Wanita Penggoda

Wanita Penggoda
Menjadi Yang Terbaik


__ADS_3

"Mas.... sarapannya sudah siap, makan gih" ucap Karin pada Sandi.


"Bentar ya sayang, mas lagi sisir rambut". Seperti biasa, setiap pagi Karin menyiapkan semua kebutuhan suaminya, mulai dari pakaian, sepatu, kaos kaki, sisir serta minyak rambut, sarapan bahkan handphone dan dompet milik Sandi Karin yang siapkan.


Iya..., Karin memang istri yang hebat, bahkan walau hanya segelas air putih untuk di minum Sandi pun, Karin yang selalu siap kan.


Sandi sarapan dengan lahapnya, menurut Sandi masakan istrinya adalah yang terbaik setelah masak mama nya. bagi Sandi sebagi anak yang baik, dia sadar dia dilahirkan dan dibesarkn mamanya, hingga tidak ada makanan yang lebih enak dari pada buatan mama yang telah melahirkan dan membesarkannya itu, dan Karin pun sama sekali tidak marah akan hal itu.


Sewaktu akan berangkat kerja. Seperti biasa, sebuah kecupan hangat di daratkan Sandi di kening Karin. Karin sungguh menyukai adegan itu, walaupun selalu dilakukan setiap harinya, tidak membuat Karin bosan dengan perlakuan manis Sandi tersebut. Kafe Karin buka jam sepuluh pagi, akhirnya seperti biasa, setelah suaminya berangkat kerja, Karin pun tiduran kembali, itu adalah permintaan sang suami, agar Karin tidak terlalu lelah saat jualan.


"Karin, lagi sibuk ngga ?" sebuah pesan masuk dari seseorang.


"Nggak" jawab Karin.


"Rame nggak Kafe nya?" tanya nya lagi.


"Nggak kok, aku baru buka, jadi masih sepi" jawab Karin dengan tegas.


"Aku mau kesana, siapin pesanan aku ya, aku makan di sana y Karin" balas pesan dari teman lama Karin yang juga customer nya itu.


Lalu Karin pun menyiapkan pesanan teman lama nya itu, tidak lama kemudian dia datang.


"Hai, pesanan aku sudah siap Karin?" terdengar suara dari belakang Karin, tentu saja sontak itu mengagetkan Karin, karena Karin sedang sibuk membuat pesanan yang lain juga.

__ADS_1


"Hai Alex... , apa kabar? maaf ya aku tadi lagi sibuk banget, pesanan kamu udah siap kok, tenang aja, tinggal makan dan nggak mesti antri lagi untuk dibuatkan pesanan nya, xixixi" Karin tertawa cekikikan pada temannya itu.


Tentu saja tawa Karin itu membuat pipi teman lelaki nya itu menjadi merona. Iya..., dia salah satu pengagum Karin yang lainnya, dia mengagumi Karin sejak masa sekolah. Anehnya dari dulu, dia tidak pernah bisa benar-benar untuk melupakan daya tarik Karin semenjak mereka pertama berjumpa disekolah dulu.


Sayangnya Karin sudah mempunyai suami dan dua orang putri cantik, tapi ntah mengapa bagi Alex Karin tetap sangat menarik, malahan lebih menawan dibanding masa sekolah dulu. Dari dulu sejak masa sekolah, Karin selalu dimusuhi teman wanita nya. Iya...begitulh Karin, terlalu dekat dengan banyak lelaki, dia sangat ramah dan menarik, padahal dia tidak cantik. Tapi, selalu bisa menjadi pusat perhatian lelaki.


Mungkin karena bentuk tubuhnya, dari dulu hingga kini tetap sama, tidak trlalu tinggi dan tidak gemuk, tapi berbody yang lumayan menarik. Karin dari dulu memang periang, selalu murah senyum, tapi sebagian lelaki kerap menyebut Karin sebagai wanita penggoda, padahal Karin hanya ramah, dan akhirnya sifat itu lekat hingga kini meski pun telah bersuami. Untung saja suaminya sabar dan berpikiran dewasa, jadi tidak asal cemburuan. Ya begitulah Sandi, hanya lelaki sekuat dan setenang Sandi yang bisa jadi pendamping Karin. yang mempesona dan dikagumi banyak kaum Adam itu.


"Kamu sibuk nggak? masih banyak pesanan kah?" tanya Alex.


"Nggak kok, dah selesai semua, kenapa?" tanya Karin sambil tersenyum ramah.


"Temani aku makan ya" ujar Alex dengan penuh harap.


" boleh" kata Karin. Lalu Karin menemani Alek makan sambil mereka bertukar pengalaman soal usaha masing-masing.


Bocah itu sejak dari pertama dia makan di kafe Karin dia sudah mengagumi Karin. Hanya katena rasa kagum itu, Dia jadi sering ke kafe Karin, padahal dia nggak suka makanan pedes, tapi dia tetap nekat makan dan nongki dikedai Karin, itupun cuma sendirian. Tapi hari ini dia WA Karin cuma untuk menanyakan apakah kafe Karin buka atau nggak nya.


"Siapa?" tanya Alex.


"Oh salah satu pelanggan aku juga lex" ujar Karin.


"Dia nggak mesen? tapi chat kamu?" ada nada introgasi dalam pertanyaan Alex.

__ADS_1


"Nggak... dia nggak mesen, cuma nanya aku buka nggak itu aja" jawab Karin simpel.


Karena emang banyak yang cuma nanyain itu aja ke Karin, seperti pertanyaan basa basi, tapi Karin nggak pernah ambil pusing, bagi Karin, dia hanya seorang penjual yang ramah, jadi selalu bersikap sama kepada pelanggannya, tanpa dia peduli apakah pelanggan nya tertarik atau nggak kepadanya.


Tapi ada seseorang yang membuat Karin harus memberikan perhatian khusus untuknya, seorang bocah yang sangat dikagumi oleh Karin. Karin memang selalu mengagumi dan merindu bocah itu, ya Brian, lagi-lagi. Tiba-tiba saja dia memikirkan Brian. lalu dengan sendirinya dia tersenyum manis disudut bibir manisnya.


Tak lama kemudian ada beberapa pemuda yang masuk ke Kafe Karin.


"Ntar y" ucap Karin pada Alex, Karin lalu berdiri dan menghampiri tamunya yang baru datang, mereka lumayan rame, dan salah satu dari mereka sangat Karin kenal.


"Abi? kamu ternyata? kak pikir siapa rame-rame an datangnya" lalu Karin menyambut teman-teman Abi juga.


"Hy semua adek-adek manis, Selamat datang di kafe kita, perkenalkan nama kakak, kak Karin, kalian dah pada laper kah? mau pesan sesuatu manis????" ucap Karin dengan ramah dan sopan.


Tapi itu menurut Karin, sedangkan menurut mereka itu adalah ucapan maut seorang penjual, hingga nggak ada yang sanggup lama-lama berhadapan dengan Karin, semua orang bisa salah paham dengan tutur kata nya. Tapi itulah Karin, yang nggak peduli semua itu. Yang dia tau itulah dirinya.


Sontak saja teman-teman Abi menjadi kan Karin idolanya juga, gimana tidak, seorang wanita biasa, sangat sopan dan menarik, murah senyum, dan senyumnya itu, menyimpan umur sebenarnya Karin, karena dia jadi terlihat lebih muda karena jiwa mudanya.


Malam semakin larut,


"Sayang, kamu istirahat ya, kamu pasti capek masak seharian, biar mas yang beres-beres. Istirahat sana, mas nggak mau kamu jadi capek , ntar kamus sakit lagi" Sandi terlihat kwatir dengan kegitan Karin yang full.


"Nggak apa-apa mas. Aku baik-baik saja kok, mas Sandi tenang saja, aku nggak bakal sakit, karena ada mas yang selalu bantu aku disaat aku kecapean dan kerepotan, mas sangat hebat dan mas adalah suami yang terbaik yang bahkan seorang ratu diistana mewah pun, belum tentu bisa mendapatkan perhtian sebaik ini dari pasangannya mas".

__ADS_1


Karin lalu mendekati suaminya itu memulai cetakan hangat pada bagian-bagian tubuh kekar Sandi. Sandi merasa terbuai dan tentu saja langsung menggendong Karin ke kamar mereka. Lalu menutup pintu, agar putri-putri manis mereka tidak dapat masuk kedalam kamar yang akan Sandi pakai untuk melahap istrinya tersebut.


AYO TEMAN SEPERJUANGAN, KASIH SEMANGAT AKU DONG PARA AUTHOR DAN PEMBACA SETIA🤗....


__ADS_2