
Cerita hanyalah rekaan semata, tidak ada hubungan dengan tempat dan nama seseorang.
Happy reading guys π₯°.
πππ
Suara gonggongan anjing semakin dekat terdengar, Mike yang berada dalam aliran air sungai timbul tenggelam. Dan sesekali tubuhnya terbentur bebatuan, tapi dia tidak perduli.
"Aku harus selamat..aku harus selamat.." gumam Mike.
Air sungai yang masuk kedalam kerongkongannya, membuat dia menjadi terbatuk-batuk.
Setelah merasa tubuhnya tidak mampu lagi, Mike melihat ada sebatang pohon tumbang ke sungai. Dengan sisa tenaga yang ada, tangan Mike meraih ranting pohon. Mike diam sementara, untuk memulihkan tenaganya.setelah tenaganya pulih, Mike merangkak menuju pinggiran sungai.
"Akhirnya, aku selamat...!" seru Mike dengan suara yang kecil.
"Akhirnya, kami berhasil menangkapmu Tuan Mike Holtby.."
Mike yang telungkup di tepi sungai, kaget. Mendengar suara didekatnya.
Mike mengangkat kepalanya, dan mendongak. Matanya melihat seorang pria memakai topi polisi, tetapi memakai baju biasa. Berkacak pinggang menatapnya. Tawa terlihat dibibir pria tersebut.
"Apa kau polisi?" tanya Mike dengan harapan, bahwa orang yang didepannya bukan polisi yang mengejarnya.
"Aku polisi yang sedang menikmati waktu libur, tetapi pelarian mu membuat waktu liburku terganggu."
"Sial...!!" teriak Mike seraya memukulkan kedua tangannya kebatuan, dengan perasaan yang kesal.
"Ayo bangun.." titah polisi tersebut.
"Please, biarkan aku pergi." mohon Mike.
"Baiklah, aku akan membiarkan kau bebas.." ujar polisi tersebut, terlihat smirk disudut bibirnya.
"Sungguh..!" spontan Mike bangun dari telungkup, dia duduk dan memandang wajah polisi dengan wajah gembira.
"Sungguh, tapi setelah kau mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Dengan mendekam didalam jeruji besi dulu, mungkin 3 tahun. Tergantung jaksa menuntut mu, berdoa saja. Semoga orang yang kau tabrak tidak meninggal," ucap polisi.
"Bangkit, sudah cukup untuk beristirahat. Didalam sel nanti, banyak waktumu untuk beristirahat."
Polisi menarik Mike untuk berdiri, dan memborgol kedua jempol Mike.
"Tuan, untuk apa aku diborgol? aku tidak akan melarikan diri," ucap Mike.
"Otak kecilmu ini sangat licik, ayo jalan." titah polisi seraya mendorong Mike untuk berjalan didepannya.
"Sungguh sial..! jika tahu tertangkap juga, untuk apa aku melarikan diri. Sudah badanku sakit kena duri dan batuan." Mike ngedumel meratapi kesialannya.
"Gara-gara kau Rachel, aku pisah dengan Sandra. Semoga kau membusuk di neraka bersama dengan setan-setan..!" teriak Mike kesal.
"Cukup marahmu..! bosan aku mendengar penyesalan penjahat, jika tertangkap. Selalu marah-marah tidak jelas." polisi kesal mendengar Mike dalam perjalanan keluar dari dalam hutan, ngedumel tidak jelas.
Tidak jauh mereka berjalan, polisi dan Mike sudah disambut dengan polisi yang membawa pasukan anjing pelacak.
"Akhirnya, pelariannya berakhir ditengah mu," ucap seorang polisi pada polisi yang menangkap Mike.
"Dia membuat ikan-ikan yang mau memakan umpan kail ku lari, menganggu waktu liburku saja." gerutu polisi yang menangkap Mike.
"Serahkan dia pada kami, kau kejar kembali ikan-ikan mu."
"Ini." setelah menyerahkan Mike, polisi yang menangkap Mike kembali menuju kedalam hutan.
"Kau telah membuat kami repot saja, lihatlah wajahmu. Untuk apa kau lari, kalau akhirnya ketangkap juga."
"Namanya usaha, mungkin saja tadi saya berhasil lolos." balas Mike.
__ADS_1
Plak...
Topi polisi mendarat menerpa kepala Mike.
"Aduh.." Mike mengasuh kesakitan.
"Jalan..!" titah polisi pada Mike.
β¨β¨β¨β¨
Erick duduk di taman yang ada didepan ruang ICU, matanya jauh menerawang.
Tepukan dipundaknya, membuat dia menoleh kearah belakangnya.
"mom." melihat keberadaan Maria berdiri dibelakangnya.
"Ada apa?" Maria duduk disisi Erick.
"Tidak ada apa-apa mom, dengan siapa mommy datang?" tanya Erick.
"Sendiri, Danny memberitahu mommy mengenai saudara Jovanka," kata Maria.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Maria.
"Ada luka di tulang belakang dan kakinya yang patah."
"Jo mana?"
"Dia masuk menemui Bastian," kata Erick.
"Ayo kita masuk, mommy ingin menemui Jovanka" ucap Maria.
Maria dan Erick berdiri, dan berjalan menuju ruang ICU.
Saat keduanya masuk, bertepatan dengan Jovanka keluar dari dalam ruang ICU.
"Jo, bagaimana keadaannya.. ?" tanya Maria, setelah mengurai pelukannya.
"Kondisinya baik mom," sahut Jovanka.
"Baguslah, karena keadaanmu sedang mengandung Jo. Mommy harap kau bisa beristirahat di mansion," ucap Maria.
"Tapi Jo tidak mau meninggalkan kak Tian mom, Jo mau di sini menunggu kak Tian." tolak Jovanka untuk tinggal di Mansion.
"Mommy tidak mau menerima penolakan.." ucap Maria tegas.
"Siapa yang menjaga kak Tian?"
"Jangan khawatir Mrs Godfrey, ada orang yang standby di sini," ucap Danny Liu.
"Turuti aunt Maria Jo, pikirkan bayimu" Arisa membujuk Jovanka.
Jovanka melirik sekilas kearah Erick, yang sedang berbincang dengan Ardan. Ingin rasanya dia ngamuk kepada Erick, setelah mengetahui fakta yang sebenarnya mengenai Bastian.
"Dasar pria arogan, bisa-bisanya dia mengatakan Bastian melakukan perkosaan untuk mengancamku..!" batin Jovanka kesal.
"Lihat saja, aku tidak akan tunduk padamu.."
"Erick, mommy akan membawa Jo ke Mansion." beritahu Maria pada putranya.
Erick mendekat kearah mommynya dan Jovanka.
"Ikut dengan mommy, aku ada urusan," ucap Erick, kemudian memberikan ciuman dibibir Jovanka sekilas.
"Hih... pria menyebalkan, enak saja dia main cium bibirku.." batin Jovanka yang kesal, karena Erick asal nyerobot bibirnya.
__ADS_1
πππ
Atas izin dari dokter, Erick dan Ardan bisa menemui Bastian yang sudah dipindahkan dari ruang ICU kebagian ruang pemulihan.
"Tuan.." Bastian ingin bangun dari tempat tidur, saat melihat kedatangan Erick dan Ardan.
"Sudah tidur saja, bagaimana keadaanmu?" tanya Erick.
"Kondisiku baik-baik saja, hanya kakiku ini yang masih terasa sakit. Dan punggungku, seperti mati rasa," ucap Bastian.
Erick dan Ardan kaget mendengar ucapan Bastian, mengenai punggungnya yang mati rasa.
"Apa Bastian akan lumpuh?" dalam benak Erick.
Ardan melihat kearah Erick, dan dari pandangan matanya. Sepertinya, apa yang ada dalam benak Erick. Sama dengan apa yang ada dalam pikirannya.
"Apa kata dokter?" tanya Ardan.
"Dokter tidak mengatakan apapun, saat aku mengatakan masalah mati rasa pada punggungku ini," kata Bastian.
"Sepertinya, aku akan lama terbaring di sini. Kalau Tuan ingin memecat ku, aku terima," ucap Bastian pasrah, apa yang akan dilakukan Erick mengenai pekerjaannya. Dia akan terima.
"Beristirahat, perusahaan akan tetap terbuka menunggu kau bisa kembali bekerja. Desain perhiasan yang kau buat, sangat disukai pasar. Kami tidak ingin kehilanganmu. Lagi pula, kedua tanganmu masih bisa menggambar kan ," kata Erick.
"Terima kasih Tuan," ucap Bastian senang.
"Tuan, saya ingin tanya. Apa diluar ada dua gadis ?" tanya Bastian, karena dia khawatir. Jovanka menunggunya diluar.
"Gadis?"
Bastian menyebutkan ciri-ciri Jovanka dan Arisa.
"Jovanka dan Arisa." ucap Ardan.
"Tuan mengenal adik saya Jovanka?" tanya Bastian.
"Kami mengenalnya," sahut Erick.
"Kedatanganku menemuimu, mengenai adikmu Jovanka," kata Erick.
"Mengenai Jovanka? apa..apa Jovanka terlibat masalah? kenapa tadi dia tidak mau cerita?" terbersit rasa khawatir menghinggapi perasaan Bastian.
"Aku harus keluar..!" seru Bastian seraya ingin bangkit.
"Hei.. apa yang ingin kau lakukan, apa kau ingin kakimu itu cedera semakin serius?"
Ardan menahan Bastian, agar tidak bangun.
"Aku harus menemui Jovanka Tuan..!"
"Dia tidak apa-apa, dengarkan apa yang mau aku katakan..!" seru Erick.
Bastian kembali merebahkan tubuhnya, dan menatap wajah Erick. Menunggu apa yang ingin dikatakan oleh Erick.
"Kami telah menikah," ucap Erick.
"Aku telah menikah dengan Jovanka, sekarang kami suami istri.." ucap Erick.
Mata Bastian membola, mendengar perkataan Erick.
Kemudian...
"Hahahaha...!" Bastian tertawa lebar.
"Ternyata, Tuan Erick Godfrey suka melucu," ucap Bastian.
__ADS_1
π Nextπ