
Pagi pagi sekali Adinda dan keluarga nya sudah bersiap-siap hendak pergi ke Rumah sakit, mereka sudah tidak sabar ingin menemui dan melihat keadaan Nadira karena tadi bundanya mendapatkan telpon dari pihak Rumah Sakit yang menyatakan Nadira sudah melewati masa kritis meskipun belum sadar.
Sebelum berangkat ke Rumah Sakit mereka semua pun pergi ke meja makan untuk sarapan pagi dulu.
Sampainya di meja makan mereka pun duduk dan lalu mereka pun mulai serapan paginya dengan keadaan tenang tanpa ada suara orang bicara.
Tak beberapa lama mereka pun selesai dengan serapan pagi, lalu mereka pun bangkit dari kursi meja makan dan berjalan pergi ke mobil.
Sampainya di mobil mereka pun masuk dan lalu mobil pun langsung aja dijalankan Ega menuju ke Rumah sakit.
Dalam perjalanan empat puluh lima menit mereka pun sampai di Rumah sakit.
Lalu mereka pun turun dari mobil dan langsung berjalan masuk kedalam Rumah sakit menuju ke Ruangan rawat Nadira.
Didalam Ruangan Rawat Nadira Adinda langsung duduk di samping brankar kakaknya sambil genggam tangannya. Sementara kedua orang tua kakak dan keponakannya duduk di sofa yang ada Ruangan Rawat itu.
“Kak, cepat bangun dong Kakak Nadira, kakak Nadira harus kuat dan jangan sampai menyerah ya kak, kalau sampai kakak menyerah aku akan tambah merasa bersalah dengan suami dan dua anakmu kakak sampai terjadi sesuatu denganmu kakak dan aku pun tak akan bisa maafkan diriku.”ungkapan Adinda meneteskan air matanya.
Tiba-tiba tangan Nadira bergerak dan disusun dengan matanya yang terbuka perlahan. Adinda yang melihat itu terkejut sambil dia memanggil Bunda dan kakaknya.
Mereka yang mendengar Adinda memanggil memberikan taukan Nadira sudah sadar itu sangat terkejut dan sekaligus bahagia dengan kesadarannya nadira. Lalu Doni pun pergi keluar memanggil dokter memberikan taukah kalau istrinya sudah sadar.
Tak lama dokter dan perawat yang menangani Nadira datang dan ikuti Doni suaminya.
“dokter suci tuan dan nona tolong tunggu keluar dulu.”Ucap Dokter.
“Baik dok.”Ucap mereka yang lalu keluar dari ruangan rawat Nadira dan duduk di bangku yang telah disediakan. Tak lama Ayah dan Marvin datang menghampiri kami.
“Bunda kenapa kalian ada di luar apa terjadi sesuatu dengan Nadira.”Tanya Ayah.
“Gak yah, bunda dan anak anak diluar karena didalam dokter sedang memeriksa Nadira yang baru sadar.”Ucap Bunda.
“Alhamdulillah kalau Nadira/ Kakak sudah sadar.”Ucap Ayah dan Marvin bersamaan.
“Ayah dan kamu Marvin kalian habis dari mana, kenapa baru datang.”Tanya Bunda yang melihat suaminya dan keponakan dari suaminya baru datang.
“Maaf Bun tadi ayah ada pasien darurat.”Ucap Ayah.
“kalau Marvin tadi habis meangkat telpon dari perusahaan Tante, jadi Marvin baru sampai sekarang Tante.”Ucap Marvin.
15 menit kemudian dokter dan perawat keluar dari ruangan rawat inap Nadira.
__ADS_1
“bagaimana keadaan istri saya dok.”Ucap Doni
“Iya dok bagaimana keadaan kakak saya.”Ucap Adinda.
“Alhamdulillah keadaan pasien sudah membaik tuan, kalau tidak ada keluhan lagi mungkin aja lusa pasien bisa pulang.”Ucap Dokter yang menangani Nadira.
“makasih dok tapi kami bolehkah menemui istri saya dok.”Tanya Doni.
“Iya tuan silahkan, kalau itu saya permisi dulu tuan nona.”Ucap dokter yang menangani Nadira.
“Iya dok.”ucap mereka. Lalu mereka pun pergi masuk ke Ruangan Rawat Nadira dan disitu mereka melihat Nadira yang sudah membuka matanya dengan keadaan yang masih terlihat sangat lemah.
Lalu mereka pun menghampiri Nadira yang berbaring di ranjang rumah sakit.
“kak Nadira, terima kasih ya kakak sudah mau bertahan dan berjuang untuk Sadar demi kami, Terima kasih juga kakak sudah menyelamatkan ku dan calon anak ku dari kecelakaan itu.”Ucap Adinda yang kembali mengalirkan air mata sambil menggenggam tangan Kakaknya.
“iya Dinda.... udah jangan nangis lagi kasih anak mu dan kakak melakukan nih karena Kakak tidak mau terjadi sesuatu denganmu dan anak mu.”Ucap Nadira.
“Iya makasih kakak.”Ucap Adinda yang langsung menghapus air matanya.
“honey kamu sudah baikan.”Tanya Doni.
“Syukuran honey mas sangat khawatir saat mendengar kamu kecelakaan dan termasuk dengan anak anak kita.”Ucap Doni
“Sekarang anak-anak ada dimana mas.”Tanya Nadira.
“kedua anakmu sekarang ada di rumah dira.”Ucap Bunda
“Mereka di rumah sama siapa Tante dan kenapa mereka nggak diajak kesini kah aku juga ingin bertemu mereka Tante.”Tanya Nadira.
“Mereka di Rumah sama bibi dan Nandi Dira, kenapa mereka nggak diajak karena mereka masih tidur dan ditambah lagi nanti takutnya mereka nangis lagi melihat kamu belum sadar nak.”Ucap Bunda.
“Kalau kamu ingin bertemu dengan anak anak mu nanti Tante bawa mereka kesini dan sekarang kamu istirahat dira agar cepat pulih dan bisa cepat pulang ke Rumah.”Ucap Bunda.
“Baik Tante.”Ucap Nadira.
************
Sore harinya Zahra Nissa dan Alexa baru aja sampai di rumah sakit untuk menjenguk Nadira kakak sahabatnya yang baru sadar dari komanya.
Lalu mereka pun langsung aja berjalan masuk ke dalam rumah sakit menuju ruangan rawat inap Nadira.
__ADS_1
“Assalamualaikum.”Ucap salam mereka.
“Waalaikumsalam.”jawab Doni Marvin dan Ega.
“Hei kalian sudah datang.”Ucap Ega.
“Iya Kak, bagaimana keadaan kakak Nadira sekarang.”Tanya Alexa.
“Alhamdulliah keadaan kakak sudah gak membaik.”Ucap Nadira.
“Syukuran lah keadaan sudah membaik.”Ucap mereka yang merasa legaan.
“Tapi Dinda dimana kakak kenapa dia tidak ada.”Tanya Nissa.
“Dinda ada dikamar mandi Niss.”Ucap Kakak Ega.
Tak lama Adinda keluar dari kamar mandi dan disitu dia pun terkejut melihat sahabatnya sudah datang. Tapi kemudian Adinda menetralkan kembali ekspresi wajahnya dan lalu dia pun menghampiri sahabatnya.
“kalian sudah lama datang.”Tanya Adinda.
“Kami baru aja datang dua menit yang lalu Dinda.”Ucap Zahra.
“dinda nih pesan mu yang tadi kamu minta.”Ucap Alexa yang memberikan sebuah bungkusan.
“Makasih ya lexa sudah merepoti mu.”Ucap Adinda.
“iya sama-sama santai aja Dinda kaya sama siapa aja.”Ucap Zahra
“apa yang kamu pesan sama lexa din “Tanya Marvin yang Alexa memberikan sebuah bungkusan ke Adinda
“Ehmm.....nih kue Red velvet yang aku pesan sama lexa kak “Ucap Adinda.
“Aku kirain apa nyatanya kue yang kamu pesan.”Ucap Marvin.
“Emangnya kakak pikir aku pesan apa.”Tanya Adinda.
“ehmm...ya aku pikir kamu pesan tas din kaya wanita diluar sana yang sering beli tas.”Ucap Marvin.
“Hahaha.... Kakak Marvin ada aja deh mana mungkin aku pesan tas sedangkan tasku di rumah sudah cukup banyak dan aku pun juga tak seperti wanita diluar sana yang sering menghamburkan uang nya untuk beli tas tapi tas mereka di Rumah sudah terlalu banyak, itu sama aja mubazir kalau tas nggak pernah dipakai kak.”Ucap Adinda.
“Iya juga Din.”Ucap Marvin yang mengangguk membenarkan kata Adinda.
__ADS_1