Ustadz Adikku Jodohku

Ustadz Adikku Jodohku
Bab 45 - Pulang kerumah


__ADS_3

“Baik umi.”Ucap Adinda yang masuk ke dalam rumah. Kemudian Adinda duduk di sofa yang ada di samping mertuanya.


“Umi ini saya bawakan umi kue yang buat tadi.”Ucap Adinda yang memberi kantong plastik yang berisi toples kue brownies rasa Alpukat yang di buatnya tadi.


“Makasih ya nak.”Ucap Umi Marwah yang mengambil kantong plastik dari tangan menantunya itu.


“Sama – sama umi.”Ucap Adinda.


Umi marwah pun membuka toples Tupperware berisi kue yang dibuat oleh menantunya itu dan kemudian umi marwah pun mencicipi kue brownies Alpukat yang dibuat menantunya.


“wah kue brownies Alpukat mu enak, lembut dan rasa manis nya sangat pas betul nak, kamu belajar buat brownis Alpukat ini dari mana nak.”Ucap Umi Marwah yang kemudian bertanya.


“Saya belajar membuat kue brownies Alpukat ini dari mertuanya kakak sepupu saya dari Bandung umi.”Ucap Adinda.


“Wawan kapan kapan kamu bisa dong ajarin umi untuk membuat brownies Alpukat ini nak.”Ucap Umi marwah.


“Iya umi.”Ucap Adinda.


Adinda dan umi marwah pun melanjutkan mengobrol nya. Kemudian Tibalah Abah dan dua adik ipar nya pulang ke rumah.


“Assalamualaikum.”Ucap salam Abah dan saudara iparnya.


“Waalaikumsalam.”Ucap Umi Marwah dan Adinda.


“Wah ada menantunya Abah ini, kapan datang nya nak.”Ucap Abah yang kemudian bertanya.


“Baru beberapa menit yang lalu saya datang Abah.”Ucap Adinda.

__ADS_1


“nak dinda, Abri di mana ya, kenapa Abah tidak melihat dia datang nak.”Tanya Abah.


“Hubby sekarang ada di Sumatra Abah, mengurusi proyek yang ada Masalah disana.”Ucap Adinda.


“hmm...” dehem Abah. Abah pun duduk di sofa bersama dengan dua adik ipar yang ikut duduk di samping Abah dan mereka pun mengambil kue brownies Alpukat yang berada di atas meja.


Kemudian mereka bertanya ke umi siapa yang membuat brownies Alpukat ini. Umi pun menjawab yang bikin brownies Alpukat ini adalah Adinda.


Mereka semua pun memuji kue buatan Adinda dan mereka juga bersyukur memiliki menantu, saudara ipar seperti Adinda yang pintar masak, seorang calon dokter dan baik sama orang lain.


********


Hari demi hari berlalu begitu saja, tak terasa sekarang pernikahan Adinda dan Ustad Abrisam sudah berjalan sebulan, tapi sampai sekarang ia belum memberikan hak suaminya.


Saat suaminya minta hak nya pada malam pertama dirinya sudah sah menjadi istri nya, ia belum bisa memberikannya ke suaminya di karena dirinya kedatangan tamu bulannya.


Adinda yang mendengar itu hanya bisa menunggu saja sampai ia pulang ke rumah, tapi sampai sekarang pun suami nya belum aja pulang ke rumah, karena waktu sudah hampir lewati dari waktu dua Minggu yang sudah di janjikan suaminya pada dirinya.


Adinda juga pernah berpikir apa terjadi sesuatu pada suaminya disana sampai ia pulangnya lama, tapi kemudian Adinda menepiskan semua pikiran itu dan ia juga hanya bisa berdoa yang sebaik untuk suaminya yang disana.


Kemudian Adinda keluar dari kamarnya bersama suaminya menuju ke meja makan untuk makan malam, karena waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam.


Sampainya di meja makan. Adinda menyuruh bibi Siti untuk ikut makan malam bersama dirinya, bibi Siti hanya mengiyakan aja untuk menemani majikan nya untuk makan malam.


Mereka pun memulai makan malam dan di selingi lelucon yang bibi Siti ceritakan yang membuat mereka ketawa.


Setelah selesai makan malam, Adinda pun mengambil piring bekas makan malam kami tadi, bibi Siti yang melihat itu langsung melarang majikan nya untuk membantu nya, tapi Adinda tetap kekeh untuk membantu bibi Siti untuk membersihkan piring bekas makan malam kami tadi.

__ADS_1


Bibi Siti yang mendengar itu tidak bisa menolak ke ingin majikannya. Kemudian Adinda dan bibi siti pun langsung membawa piring kotor itu ke wastafel dan Adinda pun menyuruh bibi Siti untuk mengelap meja makan, Sedangkan dirinya yang mencuci piring kotor ini.


Bibi Siti yang mendengar itu sempat menolak keinginan majikan itu, tapi saat mendengar alasan dari majikannya itu, bibi Siti pun menjadi turut dan menurut keinginan majikan itu.


Kemudian bibi Siti pun langsung memulai mengelap meja makan.


Setelah selesai Adinda mengajak bibi Siti pergi ke ruangan keluarga untuk sekedar menemani dirinya untuk menonton TV.


Di ruangan keluarga Adinda dan bibi Siti menonton film serial suara hati istri yang ada di TV kesayangan kita.


Setelah itu Adinda dan bibi Siti pun pergi menuju kamarnya mereka masing-masing, karena waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.


Di dalam kamar Adinda langsung berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan wajah dan kaki, kemudian Adinda keluar dari kamar mandi dan langsung menuju ke meja hiasan untuk memakai perawatan malam di wajah nya.


Setelah selesai melakukan perawatan malam. Adinda pun langsung naik ke atas tempat tidur nya dan dia pun mengambil handphone nya untuk sekedar mengecek handphone nya, takut ada telpon atau pesan masuk dari suaminya.


Karena tidak ada telpon atau pesan masuk dari suaminya, Adinda pun menaruh handphone nya kembali di atas meja.


Setelah itu Adinda kembali membaringkan badan di atas kasur, ketika beberapa menit kemudian Adinda pun terlelap dan masuk ke dalam alam mimpinya.


Pada pukul satu malam Ustad Abrisam baru aja sampai di rumah nya dalam keadaan rumah nya sepi dikarenakan semua orang sudah tidur. Kemudian Ustad Abrisam mengetuk pintu rumah nya dan pintu pun di buka oleh bibi Siti.


Bibi Siti yang melihat majikan nya sudah pulang itu pun merasakan sangat senang dan bahagia, kemudian Ustad Abrisam bertanya ke bibi Siti bagaimana dengan keadaan istrinya saat dirinya tidak ada di Rumah.


Bibi Siti pun beritahu keadaan Bu Dinda selama bapak pergi keadaan sangat baik, tapi bibi kadang-kadang merasakan kasih juga melihat Bu Dinda yang selalu memperhatikan foto bapak yang ada di handphone nya, karena mungkin Bu Dinda sangat merindukan bapak dan Bu dinda juga selalu menunggu ke pulang bapak.


Ustad Abrisam yang mendengar itu merasakan bahagia dan sekaligus sedih, karena dirinya telah membuat istrinya menunggu dirinya lama pulang.

__ADS_1


Kemudian Ustad Abrisam pun langsung pergi naik ke atas menuju kamarnya dan istrinya. Sesampainya di depan pintu kamar mereka, Ustad Abrisam pun membuka pintu kamar nya dengan perlahan, karena dia Takut istrinya terganggu dengan tidur nya.


__ADS_2