah? jadi kak Tian tidak melakukan perkosaan..?"
"Hei.. siapa yang mengatakan kakak memperkosa? kakak tidak sebejad itu Jo..!" seru Bastian dengan mata nyalang menatap Jovanka.
__ADS_1
"Apa kau ragu dengan kakakmu ini? kakak punya adik perempuan, tidak mudah kakak membuat perbuatan bejat. Dengan merusak gadis."
"Erick Godfrey..! dia menyuruh Jo menemuinya, dan mengatakan kak Tian terlibat masalah."
"Erick Godfrey? Penguasa pulau Saint Angel?" tanya Bastian.
"Iya" sahut Jovanka seraya menganggukkan kepalanya.
"Kakak ditahannya, tapi dia tidak menyiksa kakak. Kakak bekerja di perusahaan perhiasannya, sebagai desainer," kata Bastian.
"Aaa..! kak Tian tidak disiksa ?" tidak percaya Jovanka dengan perkataan Bastian.
"Tidak..! sekarang kakak bekerja sebagai kepala bagian desain di perusahaannya," kata Bastian.
"Kurang ajar, dia telah menipu aku..!" seru Jovanka dengan suara yang nyaring, dia tidak sadar. Di mana posisinya saat ini.
"Miss, tolong pelankan suara anda ," kata seorang perawat yang berada didalam ruang ICU.
"Maaf.." ucap Jovanka.
"Waktu besuk sudah habis miss."
"Cepat sekali," ucap Jovanka, tidak rela meninggalkan Bastian.
"Pulanglah, kakak tidak apa-apa," ucap Bastian.
"Jo, akan menunggu kakak di sini," kata Jovanka.
"Jo bersama siapa datang?"
"Dengan Arisa."
Jovanka belum berniat untuk mengatakan mengenai pernikahannya dengan Erick, dia ingin saat mengatakannya. Bastian sudah dalam keadaan sehat.
"Miss, waktu besuk habis." ingatkan perawat, mengenai waktu besuk yang sudah habis.
"Kak, Jo keluar dulu." Jovanka memberikan kecupan di pipi Bastian.
πππ
Mike berlari terus, terlihat sekali tenaganya sudah terkuras habis untuk berlari.
"Aaarrgghhh..!" teriak Mike, saat kakinya tergores duri pohon. Dan dia terjatuh di rimbunan semak berduri.
"Sial..sial..!" umpat Mike seraya bangkit dari semak berduri, wajah dan tangannya penuh dengan goresan.
Dari kejauhan, Mike mendengar suara gonggongan suara anjing.
"Aahh..napasku sudah habis," ucap Mike dengan napas yang tersengal-sengal.
Mike menatap kesekitarnya, melihat. Kearah mana dia harus berlari.
"Ada suara air, pasti ada sungai didekat sini.Biar anjing itu tidak mengetahui keberadaan ku, aku harus melalui aliran air."
Mike berjalan menuju asal suara air, begitu melihat ada sungai kecil. Mike langsung masuk kedalam sungai, dan menghanyutkan diri. Mengikuti arus sungai yang lumayan besar, badannya berkali-kali terbentur bebatuan. Tapi Mike tidak menyerah, yang penting polisi tidak bisa menangkapnya.
π Nextπ
__ADS_1