
Happy reading guys 🥰
🍀🍀🍀
Vannesa keluar dari dalam Mansion dengan mengedumel tanpa henti, dia tidak terima telah dituduh oleh Erick.
"Enak saja menuduh aku, apa dikiranya aku ini sangat jahat..!" seru Vannesa.
Vannesa menuju pintu keluar dari samping mansion.
Dan
Bruk...
"Aduh...!" seru Vannesa.
Vannesa jatuh terduduk, saat tubuhnya bertabrakan dengan tubuh orang yang datang dari luar.
"Apa kau tidak punya mata..!" semprot Vannesa dengan perasaan kesal.
"Maaf...maaf..!" ujar orang yang bertabrakan dengannya, sembari ingin membantu Vannesa untuk berdiri.
"Aku bisa sendiri..!" Vannesa menepiskan tangan orang yang ingin membantunya.
Pria yang menabraknya menarik tangannya kembali, setelah Vannesa menolak bantuannya.
Sembari berdiri, Vannesa mendongak menatap wajah orang yang telah menabraknya.
"Kau..!" Vannesa spontan kesal, saat melihat wajah orang yang menabraknya.
"Kita ketemu lagi Miss."
"Kenapa kau di sini? apa kau mengikuti aku?"
"Untuk apa aku mengikutimu, apa kau seorang selebritis. Sehingga aku harus mengikutimu."
"Ih.. orang gila! aku betul-betul sial, kena marah Erick. Kini bertemu dengan laki-laki tidak waras..!" gerutu Vannesa.
"Kenapa kau berada dalam Mansion? jangan-jangan kau punya maksud jahat..!" seru Vannesa seraya mengamati Altan, dengan mengelilingi Altan.
"Kenapa kau mengelilingi aku?" tanya Altan heran, melihat tingkah Vannesa yang aneh menurutnya.
"Aku curiga, jangan-jangan kau yang memberikan Jovanka coklat? kau ingin menjebakku ya?"
"Kau sudah gila! untuk apa aku menjebakmu, kita tidak saling kenal," ujar Altan seraya berjalan meninggalkan Vannesa.
"Hei..! jika tidak mengikuti aku, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Vanessa sembari mengejar Altan.
"Miss, aku kerja di sini. Aku penjaga keamanan di mansion.." tutur Altan Batuhan.
"Penjaga keamanan, bodyguard? hahahaha..!" Vannesa tertawa terbahak-bahak.
Altan menghentikan langkahnya, memandang Vannesa yang menertawainya.
"Ada yang lucu?"
"Kau bodyguard? tampangmu seperti seperti penjahat, kenapa Erick menerimamu ."
__ADS_1
"Jangan lihat luar Miss." kemudian Altan meninggalkan Vannesa, masuk kedalam ruangan khusus untuk para penjaga keamanan.
"Jangan lihat luar miss, ih..luarmu dan dalammu sama saja..!" seru Vannesa kepada Altan yang sudah hilang dari pandangannya.
"Aku curiga dengan orang itu, aku harus mengawasinya." gumam Vanessa.
🍀🍀🍀
"Kak Tian..!" seru Jovanka, saat melihat kedatangan Bastian.
"Hei... pelan-pelan, kau masih tetap ceroboh..!" seru Bastian, saat Jovanka ingin berlari menyambut kedatangan Bastian.
"Aku rindu dengan kak Tian," ucap Jovanka seraya memeluk Bastian.
"Kakak juga merindukanmu." Bastian mengurai pelukannya, dan menatap Jovanka dari bawah keatas dan dari atas kebawah.
"Ada apa?" tanya Jovanka, karena merasa Bastian heran menatap dirinya.
"Sudah berapa bulan?" tanya Bastian.
"Apanya?" tanya balik Jovanka, yang tidak tahu apa yang ditanyakan oleh Bastian.
"Kandunganmu?"
"Tiga bulan," ucap Jovanka.
"Tiga bulan..! kau sudah sebesar ini? bagaimana bentuk tubuhmu, jika sembilan bulan nanti?" tanya Bastian dengan spontan.
Raut wajah Jovanka seketika berubah, dia kesal mendengar perkataan Bastian.
"Maaf..! maafkan kakak ya," ucap Bastian.
"Kalian pasti menertawai aku kan? karena aku menjadi gembul dan jelek," ucap Jovanka, dan bibir Jovanka mengerucut.
"Tidak Jo, masih cantik. Masih seperti dulu, saat belum hamil," puji Bastian.
Erick yang melihat Jovanka mulai menunjukkan tanda-tanda mau ngambek, menghampiri keduanya.
"Apa kabar?" sapa Erick.
"Hai Bro, aku baik-baik saja" Bastian membalas sapaan Erick.
"Kenapa Om dan aunt Maria tidak jadi datang?" tanya Bastian, karena seharusnya. Dia terbang ke pulau Saint Angel bersama dengan orangtuanya Erick.
"Mommy dan Daddy tidak jadi datang?" Jovanka menatap kearah pintu utama.
"Tidak jadi, karena tiba-tiba mommy dan Daddy harus mengunjungi aunt Anne." beritahu Erick.
"Ayo." jemari Erick meraih tangan Jovanka dan membawanya untuk duduk.
"Kak Tian, bagaimana dengan kaki kakak? kapan kaki kakak itu bisa normal, tanpa butuh bantuan kaki kayu itu?" tanya Jovanka, karena Bastian masih menggunakan tongkat sebagai penopang untuk berjalan.
"Dalam satu atau dua bulan ini, kakak masih membutuhkan kaki ketiga," jawab Bastian.
"Kak, apa kak Tian tidak ada membawa apapun untuk aku ?" tanya Jovanka, karena Bastian hanya membawa koper kecil.
"Apapun? apa itu?" tanya Bastian yang tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Jovanka.
__ADS_1
"Oleh-oleh, maksudnya." Jovanka memperjelas kalimat apapun yang dikatakannya.
"Maaf Jo, kakak merasa kau tidak kekurangan apapun di sini. Suamimu pasti sudah memenuhi semua kebutuhan mu," jawab Bastian.
"Ihh...! kak Tian tidak asik, sudah seharusnya. Jika mengunjungi seseorang itu harus membawa buah tangan," ucap Jovanka dengan menampilkan bibir manyun.
"Maaf." Bastian berdiri dari tempat dia duduk, dan meletakkan bokongnya di sisi Jovanka.
Bastian dan Erick saling pandang, sebelum Erick berdiri.
"Kalian bicara saja, aku mau menemui Marcio," ucap Erick.
Erick mengecup bibir Jovanka sekilas, kemudian pergi meninggalkan kedua kakak beradik tersebut.
"Kau bahagia kan Jo?" tanya Bastian.
"Aku bahagia, jika mereka menuruti apa yang aku inginkan," ucap Jovanka dengan ketus.
"Kenapa? apa mereka membatasi pergerakan mu?" tanya Bastian.
"Mereka semua melarang aku untuk makan-makanan yang manis, dokter mengatakan. Bahwa kondisi kehamilan ku sangat rawan, berat babies sangat berlebih." tutur Jovanka.
Bastian melihat Jovanka, dia merasa. Apa yang dikatakan Erick melalui sambungan telepon padanya, sehingga Bastian dalam keadaan masih sakit langsung berangkat ke pulau Saint Angel. Untuk melihat kondisi Jovanka.
Bastian melihat, adiknya yang dulu langsing dan imut. Kini berubah seperti gentong 🤭.
"Apa yang dikatakan Erick, benar. Jovanka tidak bisa menahan napsunya untuk tidak memakan makanan yang mengandung gula." batin Bastian.
"Kak, Jo kesal. Es krim saja Jovanka tidak boleh, anak-anak Jo ingin es krim dan coklat. Mereka melarang, kesal kan," ujar Jovanka.
"Jo," Bastian meraih jemari Jovanka dan menggenggamnya.
"Apa yang dilakukan Erick, karena Erick sangat menyayangi Jo dan babies," ucap Bastian.
"Tidak..! dia hanya menyayangi babies triplets, dia sangat menginginkan penerus ." Jovanka menunjukkan raut wajah marah.
"Sudah, jangan marah terus. Nanti cepat tua, sekarang. Ayo temani kakak untuk berjalan-jalan, biar kaki kakak cepat sembuh," ucap Bastian mengajak Jovanka untuk berjalan-jalan, karena Erick juga mengatakan. Jovanka selalu menolak untuk berjalan-jalan keluar, karena malu dengan tubuhnya yang bulat.
"Ah...malas, Jo ngantuk." tolak Jovanka.
"Ayolah, tunjukkan pada kak Tian. Keindahan sekitar mansion, kak belum pernah masuk kedalam Mansion ini."
"Baiklah." Jovanka berdiri dengan ogah-ogahan.
Dengan bergandengan tangan, Jovanka membawa Bastian berjalan-jalan keluar. Sepasang mata memandang keduanya, ada perasaan bahagia dan sedih.
"Akhirnya, aku melihatnya." gumam orang yang melihat Jovanka dan Bastian yang sedang berjalan-jalan.
☘️☘️
"Apa..!"
Erick kaget mendapatkan laporan dari Marcio.
"Kau selidiki? tambah orang untuk membantu." titah Erick pada Marcio.
"Baik.."
__ADS_1