
.
.
.
.
.
.
.
"Tinggalkan Gerry selagi saya meminta secara baik-baik sama kamu. Sudah saya transfer sejumlah uang ke rekening kamu" Ucap seorang laki-laki paruh baya di depanku.
Laki-laki itu menyesap kopinya dengan santai "Saya memang sedang mengancam kamu. Kalau dengan sejumlah uang kamu masih tidak meninggalkan Gerry, maka Saya akan beralih ke keluarga kamu. Dan tentu saja, entah apa yang akan Saya lakukan nanti"
Menyedihkan. Itulah kata yang tepat untuk laki-laki paruh baya yang mengenalkan dirinya sebagai tuan Syahrendra Soewirdjo, yang juga papa dari Gerry Sbastian Soewirdjo.
Bagaimana tidak menyedihkan? keinginannya pada kekuasaan dan harta lebih penting dari pada melihat anak semata wayangnya bahagia?
Aku yang semula ketakutan sampai merem*s lututku sendiripun mendadak punya keberanian menghadapi laki-laki tua yang egois ini. Aku tidak mau menyerah dan mengecewakan Gerry yang sudah berjuang sampai sejauh ini.
"Saya akan mentransfer kembali kepada Anda, uang yang Anda kirim ke rekening saya tanpa kurang sedikitpun" Ku jawab dengan mantap dan tanpa ada getar sedikitpun dalam kata-kataku.
"Kamu jangan sombong, kamu pikir butuh berapa puluh tahun kamu baru bisa mengumpulkan uang yang Saya berikan ke kamu. Terima saja dan hiduplah dengan tenang dengan uang itu di kampung halamanmu" Ujarnya sambil meletakkan kopi nya di atas meja.
"Saya memang sombong, tapi bukan dengan berapa banyaknya harta yang Saya punya. Tapi Saya sombong karena Saya punya cinta yang kalian para orang kaya tidak punya" Ucapku masih dengan nada keras.
__ADS_1
"Kamu pikir nasi bisa dibeli dengan cinta? Sampai kapanpun Saya tidak akan membiarkan Gerry bercerai dengan istrinya. Kamu bisa apa? Jadi istri kedua yang perlahan akan dia lupakan? Kamu hanya mainan baginya. Sadarlah.." Ucapnya sinis.
"Kalau memang Saya hanya mainan bagi Gerry, Anda tidak akan turun tangan sendiri untuk menghadapi Saya. Anda tau betul, bahwa Saya bukan orang lain bagi Gerry. Sampai kapanpun Saya akan mendampinginya, sampai Anda merestui Saya" Ku pelankan sedikit suaraku.
"Jangan mimpi untuk mendapatkan restu dari Saya" Ucapnya sambil beranjak berdiri.
"Saya sudah memperingatkan kamu untuk meninggalkan anak Saya. Jangan sampai Saya menggunakan cara kasar untuk memisahkan kalian" Ancamnya dan melangkahkan kaki meninggalkanku sendirian di cafe tempat kami bertemu.
Aku masih terhenyak sendiri di dalam cafe yang bahkan papa Gerry sudah meninggalkan cafe ini bermenit-menit yang lalu.
Apa aku terlalu keras? Bagaimana kalau papa Gerry menjadi semakin tidak suka padaku? Aku sedikit menyesali perkata'an ku tadi yang sedikit ketus.
Mimpi apa aku semalam? tiba-tiba saja setelah bekerja aku mendapat telfon dari papa Gerry yang meminta bertemu denganku saat itu juga. Aku tidak punya pilihan lain selain mengiyakan permintaannya. Padahal aku tahu betul apa yang akan terjadi saat kami bertemu.
Dan benar saja, persis seperti duga'anku. Orang kaya selalu menggunakan uang untuk menyelesaikan masalah. Apapun itu.
Ku hela nafasku perlahan dan beranjak meninggalkan cafe ini. Langkah-langkah beratku seperti tak ingin pulang. Kuputuskan untuk ke tempat Veronica. Aku butuh seorang teman curhat.
"Gila banget Mel... ini nol nya banyak banget.. udaaahhh.. tinggalin Gerry aja. Kita liburan keliling dunia berdua" Ujar Veronica ketika ku perlihatkan bukti transfer sejumlah uang dari papa Gerry.
Ku sentil keningnya gemas "Matre banget kamu kak.." Ucapku kesal.
"Jangan di balikin. beneran deh Mel... kapan lagi kamu bisa punya duit segini banyak?" Ujar Veronica masih berusaha mempengaruhiku.
"Plin-plan banget kamu kak... dulu kamu yang mojok-mojokin aku sama Gerry.. sekarang malah suruh aku ninggalin dia.. kamu beneran temen aku ga sih kak?" Aku mulai sewot.
Dia tertawa keras mendengarku merajuk "Becanda tau Mel... gitu aja di ambil hati" Ucapnya sambil berusaha memelukku.
Ku tepis tangannya yang hampir melingkari pundakku "Tega banget kamu kak... aku sampai frustasi gini lho, kamu malah becanda"
__ADS_1
"Iya... iya maaf. Tapi beneran deh Mel.. nol nya banyak banget" Candanya sekali lagi.
Ku pukul pelan pahanya "Dasarrrr....!!"
"Apa aku terlalu keras ya kak? saat menghadapi papanya Gerry? Aku sedikit menyesal. padahal aku pengen banget bisa mengambil hatinya" Ujarku pelan.
"Kalo menurut aku sih malah bagus kamu seperti itu. Jadi biar papanya Gerry tau kalau kamu bener-bener sayang sama Gerry. Sifat keras kamu itu malah menurut aku bagus banget. Itu kan berarti kamu punya pendirian" Ujar veronica menenangkanku.
"Gerry tau?" imbuhnya lagi.
Ku gelengkan kepalaku pelan "Aku ga akan kasih tau dia. Aku ga mau tambah membebani pikiran dia"
"Segitu sayangnya ya?" Ledeknya.
"Iya..." jawabku refleks.
Kami tertawa keras sampai orang-orang di sekitar kami melihat ke arah kami dengan tatapan heran.
"Amel ???"
Seseorang menepuk pundakku pelan. Aku berhenti tertawa dan terkejut melihat seseorang yang sekarang berdiri menjulang di hadapanku.
TBC
Jangan lupa Like dan komentarnya ya say....
selalu Author tunggu... 😍
Terima kasih poin nya...
__ADS_1
Terima kasih sudah mampirrr 💖💖💖