
Happy reading guys 🥰
🍃🍃🍃🍃
Arisa terus berlari, mencari pintu menuju luar Mansion. Namun, pintu yang dibukanya selalu membuat Arisa marah.
"Aaarrgghhh..!" teriak Arisa dengan geram, seraya terus mencari jalan keluar.
Tiga orang pelayan mengejar Arisa, berusaha untuk menangkap Arisa.
"Miss, ayo kembali kedalam kamar miss. Nanti Tuan marah miss" ucap pelayan yang terlihat lebih muda dari dua yang mengejarnya.
"Bodo! nggak perduli, aku mau keluar!" seru Arisa.
"Dan kalian, jangan berani menangkap ku. Aku kutuk kalian menjadi tikus got, mau ?" ancam Arisa.
Mata Arisa jelalatan, mencari sesuatu untuk dipakai sebagai alat pembela diri. Arisa melihat ada guci besar, Arisa menuju kearah guci tersebut. Saat ingin mengangkatnya, seorang pelayan mencegahnya.
"Miss, jangan yang itu. Itu barang antik milik Tuan!" cegah pelayan tersebut, agar Arisa tidak menyentuh barang antik menurut sang pelayan.
"Oh ya..ini barang antik? mari kita buat guci ini menjadi mantan guci antik." mata Arisa menyiratkan sesuatu.
Dan...
Arisa mengangkat guci antik tersebut, dengan sekuat tenaga. Karena guci antik tersebut lumayan besar dan berat.
"Miss..!" teriak para pelayan yang mengejar Arisa secara bersamaan.
"Jangan..!"
"Miss..! jangan yang itu miss!" cegah pelayan.
Tapi telat, Arisa sekuat tenaga mengangkat guci antik. Dan mencampakkannya kearah ketika pelayan.
Prangg...
"Hups... sorry! hancur" ujar Arisa tanpa ada rasa bersalah sedikitpun, telah menghancurkan barang guci antik tersebut.
Ketiga pelayan, hanya bisa menatap nanar kearah guci antik milik Tuan nya sudah tidak berbentuk guci lagi.
"Tamat riwayat kita" gumam pelayan yang bertubuh makmur.
"Kalian takut kena marah? bagaimana kalau kita bersama-sama melarikan diri" ujar Arisa.
"Miss, jika anda bisa keluar dari dalam Mansion. Belum tentu anda bisa meninggalkan pulau ini, anda akan berada diluar sana. Di luar banyak binatang buas, apa miss tidak khawatir akan di mangsa oleh binatang buas" ujar pelayan yang berusaha untuk mencegah Arisa untuk kabur.
"Disini dan diluar sama saja, tidak aman. Lebih baik aku bertarung dengan binatang diluar sana, dari pada tinggal dengan bajak laut. Perompak jelek!" seru Arisa.
"Perompak? bajak laut? siapa itu semua miss?" ketiga pelayan bingung dengan apa yang dikatakan oleh Arisa, ketiganya saling pandang.
"Awas Kalian, jangan halangi aku. Kalau kalian tidak mau ikut denganku, biar aku saja yang pergi " kata Arisa.
Ketiga pelayan diam, wajah ketiganya menunduk tiba-tiba.
"Hei.. kenapa kalian menunduk? apa kalian sudah tidak menghalangi aku untuk pergi dari Mansion ini?" tanya Arisa.
Ketiga pelayan masih menundukkan kepalanya, terlihat tubuh mereka bergetar.
"Terima kasih, kalian sudah mengizinkan aku untuk meninggalkan mansion. Tapi, bisa kalian membantuku. Di mana jalan keluar dari Mansion?" tanya Arisa.
"Mari aku tunjukkan jalannya Miss" suara pria dari belakang Arisa, membuat Arisa sontak kaget. Arisa membalikkan badannya.
Deg...
__ADS_1
Mata Arisa bulat sempurna, begitu melihat pria itu.
"Oh my God! pangeran ku !" dalam benak Arisa, memuji ketampanan pria tersebut.
"Kau..!" jemari Arisa menunjuk kearah pria itu.
"Kau ingin keluar kan? mari aku hantarkan" ucap pria tersebut, menawarkan diri untuk mengantarkan Arisa keluar dari Mansion.
Arisa bengong, saat mendengar suara pria tersebut yang terdengar sangat seksi ditelinga Arisa. Membuat Arisa lupa sesaat, niatnya untuk kabur.
Arisa mengkhayalkan, suara seksi pria tersebut, bernyanyi didepannya.
"Ahh.. sangat merdu suaramu" gumam Arisa sambil menangkup kedua tangannya di kedua pipinya.
"Miss.." pria tersebut menjentikkan jari didepan wajah Arisa, membuat
khayalan Arisa sontak terbang dari benaknya.
Ting...
"Hih.. kenapa aku mengkhayalkan yang tidak-tidak" gerutu Arisa, setelah tersadar.
"Siapa?" tanya Arisa.
"Aku? heemm..aku orang yang akan membawamu keluar dari dalam Mansion ini" ucap pria tersebut.
"Kalian, pergilah" titahnya kepada ketiga pelayan yang masih menundukkan kepalanya.
"Permisi Tuan" ucap pelayan dengan serentak, kemudian meninggalkan pria yang dipanggilnya dengan sebutan Tuan.
"Mari miss, saya akan menghantarkan anda untuk keluar dari dalam sini" ujar pria itu.
"Kau siapa? aku tidak mau pergi bersamamu, mungkin saja kau akan mengembalikan aku kedalam kamar itu lagi. Aku tidak mau kau tipu" kata Arisa.
Dengan waspada, Arisa mundur sedikit demi sedikit. Menjauh dari pria tersebut.
"Jangan takut miss, kenalkan. Aku Ardan, aku tamu di Mansion ini" ujar Ardan mengenalkan dirinya.
"Kau bukan orang-orang Penguasa pulau ini?" tanya Arisa, dia belum yakin dengan Ardan. Apakah Ardan baik atau jahat.
"No miss, aku hanya tamu" ucap Ardan.
"Kau tahu jalan keluar dari Mansion ini?" tanya Arisa .
"Jalan satu-satunya keluar dari Mansion ini, dari pintu itu." Ardan menunjuk pintu belakang Arisa.
"Itu.. terima kasih" Arisa ingin berlalu dari hadapan Ardan, tetapi Ardan mencegahnya.
"Tunggu!" panggil Ardan.
"Ada apa? apa kau menipu? atau ingin minta bayaran?" tanya Arisa.
"Pintu itu membawamu keluar dari dalam Mansion, tapi tidak akan bisa meninggalkan sini. Hanya bisa keluar" kata Ardan .
"Apa maksudmu?" Arisa bingung dengan apa yang dikatakan oleh Ardan.
"Ayo" Ardan menarik tangan Arisa, membawanya ke pintu.
"lihatlah" Ardan menunjukkan luar Mansion.
"Hulk..!" teriak Arisa spontan.
Arisa melihat luar Mansion, barisan pria berbadan kekar berdiri di post masing-masing.
__ADS_1
"Kau tidak akan bisa lari, apa kau mau bertarung melawan pria yang berbadan besar itu?" tanya Ardan.
Arisa bergidik, membayangkan tubuhnya remuk dipegang oleh pria berbadan besar-besar mirip badan Hulk. Hanya pria ini tidak berwarna hijau.
"Aku tidak bisa lari" ujar Arisa dengan suara yang lirih.
"No miss, bukan sekarang" kata Ardan.
Arisa kembali masuk kedalam mansion dengan lemah lunglai, semangatnya untuk melarikan diri sirna.
Arisa kembali masuk kedalam kamar, dan pelayan yang pingsan tadi sudah tidak ada didalam kamar. Arisa menuju ranjang, dan merebahkan tubuhnya.
"Jo, kau dimana?" gumam Arisa.
Ardan yang mengikuti Arisa, mengintai dari pintu yang terbuka sedikit.
"Hemm.. sangat cantik" puji Ardan.
***
Jovanka telah tiba didepan Mansion, matanya menatap pintu gerbang mansion yang begitu tinggi dan kokoh.
"Ini kediaman Tuan Erick Godfrey miss" kata Dfrey/Erick.
"Tempat yang mengerikan" ujar Jovanka.
"Miss, aku harus pergi" ucap Dfrey/Erick.
Jovanka memutar badannya menghadap kearah Dfrey.
"Terima kasih" ujar Jovanka.
"Sama-sama miss, semoga berhasil" kata Dfrey/Erick, sebelum meninggalkan Jovanka.
Sepeninggal Dfrey, Jovanka mengambil batu besar. Dan melemparkannya kearah pintu gerbang.
Dumm...
Pintu gerbang yang terbuat dari besi mengeluarkan suara yang cukup keras, sehingga orang yang berada didalam sontak kaget.
Jovanka mengambil batu kembali, begitu ingin melemparkannya kearah pintu gerbang. Pintu terbuka, dengan kedatangan beberapa pria tinggi besar. Dengan otot-ototnya yang tercetak dibalik t-shirt tanpa lengan.
"Wow..bisep berjalan" gumam Jovanka, melihat pria dengan otot bisep yang menonjol. Mendekati Jovanka dengan mata yang tajam, dan tidak berkedip.
"Mereka ini, badan saja yang besar. Tenaga? sangat meragukan" Jovanka meremehkan kekuatan pria kekar tersebut.
"Kau cari mati !" seru pria yang badannya lebih besar dari keempat temannya.
"Bukan! aku bukan cari mati, aku mencari temanku. Namanya Arisa Maurer, bukan mencari mati!" seru Jovanka dengan berani.
"Tidak ada orang yang bernama Arisa meller disini miss !" ucap pria kekar itu.
"Arisa Maurer! bukan Arisa Meller" kata Jovanka.
Seorang wanita keluar dari dalam Mansion, dan membisikkan sesuatu kepada pria kekar tersebut.
"Masuk Miss, Tuan telah menunggu" ucap wanita itu kepada Jovanka.
"Aku?" tanya Jovanka.
"Iya miss" wanita tersebut, memberikan menggerakkan tangannya. Agar Jovanka mengikutinya.
Next...
__ADS_1
Mohon like..like terima kasih 🙏🥰