
Kini Adinda sudah dipindahkan ke ruang rawat inap dan di temanin dengan seluruh keluarga dan salah satu sahabat tersayangnya yang menemaninya dari dia menjalankan operasi caesar sampai menunggunya sadar sehabis menjalankan operasi dengan sabarnya, termasuk pada ustad Abrisam yang selalu sabar menunggu kesadaran istrinya, dia tidak lupa selalu mendoakan dan melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an di samping tempat tidur istrinya, agar istrinya dapat mendengarkannya dan merespon nya supaya membantu istrinya cepat pulih dan sadar.
Ketika telah selesai melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an, Ustad Abrisam tiba-tiba merasa pergerakan pada tangan Adinda.
“Mai kami sudah sadar sayang.”Panggil ustad Abrisam.
Semua orang yang mendengar itu langsung menoleh dan lalu mendekati tempat tidur Adinda.
“Abri ada apa, apa Dinda sudah sadar nak.”Tanya Bunda dan Umi marwah.
“Iya Abri apa adikku sudah sadar, kenapa tadi kamu berteriak.”Lajut Ega yang bertanya.
“iya, tadi aku merasa ada pergerakan pada jari tangan mai, coba bunda dan Umi lihat.”
Mereka semua yang melihat pada jari tangan Adinda, ketika di wajah mereka dipenuhi senyum bahagia.
“Biar aku panggil dokter untuk memeriksa Adinda.”Ucap Marvin yang lalu keluar dari ruang rawat Adinda dan lalu pergi memanggil dokter untuk memperiksa Adinda.
Setelah memanggil dokter dan suster yang menangi Adinda, Marvin dokter dan suster pun berlalu masuk ke ruang rawat Adinda.
Sesampainya di dalam dokter menyuruh semua orang untuk menunggu diluar dulu, lalu dokter pun memulai memeriksa Adinda dengan dibantu suster. Ketika mata Adinda sudah terbuka dan diakhiri dengan senyum dokter saat selesai pemeriksaan Adinda. Lalu Dokter pun keluar dari ruangan rawat Adinda dan ikut suster dari belakang.
“Dok bagaimana kondisi istri saya apakah dia sudah baikan dokter.”Tanya
“Iya dok, apakah anak saya baik baik aja”Tanya Bunda.
“Alhamdulillah, berkat doa dari kalian semua, kondisi pasien sekarang sudah cukup membaik dan mungkin aja beberapa hari lagi pasien bisa pulang diikuti dengan Perkembangan kesehatan Putra tuan.”Ucap Dokter itu.
“Alhamdulillah, makasih Dok.”Ucapan Ustad Abrisam dan diikuti yang lainnya.
“kalau itu apakah kami boleh menemui anak menantu saya dok.”Tanya Umi marwah.
“tentu saja boleh nyonya, silahkan tapi untuk saat ini jangan terlalu ribut dulu ya tuan nyonya dan nona.”Jawab Dokter.
“Terima kasih Dok.”Ucap mereka.
Lalu Ustad Abrisam pergi memasuki ruangan rawat Adinda dengan diikuti keluarga dan sahabat istrinya. Didalam mereka melihat Adinda yang sedang menatap langit-langit di ruangan rawatnya.
__ADS_1
“Assalamualaikum.”Salam Ustad Abrisam yang lalu berjalan mendekati tempat tidur Adinda sambil tersenyum. Adinda yang dengar itu menolehkan kepalanya.
“Waalaikumsalam.”Jawab Adinda dengan suara lemah sambil juga tersenyum tipis.
Ustad Abrisam menggenggam tangan Adinda dan lalu menciumnya. Ustad Abrisam juga tidak lupa mencium pucuk kepala Adinda. Adinda yang mendapat ciuman dari suaminya itu hanya bisa membalas ciuman suaminya dengan senyuman manisnya.
Ketika pandangan Adinda teralihkan dengan semua orang yang ada di ruang rawatnya. tiba-tiba Adinda merasakan perutnya yang sudah rata-rata dan disusun dengan ingatan tentang kecelakaan yang terjadi di mall.
“Hubby dimana anak kita.”tanya Adinda.
“Mai kamu jangan banyak bicara dulu ya, Alhamdulillah anak kita Selamat dan dia dalam keadaan sehat tanpa ada kekurangan apapun, Sekarang dia di ruang inkubator dikarenakan dia lahirnya belum cukup bulan Mai.”Ucap ustad Abrisam.
Adinda yang dengar itu hanya bisa tersenyum dan meneteskan air mata kebahagiaan.
“Hubby aku, aku mau....”Ucap Adinda yang hendak duduk.
“Dinda sayang kamu jangan banyak bergerak dulu.”Tegur Bunda melihat putri mau bangun.
“Iya nak, kamu juga belum sembuh benar nak dan tambah lagi jahitan diperutmu juga belum kering sayang.”timpal Umi Marwah.
“tapi Dinda cuma ingin melihat dan menemui anak Dinda.”Ucap Adinda.
Adinda cuma mengganggu kepalanya saja menuruti perkataan ustad Abrisam.
*************
Keesokan paginya semua orang sudah berkumpul di Ruang rawat Adinda dan termasuk dengan dua sahabatnya dan kakak perempuannya berserta suaminya yang tidak sempat datang kemarin Sekarang datang kesini sambil bawa buah tangan.
Adinda yang melihat itu cukup merasakan sangat bahagia dan senang, melihat semua keluarga dan sahabatnya bisa berkumpul dengannya.
Tak lama pintu Ruang rawat Adinda terbuka dan masuklah Ustad Abrisam yang datang membawa sekantong plastik dan kursi roda yang sudah dijanjikan kemarin untuk sang istrinya yang ingin menemui anaknya.
“Assalamualaikum.”Salam Ustad Abrisam.
“Waalaikumsalam.”Jawab mereka semua.
“Hubby habis dari mana kenapa baru datang.”Tanya Adinda.
__ADS_1
“Iya ustad habis dari mana kami semua sudah menunggu dari tadi long.”Saut Nissa.
“Saya habis dari kantin.”Jawab Ustad Abrisam.
“Itu kursi roda untuk apa ya ustad.”Tanya Zahra.
“kursi roda ini untuk istri saya, karena kamarin saya telah janji bahwa hari ini saya akan membawa istri saya menemui anak kami.”jawab Ustad Abrisam.
“Lalu apa lagi, ayo bantu Mai.”Ucap Adinda.
“Kamu belum makan mai, ini Hubby bawa kamu sup ayam kampung sama salak buah.”Ucap Ustad Abrisam.
“tadi kamu pulang ke Rumah ya hubby, kenapa bisa bawa sup Ayam kampung sama salak buah.”Tanya Adinda.
“Gak Mai, makanan ini tadi dibawakan sama supir pesantren, karena katanya makan ini dibuat oleh bibi Siti atas suruhan umi, tadi bibi Siti juga menitipkan salam dan selamat atas lahirnya putra kita mai.”jawab ustad Abrisam.
“Iya nak, tadi umi minta Siti untuk buatkan kamu sup yang bagus untuk Asi dan salak untuk mempercepat pemulihan pasca melahirkan Caesar nak.”jelas Umi Marwah.
“Jadi kamu sekarang makan dulu ya, sebelum menemui anakmu.”Lajut Umi Marwah.
Adinda menganggukkan kepalanya menurutin perkataan ibu mertuanya untuk memakan makanan yang telah dibuat bibi Siti, karena dia tidak ingin buat ibu mertua dan bibi Siti menjadi kecewa.
Beberapa menit kemudian Adinda selesai dengan makannya, Setelah itu Ustad Abrisam membantu istrinya untuk duduk di kursi roda dan lalu mendorong kursi roda itu ke ruang inkubator.
Didalam ruang inkubator, Adinda langsung menanyakan nama putra karena dari tadi dia belum tau namanya.
“Hubby siapa nama putra kita dari tadi Mai belum tau namanya.”Tanya Adinda.
“maaf Mai hubby belum kasih putra kita nama.”jawab ustad Abrisam.
“Iya udah sekarang hubby kasih dia nama.”Kata Adinda.
“Bagaimana kalau namanya Arfan Rashya Faizan yang artinya Arfan kecerdasaan, Rashya teguh, faizan pemimpin.”kata ustad Abrisam.
“bagus namanya hubby, Assalamualaikum Arfan anaknya umi sayang, terima kasih ya sayang kamu masih mau bertahan demi Umi dan Abi mu, Umi sangat bahagia bisa melihat kamu lahir ke dunia ini dengan selamat.”Ucap Adinda yang mengelus kepala putranya sambil meneteskan air mata.
“Coba kalau kamu gak bertahan, mungkin aja umi juga tidak akan bertahan nak, karena bagi umi kamu adalah harta umi yang sangat berharga dan tidak bisa digantikan dengan yang lain.”lanjut Adinda.
__ADS_1
“Mai sudah jangan ngomong gitu lagi dan terpenting anak kita masih dilindungi sama Allah SWT.”Ucap Abrisam yang memeluk Adinda.
“iya hubby.”Ucap Adinda dalam pelukan ustad Abrisam.