The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)

The Tyrant'S Desire (Hasrat Cinta Sang Penguasa)
Mesum akut


__ADS_3

Happy reading guys πŸ₯°


πŸ’“πŸ’“πŸ’“


Setelah puas mengumpat Erick, Jovanka baru terasa tenang. Karena telah mengeluarkan kemarahan yang bersarang didalam otak dan hatinya.


"Puas..!" ucap Jovanka.


"Aku mandi dulu, setelah itu. Baru kekamar Arisa, bosan terus terkurung dalam kamar. Aku belum pernah ke kota Saint Lucia, sepertinya. Kota ini sangat bagus juga. Aku rindu dengan kotaku, Saint Marine. Lautnya, kalau bisa kabur. Ingin aku kabur, tapi bagaimana. Uang saja tidak ada, ponsel juga tidak tahu di mana" Jovanka berbicara sendiri.


"Semangat Jo, masih ada hari esok. Mungkin saja, besok ada keajaiban" Jovanka menyemangati diri sendiri.


Jovanka beringsut untuk turun dari ranjang, tetapi. Jovanka berhenti, saat merasakan terasa perih di area sensitifnya.


"Aduh..! kenapa perih sekali..?" Jovanka menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, dan melihat kearah sensitifnya.


"Ah...lecet..Dasar Erick maniak sek..!" teriak Jovanka dengan kesal, setelah melihat keadaan sensitifnya yang merah.


"Awas kau berengsek..!" kesal Jovanka begitu melihat sensitifnya yang merah.


Dengan tertatih-tatih dan seraya mengumpat dan mengutuk Erick, Jovanka berjalan menuju kamar mandi.


Selesai berendam selama setengah jam, Jovanka baru merasakan sedikit segar. Dan area sensitifnya berkurang sakitnya.


Tett...tet...Bel kamar berbunyi.


"Sial..! siapa lagi yang datang, apa suami berengsek itu yang datang? hemh..biar saja.." Jovanka pura-pura tidak mendengar bel pintu berbunyi.


Tet...tet...bel kembali berbunyi, dibarengi dengan suara orang yang memanggil nama Jovanka.


"Jo.. Jovanka...!" terdengar suara Arisa dari depan pintu.


"Bukan suami menyebalkan, tapi teman yang menyebalkan" ujar Jovanka.


Jovanka berdiri, dan berjalan dengan perlahan-lahan menuju pintu.


Cklek..


"Masuk..! tidak usah nyengir" ucap Jovanka pada Arisa, saat melihat Arisa nyengir menatapnya.


"Jo..! ada apa dengan kakimu?" tanya Arisa, setelah melihat cara Jovanka yang berjalan mirip seperti pinguin.


"Gara-gara suami sialan !" seru Jovanka dengan kesal.


"Suami? hahaha..!" Arisa tertawa terbahak-bahak, sembari memegang perutnya.


Jovanka duduk, dan mengambil bantalan kursi. Dan melemparkannya pada Arisa yang menertawainya.


"Jo, apa kau sudah..?" tanya Arisa sembari menyatukan dua jari telunjuknya.


Jovanka melorotkan matanya menatap Arisa.


"Oh my God..! suamimu sangat ganas, lihatlah lehermu. Penuh dengan tanda percintaan, suamimu sungguh sangat hot ya" goda Arisa.

__ADS_1


"Orang itu sungguh sangat gila, orangtuanya terbaring di rumah sakit, otaknya masih memikirkan hal-hal yang mesum" kata Jovanka.


"Gila-gila juga suamimu Jo, apalagi yang tidak kau senangi Jo. Dia tidak pria yang kasar, wajahnya tampan dan kekayaannya. Tidak di ragukan lagi," kata Arisa.


"Ris, pernikahan yang aku inginkan bukan seperti ini. Aku ingin menikah dengan orang yang aku cintai, ini. Kami berdua tidak saling cinta, pernikahan ini terjadi hanya karena dia membutuhkan ahli waris" kata Jovanka.


"Sekarang belum ada cinta, mungkin saja. Setelah tinggal bersama lama, rasa cinta itu akan datang Jo" kata Arisa.


"Sekarang, jangan marah-marah lagi ya. Oke.." kata Arisa.


"Aku tidak tahu, begitu melihat dia. Aku ingin selalu marah-marah kepadanya" kata Jovanka.


"Apa kau tidak takut padanya? Dia sangat ditakuti di pulau Saint Angel" kata Arisa.


"Aku lebih takut dengan anjngnya" sahut Jovanka.


"Sabar ya, sekarang kita keluar. Apa kau tidak lapar ? perutku hanya terisi sandwich semalam" kata Arisa.


"Bagaimana mau keluar, lihat cara jalanku. Semua orang pasti memandang kearah ku"


"Aku jadi curiga, jangan-jangan dia sengaja melakukan ini. Agar aku tidak kemana-mana" ucap Jovanka.


Arisa tertawa melihat kekesalan Jovanka terhadap Erick.


"Kita makan di sini saja " kata Arisa.


πŸƒπŸƒπŸƒ


"Selama ini mommy tinggal di pulau Saint Angel, kenapa mommy tidak datang menemui Erick?" tanya Erick, saat dalam perjalanan menuju rumah besar.


"Mommy tidak ingin orang ada yang tahu, bahwa mommy masih hidup" jawab Maria.


"Termasuk juga Erick?" tanya Erick.


"Maaf" ucap Maria.


Suasana dalam mobil hening, sampai mobil memasuki rumah besar.


Marcio dan Mrs Cho sudah menunggu didepan, begitu mobil berhenti. Marcio langsung membuka pintu.


Pintu mobil terbuka, Maria turun. Mata Mrs Cho membesar karena terkejut, saat melihat Maria turun dan disusul dengan Erick.


"Mrs Godfrey..!" Mrs Cho merentangkan kedua tangannya, Maria menghamburkan diri kedalam pelukan Mrs Cho. Keduanya menangis.


"Aku tahu...aku tahu, anda pasti masih hidup Mrs Godfrey" ucap Mrs Cho.


Mrs Cho mengurai pelukannya, dan menatap Maria dengan intens.


"Kenapa anda sangat kurus Mrs Godfrey?" tanya Mrs Cho saat melihat dengan seksama Maria.


"Maria, panggil aku seperti dulu aunt Aline" titah Maria kepada Mrs Cho.


Dulu, Maria memanggil Mrs Cho dengan panggilan Aunt aline. Sedangkan Mrs Cho memanggilnya dengan panggilan Maria.

__ADS_1


"Baiklah, Maria" ucap Mrs Cho.


"Apa anak nakal itu, tahu bahwa mommynya masih hidup?" tanya Mrs Cho.


Maria menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada yang tahu, hanya aunt Helena yang tahu" kata Maria.


"Ayo kita masuk" Mrs Cho menggandeng tangan Maria.


Erick dan Marcio berbincang dengan serius.


"Tuan, menurut ahli IT kita. Terlihat tangan Mrs Rachel dengan sengaja mendorong Tuan besar" beritahu Marcio.


"Shitt..! bawa orang-orangmu untuk mencari wanita itu " titah Erick.


"Baik Tuan" sahut Marcio.


Maria masuk dan langsung naik ke lantai atas, tangannya membuka pintu kamarnya. Setelah pintu terbuka, Maria berdiri didepan pintu.


"Aunt, cari tukang. Aku ingin membongkar kamar ini, buang semua isinya. Jadikan kamar ini sebagai perpustakaan" titah Maria pada Mrs Cho.


"Jika kamar ini di bongkar, mommy akan tidur di mana. Apa mommy akan kembali tinggal di biara?" tanya Erick yang baru datang bergabung.


"Mommy akan tinggal di sini, tapi mommy tidak ingin tidur didalam kamar ini" kata Maria.


"Tuan juga tidak pernah tidur dikamar ini Maria, hanya wanita itu yang tidur di sini" kata Mrs Cho.


"Kolam renang tutup" titah Erick, karena saat melihat kolam renang. Erick terbayang, apa yang dilakukan Axelo dengan Rachel.


"Tuan muda, apa yang anda lihat itu. Tidak seperti yang anda bayangkan, itu hanya pura-pura. Sebenarnya, Tuan besar tahu tentang kepulangan anda Tuan muda. Dan Tuan besar melakukan itu, agar anda membenci Tuan besar dan wanita itu" cerita Mrs Cho.


"Apa..!"


"Kalau Tuan besar tidak melakukan itu, Tuan besar takut. Anda masih tergila-gila dengan wanita itu, dan wanita itu akan memanfaatkan anda Tuan muda " kata Mrs Cho.


"Sial..sial..!" ucap Erick dengan kesal.


"Sekarang, kemana wanita itu?" tanya Maria.


"Sejak, Tuan besar mengusirnya. Dia tidak tinggal di sini lagi," ucap Mrs Cho.


Maria berkeliling mengitari rumah besar, dan Mrs Cho mendampinginya. Dan juga mengenalkan Maria dengan para maid yang mengenal Maria sebagai istri sah dari Axelo Godfrey.


πŸ€πŸ€


Andre duduk di ruang kerjanya, ditangannya ada selembar gambar yang sudah lusuh. Karena keseringan dipegang.


"Tempatku bukan di sini..! seharusnya, aku berada di sana dan di hormati..


🌜 NextπŸŒ›


Jangan lupa untuk menekan tombol like like ya kakak-kakak reader πŸ₯°πŸ™

__ADS_1


__ADS_2