
Lima tahun kemudian Arfan sudah mulai memasuki sekolah dasar, kini Adinda sudah menjadi dokter neurolog di rumah sakit keluarganya dan juga saat ini Adinda tengah mengandung anak keduanya bersama ustad Abrisam.
Zahra sudah berhasil menjadi dokter di salah satu Rumah sakit yang ada di Jakarta barat dan sudah memiliki dua orang anak, salah satu anaknya sama kaya anaknya adinda yang sekarang ini sudah mulai memasuki sekolah dasar.
Sementara Alexa kini sudah menjadi dokter ternama di Rumah sakit yang ada di Bandung dan saat ini Alexa tengah hamil muda anak pertamanya dengan Marvin, karena beberapa tahun yang lalu Alexa sempat di jebak oleh salah satu pasien yang saat itu meminta datang ke Apartemen untuk memeriksanya yang tiba-tiba kepala sakit dan sesampainya di sana yang ia dapatkan adalah pelecehan terhadap dirinya tapi untungnya saat itu ada Marvin yang menolong, karena pada waktu itu juga Marvin ada urusan di Bandung dan disana dia tidak sengaja melihat Alexa saat mau masuk ke Apartemen yang sama dengan ditempati oleh pasien yang menghubungi Alexa tadi, lalu Marvin pun mengikuti Alexa saat masuk dalam Apartemen pasiennya dan sampainya Marvin tiba-tiba mendengar suara teriak minta tolong dari Alexa. Semenjak dari kejadian itu Marvin dan Alexa pun mulai dekat dan lalu mereka berdua pun menikah.
Sedangkan Nissa tidak tau keberadaannya, dikarenakan tiga tahun belakangan ini semenjak Nissa pergi ke Palembang untuk bekerja menjadi salah satu dokter yang ada di Rumah Sakit Palembang, Nissa tidak pernah lagi menghubungi dan memberi kabar ke mereka.
Sampai membuat mereka berusaha mencari kabar Nissa dengan mendatangi Kediaman kedua orang tuanya Nissa untuk bertanya bagaimana kabar Nissa disana, karena mereka pikir kedua orang tuanya Nissa tau kabar Nissa disana dan juga tau kenapa selama ini Nissa tidak pernah lagi menghubunginya.
Tapi yang mereka dapati dari orang tuanya Nissa hanya kabar Nissa aja dan kalau masalah Nissa tidak menghubunginya, orang tuanya Nissa tidak tau menahu kenapa Nissa tidak pernah menghubunginya lagi.
Mereka sangat senang mengetahui kabar Nissa di Palembang itu dalam keadaan baik-baik aja walaupun mereka taunya dari kedua orang tuanya Nissa, tapi mereka tidak pernah merasa kecewa ataupun marah dengan Nissa.
Namun beda dengan vano semenjak Nissa pergi ke Palembang untuk bekerja, dia langsung berubah drastis yang dulu sikap selalu ramah terhadap orang lain dan kini berubah menjadi dingin ke orang lain. Ditambah lagi salah satu temannya pun pernah mengajaknya pergi keluar untuk sekedar jalan-jalan sambil mencari cewek pengganti Nissa tapi selalu ditolak oleh vano dengan alasan ada acara keluarga atau capek sehabis menangani kasus kejahatan.
Arfan tubuh menjadi anak yang ceria dan pintar, dengan usianya yang terbilang masih baru lima tahun dia sudah bisa berhitung, membaca, menghafal beberapa juz dan juga berbahasa asing.
Arfan sering mengikuti lomba dan mendapatkan juara saat mengikuti lomba yang diadakan di sekolah TK nya dan termasuk juga dengan Rian anaknya Zahra yang sama mendapatkan juara saat mengikuti lomba yang sama dengan diikuti oleh Arfan. Karena Arfan dan Rian sama-sama bersekolah di satu TK B yang sama, berangkat Arfan dengan Rian bersahabat seperti kaya umi dan mama mereka yang bersahabat dari kecil.
Di lapangan pesantren, saat ini Arfan sedang bermain bola bersama Rian dan adiknya fayez, disitu mereka di awasi oleh orang tuanya mereka yang saat itu sedang mengobrol mengenang masa-masa masih belum menikah dan memiliki anak.
Mereka yang lagi bernostalgia mengenang masa-masa masih belum menikah dan memiliki anak tiba-tiba aja terganggu dengan suara tangisan fayez.
“mah....Hiks.....hiks....”Rengek fayez
Mereka yang mendengar itu langsung menyamperi anak-anak mereka.
“fayez, kamu kenapa nangis sayang.”Tanya Zahra ke anaknya.
“Kaki fayez sakit mah uuu...”Aduh fayez.
“cup.... sayang jangan nangis lagi ya sayang.”Ucap Zahra menenangkan anaknya sambil meniup kakinya.
“Arfan tadi umi sudah bilang hati-hati long main bolanya, kah kasih adek fayez kakinya luka dan lihat kaki mu juga luka kah.”Ucap Adinda sambil mengelap tangan anaknya yang kotor.
“Maaf Umi.”Ucap Arfan yang menundukkan kepalanya.
“Dinda udah ini kah cuma luka kecil aja dan kamu nggak perlu sampai marah Arfan nya, ini kah sudah menjadi hal biasa yang terjadi di antara anak-anak, jadi jangan di masalah lagi.”Ucap Alexa.
__ADS_1
“Iya Tante Dinda, ini bukan salah kak Arfan, tadi kak Arfan sudah bilang sama fayez main bolanya hati-hati tapi fayez tidak dengar kak Arfan.”Ucap fayez
“iya sayang, Tante nggak marah Kak Arfan kok, Tante cuma khawatir aja ke kak Arfan dan kamu.”Ucap Adinda.
“iya udah sekarang sebaiknya kita pulang yuk anak-anak, biar kaki kalian bisa cepat diobati.”Ajak Adinda.
“iya umi, tante.”Ucap mereka.
“Arfan masih kuat kah berjalan nak, kalau Arfan nggak kuat jalan biarkan umi gendong aja.”Tanya Adinda yang tadi melihat anaknya kesusahan berjalan.
“nggak umi, Arfan masih kuat kok dan Arfan juga tidak mau menyakiti adek bayi dalam perut umi.”jawab Arfan sambil memegang perut uminya yang masih rata-rata itu.
“Baiklah nak, kalau itu yuk kita pulang.”Ucap Adinda yang lalu berjalan pulang sambil memapah anaknya dan diikuti yang lainnya.
Sesampainya di rumah Adinda langsung aja mengambil kotak P3K untuk anaknya dan juga anaknya Zahra, lalu mereka pun langsung mengobati luka anaknya mereka.
Setelah mengobati luka anaknya, mereka pun berlalu membawa anak-anaknya ke meja makan untuk makan siang, dikarenakan waktunya sudah hampir memasuki waktu makan siang.
*************
Saat ini Adinda sedang dalam perjalanan ke sekolah TK nya Arfan untuk menjemput Arfan yang sebentar lagi akan pulang.
Tak lama Adinda pun menemukan Arfan yang saat itu sedang bermain perosotan dengan Rian dan sepupunya qila sambil menunggu jemputan mereka.
“Assalamualaikum, Arfan sayang maaf umi ya nak, buat kamu menunggu lama.”Ucap Adinda
“Waalaikumsalam, iya umi nggak lama kok.”Ucap Arfan.
“Hei ada Rian sama qila.”Sapa Adinda.
“kenapa kalian masih ada disini, emangnya mama dan ibu kalian belum jemput ya.”Tanya Adinda sekaligus bertanya.
“iya Tante, mama belum jemput aku.”Jawab Rian.
“ibu juga belum jemput aku Tante.”Ucap Aqilah.
“Kalau itu kalian ikuti tante sama Arfan aja, biarkan nanti tante telpon mama atau ibu kalian, kalau kalian pulang ikut sama tante dan Arfan.”Ucap Adinda.
“Iya Tante.”Ucap Rian dan Aqilah.
__ADS_1
Lalu mereka pun berjalan memasuki mobil dan tak lama kemudian mobil yang di kemudikan Adinda pun melaju meninggalkan Sekolah Tk Arfan.
“Halo Zahra.”Ucap Adinda.
“Assalamualaikum, Dinda. Ada apa.”Tanya Zahra.
“Waalaikumsalam, zahra. gini aku mau beritahu kamu bahwa Rian pulang ikut sama aku Arfan dan qila ya.”Ucap Adinda.
“Rian kenapa bisa ikut sama kamu Din, kah tadinya aku mau menjemputnya.”Tanya Zahra.
“Iya, karena tadi saat aku menjemput Arfan, aku melihat Rian dan qila yang belum dijemput, jadi aku ajak mereka pulang sama aku.”Ucap Adinda.
“Iya gak apa Din.”Ucap Zahra.
“Tapi zahra....”
“Tapi apa Din.”Sela Zahra.
“Tapi sebelum aku antar Rian dan qila pulang, aku mau mengajak mereka makan siang dulu, kamu marah nggak Zahra.”Ucap Adinda.
“Eh..... gak apa sih Din, tapi apa kamu sudah bilang ke kakak Nandi kalau kamu mengajak qila.”Tanya Zahra.
“Tadi aku sudah bilang ke Kak Nandi sebelum aku nelpon kamu za.”Ucap Adinda.
“Kalau itu bagaimana kamu kirim aku alamat restoran tempat kalian makan, kah kasih kamu dan anak yang dikandungmu kalau harus bolak balik mengantar Rian dan qila pulang.”Ucap Zahra.
“Tapi apa kamu sudah tidak ada pasien lagi.”Tanya Adinda
“Alhamdulillah, pasien sekarang sudah tidak ada lagi Din.”Ucap Zahra.
“Iya udah nanti aku kirimkan Alamat, Kalau itu aku tutup dulu ya Zahra.”Ucap Adinda.
“Assalamualaikum.”Salam Adinda.
“Iya Din. Waalaikumsalam.”Jawab Zahra. Setelah itu Adinda pun langsung mengirimkan Alamat restoran ke Zahra.
“anak-anak kita mampir ke restoran dulu ya, Karena ini sudah hampir masuk waktu makan siang dan juga tadi tante sudah bilang ke mama dan ibu kalian, kalau tante mengajak kalian siang dulu.”Ucap Adinda.
“Iya umi, tante.”Ucap mereka.
__ADS_1