The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)

The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)
Mencari


__ADS_3

Happy reading guys and menuju ending πŸ€©πŸ™


πŸ€πŸ€πŸ€


"Katakan! Apa rahasia yang kau sembunyikan..!" seru Jovanka.


"Jika tidak kau katakan, aku tidak akan tidur." ancam Jovanka.


"Jonathan tidak meninggal..!"


Perkataan Erick membuat jantung Jovanka berhenti berdetak, wajah Jovanka termangu menatap wajah Erick. Membuat Erick khawatir.


"Hei..! Jo.." Erick menggoyangkan jemarinya didepan wajah Jovanka, agar Jovanka tersadar.


"Jonathan tidak meninggal? Kalau tidak meninggal, di mana dia? apa yang terjadi padanya?" pertanyaan beruntun meluncur dari mulut Jovanka.


Erick menceritakan, apa yang ditemukan oleh anak buahnya yang dikirim oleh Marcio untuk mencari keberadaan makam Jonathan.


"Kurang ajar! Enak saja dia mengambil anak orang..!" umpat Jovanka dengan penuh kemarahan.


"Tenang.." Erick menenangkan Jovanka yang emosional.


"Tenang? Apa kau bisa tenang, jika mengetahui saudaramu di pisahkan darimu. Bagaimana jika anak dalam kandungan ini bernasib sama seperti yang dialami saudara kembar ku itu, apa kau akan tenang?" tanya Jovanka pada Erick.


"Aku akan membunuh orang itu dengan tanganku sendiri..!" ucap Erick dengan tegas.


"Aku akan ke Mongolia.." Jovanka bangkit dan ingin turun dari ranjang.


"Dengan badan sebesar ini, kau ingin pergi ke sana?" tanya Erick.


"Aaahhh..! kenapa kau membuat aku hamil..!" kesal Jovanka.


"Kau menyesal dengan anak yang ada dalam kandunganmu itu ?"


Deghh..


Jovanka tersentak, tangannya langsung mengusap perutnya dan berkata.


"Maaf babies, mommy tidak menyesal. Kalian bertiga kesayangan mommy," ucap Jovanka.


"Kesayangan Daddy juga," timpal Erick.


"Kapan aku bisa pergi mencari Jonathan?" tanya Jovanka.


"Kau tidak mungkin bisa Jo, aku sudah mengutus orang untuk mencarinya. Aku janji, Jonathan akan datang menemuimu dan Bastian di sini," kata Erick.


"Sekarang tidurlah," ucap Erick, lalu merengkuh tubuh Jovanka untuk masuk kedalam pelukannya.


Jantung Jovanka berdetak kencang, karena baru sekali ini Erick memeluknya saat tidur. Bukan Erick tidak ingin melakukannya, tetapi karena Jovanka yang tidak ingin di peluk. Entah kenapa, hari ini. Jovanka ingin tidur dalam pelukan Erick.


Jemari Erick mengelus pundak Jovanka, dan sesekali bibirnya mengecup pucuk kepala Jovanka.


"Ada apa dengan dadaku ini, kenapa tidak berhenti berdebar kencang. Apa aku terkena penyakit jantung." batin *Erick


"Perasaan ini sama dengan saat aku dulu berdekatan dengan wanita iblis itu."


"Apa aku telah mencintainya." batin Erick terus berkecamuk, mengenai perasaannya dengan Jovanka*.


Dia tidak tahu saja, Jovanka telah mengakui perasaannya pada Erick. Saat nyawanya sudah di ujung tanduk, saat Joey ingin membunuhnya.


Mata Erick akhirnya terpejam, sembari memikirkan isi hatinya. Apakah sudah ada cinta pada Jovanka, atau hanya suka.


πŸ€πŸ€πŸ€


Mata Jovanka berair, saat mengantarkan kepergian temannya Arisa.

__ADS_1


"Ris, apa kau betul-betul ingin pergi?" tanya Jovanka lagi.


"Iya Jo, maaf. Keputusan ini sudah aku pikirkan matang-matang, jangan sedih. Kita masih bisa saling berkunjung," ucap Arisa seraya memeluk sahabatnya itu.


"Rick, tolong bujuk Arisa," ucap Jovanka pada Erick.


"Ini sudah keputusannya, kita harus hormati apa keputusannya," ucap Erick.


Jovanka melepaskan pelukan Arisa, dan memandang sahabatnya dengan uraian air mata.


"Kau ingin pergi dengan diam-diam..!" suara keras tiba-tiba membuka Arisa menegang seketika, suara orang yang ingin dihindarinya. Yang membuat dia ingin meninggalkan pulau Saint Angel secepat mungkin, saat Ardan berada di pulau Saint Lucia.


"Ardan..!" seru Arisa sembari membalikkan badannya, menghadap asal suara Ardan.


"Aku kira kau tidak datang Bro," ucap Erick.


"Tidak mungkin aku tidak datang secepatnya, begitu mengetahui. Ada orang yang ingin pergi dengan melarikan diri," ucap Ardan sembari menatap Arisa dengan intens.


"Rick ?" mata Jovanka penuh pertanyaan kepada Erick.


"Aku menghubungi Ardan kemarin, setelah Arisa mengirimkan surat resign. Dan Ardan menyuruh aku untuk menahan kepergian Arisa," kata Erick.


"Tapi tadi aku minta kau membujuknya, kenapa kau tidak mau?"


"Aku tidak bisa membujuknya, aku hanya bisa membuat kepergiannya tertahan sebentar. Lihatlah, Ja'far yang akan mengantarkan Arisa masih sibuk dengan pekerjaannya. Hanya itu yang bisa aku lakukan." ucap Erick pada Jovanka.


"Kenapa kau resign tiba-tiba?" tanya Ardan.


"Aku ingin kembali, granny sudah pulang. Aku tidak ingin dia sendiri," kata Arisa.


"Oh... gara-gara granny, itu siapa..!" jemari Ardan menunjuk kearah belakang Arisa.


Arisa menoleh kearah jemari tangannya Ardan, dan mata Arisa membola. Saat melihat granny berdiri dibelakangnya.


"Granny...!" seketika Arisa berlari menuju granny dan memeluknya.


"Menikah? siapa yang akan menikah?" tanya Arisa tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh granny.


"Siapa lagi kalau bukan kau cucu granny satu-satunya, apa kau kira. Granny yang akan menikah," ucap granny.


"Aku? menikah? hahahaha." Arisa tertawa lebar.


"Jo, aku akan menikah," ucap Arisa pada Jovanka.


"Granny, mungkin granny salah dengar. Yang menikah itu Jovanka, lihatlah. Perutnya saja sudah besar," kata Arisa.


"Aku tahu, Jovanka sudah menikah. Pria itu sudah melamarmu, dan granny menerimanya."


"Dia..!" ucap Arisa dengan menunjuk Ardan.


"Iya, semalam dia kerumah. Dan melamarmu, granny terima. Ada orang ganteng melamarmu, tidak mungkin granny tolak."


"Granny...!" Arisa berteriak memanggil granny dengan mata melotot.


"Ada apa? apa kau tidak menyukainya?"


"Ahhhrghhh...!"


Tiba-tiba...


Ardan berlutut didepan Arisa dengan memegang cincin.


"Will you marry me?"


"Apa-apaan kau ini! bangun," ucap Arisa dengan wajah yang sudah memerah.

__ADS_1


"Aku tidak akan berdiri, sebelum kau menjawabnya," ucap Ardan.


"Terima...terima...terima...!" teriak Jovanka dengan bersemangat.


"Jo..!" Arisa mendelik menatap Jovanka.


"Ayolah Ris, terima saja. Bukannya kau jatuh cinta padanya," ucap Jovanka tanpa mengerem ucapan.


"Jo..!!" Arisa menutup wajahnya, karena Jovanka telah membuka isi hatinya pada Ardan.


Erick hanya menggelengkan kepalanya, menatap Jovanka sangat bersemangat.


"Ris, apa lagi yang kau tunggu? apa kau mau granny yang menikah dengan pemuda tampan ini?" goda granny dengan memainkan matanya menatap Ardan.


"Waduh..! Arisa, cepat kau terima lamaranku. Jangan nanti, aku menikah dengan granny." batin Ardan.


"Ayolah Risa, aku mencintaimu. Sejak pertama kita bertemu," ucap Ardan.


"Bagaimana dengan gadis Jepang yang terus menempel padamu itu?"


"Mayumi? kau cemburu?" tanya Ardan.


"Hih.. untuk apa aku cemburu." Arisa mencebikkan bibirnya.


"Dia bukan siapa-siapa ku, aku hanya minta tolong. Agar dia mendesain cincin ini." Ardan menunjukkan cincin yang dipegangnya.


"Sudahlah Ris, jangan jual mahal..!" seru Jovanka.


"Kau membuat aku malu saja ." gerutu Arisa.


"Ayolah Risa, kakiku sudah mati rasa ini. Terlalu lama berlutut," ucap Ardan.


"Siapa suruh kau berlutut..!"


"Risa, jika kau tidak menerima pemuda ini. Granny akan menikahkan kau dengan duda beranak tiga, tetangga kita." ancam granny Arisa.


"Apa...!" teriak Arisa mendengar perkataan granny.


"Bagaimana?" tanya granny.


"Ayo Ris, terima. Apa kau ingin menikah dengan duda beranak tiga?" tanya Jovanka.


"Baiklah..! daripada menikah dengan orang tua."


"Akhirnya...!" seru Ardan gembira, sembari ingin berdiri.


Tetapi, kakinya keram. Membuat Ardan terduduk kembali.


"Ardan...!" seru Arisa seraya jongkok didekatnya.


"Kakiku keram," ucap Ardan.


πŸ€πŸ€πŸ€


Altan berdiri menghadap tenda yang sudah sebagian dibongkar, hari ini. Suku Dukha akan pindah tempat untuk tinggal.


"Begini terus, sampai kapan harus berpindah-pindah tempat tinggal." batin Altan.


"Kau pergi, tanpa mau bertemu dengan kami Jonathan Reuel."


Altan langsung membalikkan badannya, matanya seketika berembun. Menatap orang yang berdiri didepannya.


🌜 NextπŸŒ›


Satu bab menuju ending..

__ADS_1


Cerita baru guys πŸ‘‡πŸ‘‡



__ADS_2