
.
.
.
.
.
.
(Jonathan POV)
Aku masuk ke dalam rumahku yang gelap. Tentu saja, karena ini hampir tengah malam. Aku langsung pulang sore tadi setelah mengucapkan selamat kepada Gerry dan Caramel yang telah resmi menjadi suami istri. Aku tidak ikut menginap di hotel dan memilih langsung terbang untuk pulang, karena pagi-pagi sekali aku harus menghadiri meeting bersama klien dari Singapura.
Aku berjalan perlahan menaiki tangga menuju kamar dengan pintu berhiaskan boneka pink di sebelah kamarku. Ku lihat Lily sedang tertidur pulas.
Rambutnya yang sedikit pirang karena gen yang kuturunkan padanya sedikit menutupi wajah lucunya. Ku benahi rambut yang sedikit berantakan itu. Aku tersenyum melihat bibir mungilnya yang sedikit mengerucut. Ku kecup keningnya dan dia sedikit menggeliat.
Wajahnya benar-benar mirip sekali denganku. Bahkan mata birunya pun sama denganku. Tentu saja, karena dia anak ku. Anak kandungku bersama dengan wanita yang menjebakku.
Aku keluar kamar dan ku tutup perlahan hingga nyaris tak bersuara. Aku berjalan ke kamarku dan ku dapati Jessy sedang meringkuk di ranjang kami. Wanita bodoh yang selalu diam, meskipun berulang kali ku sakiti.
Aku masih membencinya, sangat membencinya. Meskipun berulang kali dia meminta maaf atas perbuatannya. Dan benar-benar menjadi istri yang baik untukku, juga ibu yang baik untuk Lily. Tapi tetap saja, aku ingin menyakiti hatinya, karena dia telah memisahkanku dengan Bianca.
Ku guyur tubuhku di bawah shower air hangat, hingga kaca yang menampakkan wajahku mengembun. Ku usap perlahan hingga terlihat dengan jelas raut wajahku yang mengeras. mengingat perpisahanku dengan Bianca yang saat itu sangat membenciku karena aku menghamili wanita lain saat menjadi kekasihnya.
Aku tak bisa menahannya ketika dia meninggalkanku, karena aku harus bertanggung jawab pada Jessy yang saat itu tengah mengandung anakku. Bagaimanapun juga, aku tidak mau menelantarkan anak kandungku sendiri. Seberapapun aku begitu membenci ibunya.
Tapi akhir-akhir ini aku bisa sedikit melupakan Bianca. Karena kehadiran Caramel yang entah mengapa bisa masuk kedalam hatiku begitu dalam. Sifatnya yang terkesan misterius dan seperti menyimpan luka membuatku ingin selalu melindunginya.
Namun lagi-lagi aku kehilangannya, karena ternyata hatinya tak benar-benar memilihku. Ada orang lain yang di cintainya, yang ternyata malah sahabat baikku, Gerry. Aku bisa apa? Ku relakan mereka agar bahagia, dan memilih untuk kembali terluka.
__ADS_1
"Sudah pulang Jo? Maaf aku ketiduran" Ucapnya ketika melihatku sehabis keluar dari kamar mandi.
Dia mengambilkan baju tidurku dan meletakkannya di atas ranjang. Kemudian mengambilkanku segelas air jahe hangat dan di letakkan di atas nakas di samping tempat tidur.
"Minumlah, biar tubuhmu hangat dan tidak masuk angin" Ucapnya lagi namun tak ku gubris.
Aku langsung berbaring di ranjang dan memunggunginya. Sudah hampir 3th berlalu, namun aku tidak bisa begitu saja melupakan perbuatannya padaku.
"Maaf Jo.. Maafkan aku" Ucapnya lirih. Kalimat yang selalu dia ucapkan dan menjadi rutinitasnya sebelum aku memejamkan mataku.
Terkadang aku tidak tahan dengan permintaan maafnya yang selalu dia ucapkan tanpa henti. Karena seburuk apapun diriku, aku tetap punya hati. Dan entah mengapa, kali ini aku ingin membalas kata-katanya yang setiap kali selalu ku acuhkan.
"Jika kamu sudah tidak tahan hidup denganku, kamu bisa meminta cerai padaku" Ucapku masih dengan membelakanginya.
"Aku.. akan selalu mempertahankanmu Jo. Sekeras apapun kamu berusaha mendorongku keluar dari hidupmu. Seberapa sakit hatiku pun, aku akan tetap bertahan. Demi masa depan Lily" Ujarnya yang pelan-pelan mulai terisak.
Bukan sekali dua kali aku melihatnya menangis namun selalu saja ku acuhkan. Tapi kali ini, mengingat apa yang Gerry dan Caramel ucapkan tadi membuatku berpikir ulang.
Dia memelukku dari belakang "Karena aku tulus mencintaimu Jo. Tidak ada wanita lain yang bisa mencintai kamu sebesar cintaku untukmu"
"Bodoh!" Sautku masih sambil memunggunginya.
Aku tak menyingkirkan tangannya yang melingkar di pinggangku sepanjang malam. Kubiarkan bahkan sampai pagi saat aku terbangun, dia masih memelukku.
Pelan-pelan aku beranjak bangun dari tidurku tanpa membangunkannya. Ku singkirkan pelan-pelan tangannya. Tidurnya begitu pulas, terlihat dengan jelas matanya yang sembab meskipun mata itu sedang terpejam.
Kupandangi wajahnya yang sedang terlelap, Mata yang dihiasi bulu mata yang lentik. Hidung mancung dan bibir nya yang tipis. Jika terus di perhatikan, Jessy adalah termasuk wanita yang sangat menarik. Jika saja dulu dia tidak berbuat jahat, mungkin aku pasti akan jatuh pada pesonanya.
Aku segera membuang pikiranku tentang Jessy, mungkin karena perkataan Gerry dan Caramel yang terus terngiang di telingaku. Otak ku jadi seperti ada yang salah karena terus memikirkan Jessy.
Ku lirik jam yang tergantung di dinding, baru pukul 5 pagi. Saat aku akan bangkit berdiri, Jessy memegang tanganku.
"Beri aku kesempatan Jo, untuk masuk ke dalam hatimu secara perlahan" Ucapnya masih dengan suara parau.
__ADS_1
Saat aku menoleh dan melihatnya, entah apa yang membuatku kehilangan akal. Gaun tidur Jessy yang sedikit tersingkap dan memperlihatkan paha mulusnya membuatku menelan ludah. Dan wajahnya terlihat sangat cantik sekali pagi ini.
Dia terduduk di atas ranjang dan mendongak, menatapku dengan mata bulatnya "Aku akan menyerah, jika suatu saat nanti aku tetap tidak ada di hatimu"
Ku lepaskan tangannya yang masih memegang erat tanganku. Apa karena melihat Caramel sudah bahagia dengan Gerry, otak ku jadi bermasalah?
Ku tangkup wajah Jessy dengan kedua tanganku dan kucium bibirnya dengan hasrat yang entah datang dari mana. Untuk pertama kalinya aku menciumnya dan melum*t bibirnya dengan gairah yang tiba-tiba muncul saat melihat mata bulatnya yang sendu.
Terakhir kali aku menciumnya adalah saat dia menjebakku. Bahkan aku tidak pernah menyentuhnya sama sekali setelah aku menikahinya sampai sekarang. Aku sudah tidak memikirkan logika ku lagi sekarang. Yang ada hanya aku ingin mencumbunya dan melepaskan hasrat ini.
Ku dorong tubuhnya agar telentang, Dan aku menind*hnya. Ku buka perlahan bajunya dengan masih melum*t bibirnya. Pay*daranya menyembul indah saat ku buka pengait bra nya. Ku rem*s dan ku jil*t put*ngnya. Ku gigit sedikit hingga dia menggelinjang dan mendesah nikmat.
Matanya yang terpejam seakan menikmati permainanku membuatku ingin mengecupnya. Ku kecup seluruh wajahnya dan turun ke leher. Ku berikan Kissm*rk di sekitar lehernya dan juga pay*daranya.
Dia semakin menggeliat dan mendesah pelan dengan kedua tangan yang merema*s sprei. Aku sudah siap untuk melakukan pen*trasi. Namun entah mengapa rasanya sedikit sulit. Tentu saja, karena aku yang mengambil keprawanannya hingga dia hamil. Dan setelah menikahpun aku tidak pernah menyentuhnya. Juga saat dia melahirkan Lily, dia melahirkan secara caesar.
Ku dorong lebih keras lagi dan Jessy menjerit kesakitan. Ku bungkam mulutnya dengan bibirku yang kembali melum*at bibirnya agar tidak terasa begitu sakit. Namun tetap saja dia meracau saat aku kembali mendorongnya. Rasanya sangat sempit dan sangat nikmat. Keningnya berkerut menahan sakit yang mungkin masih di rasakan. Tangannya mencengkram punggungku setiap kali aku mendorongnya.
Tapi perlahan setelah terbiasa dia mulai menikmatinya. Mendesah dan merem*s rambutku. Pinggulnya mengikuti irama doronganku. Ku percepat doronganku karena sudah tidak tahan lagi. Dia menjerit-jerit karena permainanku yang sedikit kasar.
Aku tidak peduli, karena kamar ini kedap suara. Setidaknya jeritannya tidak akan membangunkan Lily atau terdengar oleh para pembantu di luar. Aku semakin mempercepat doronganku dengan di iringi jeritan dan desahan dari Jessy. Hingga aku merasakan nikmat yang sungguh sudah lama tidak kurasakan. Ku tekan lebih dalam lagi tubuhku ke tubuhnya. Ku keluarkan semuanya di dalam tubuhnya.
Aku mengerang nikmat dan jatuh ambruk menind*h tubuh Jessy dengan peluh yang membasahi tubuh kami. Juga deru nafas kami yang saling bersahutan.
Aku berguling ke samping Jessy. Di ambilnya sebelah tanganku dan dijadikan bantal kepalanya. Tangannya yang sebelah memeluk dadaku.
"Terima kasih Jo.. karena sudah mau membuka hatimu"
TBC
Like & Comment ya readers...
Terima kasih utk Vote dan Semangatnya 😘
__ADS_1