
.
.
.
.
.
.
.
Kulihat dari jauh Gerry melambaikan tangannya padaku. Aku sedikit berlari untuk menyusulnya. Ingin sekali aku memeluknya, meluapkan rindu yang 2 minggu ini sudah kutahan. Tapi aku malu karena ini bandara, tempat umum.
Sejak dia melamarku secara sederhana 2 minggu yang lalu, kami memang belum bertemu kembali. Dia harus segera kembali ke Jakarta untuk menyelesaikan tugas kantornya agar dia bisa mengambil cuti sedikit lebih lama saat kami menikah nanti.
"Jangan lari... Kaki kamu masih dalam proses penyembuhan. Mas ga mau kamu kenapa-kenapa lagi. Apalagi pernikahan kita sudah sangat dekat" Ujarnya dengan raut wajah khawatir.
"Udah ga sakit kok" Aku sedikit mundur saat dia akan memelukku "Ini tempat umum mas, ga enak kalo dilihat orang-orang"
Dia mencubit hidungku gemas "Mas ga peduli, yang mas lihat cuma kamu. Ga ada orang lain disini" Ujarnya jahil dan memelukku.
Ku dorong pelan dadanya dan ku gandeng tangannya "Jangan lama-lama mas, nanti dilihatin banyak orang. Antar aku ke hotel ya.."
"Kamu ga nginep di apartemen saja?" Ujarnya sambil merangkulkan sebelah tangannya ke bahuku dan yang satu membawakan koperku.
"Ga mas, takut khilaf kalo tinggal berdua sama kamu. Lagian kan aku cuma sebentar disini. Cuma 4 hari aja kok" Ucapku sambil berjalan pelan mengikuti langkahnya.
Dia berhenti dan menatapku bingung "Kenapa cuma sebentar?"
"Udah ada WO yang kamu sewa kan mas? Aku cuma perlu mencoba baju pengantinnya saja kan?" Ujarku tak kalah bingung.
Dia menghembuskan nafasnya panjang "Mas ingin memberikan pernikahan yang sempurna untuk kamu. Meskipun udah ada WO yang mengurusi semuanya, tapi Mas harus memastikan sendiri semuanya. Termasuk gedung, dekorasi, bunga dan makanan yang akan di sajikan nanti untuk para tamu. Mas ingin memastikan semuanya benar-benar sempurna. Dan mas ingin kamu juga membantu mas untuk memilih semuanya sesuai dengan apa yang kamu inginkan" Ujarnya panjang lebar.
"Kenapa malah kamu yang ribet mas? Aku aja ga seribet kamu kok. Yang penting itu kan aku sah jadi istri kamu" Ucapku sambil melanjutkan langkahku.
"Karena ini adalah pernikahan pertama mas bersama dengan orang yang sangat mas cintai. Apa mas terlalu berlebihan?" Ujarnya sedikit kecewa.
Kurangkul lengannya dengan manja "Baiklah.. Tapi aku tetep ga mau tinggal di apartemen sama kamu"
__ADS_1
"Kamu nginep di hotel juga kan sama aja sayang, mas juga bisa bebas nginep dan datang kapan aja" Ucapnya sambil membuka bagasi mobil untuk meletakkan koperku.
Aku sudah menunggu dan duduk di depan samping kemudi "Jangan macem-macem mas.." Aku mengingatkan.
"Iya.. iya.. kalo mas ga khilaf" Ucapnya jahil.
Kucubit pinggang nya yang sedang sibuk memasang seatbelt "Becanda mulu kamu mas.."
Dia hanya tertawa dan menjalankan mobilnya menuju hotel tempatku menginap untuk sementara ketika aku berada di Jakarta.
"Kamu nginep di apartemen aja ya... Biar mas pulang ke rumah aja" Ujarnya sambil memperlambat kecepatan mobilnya.
"Rumah papa sama mama" Ralatnya agar membuatku tak salah paham.
Aku tersenyum kecil "Kamu ga pa-pa?"
"Iya.. lagian lebih aman di apartemen dari pada di hotel" Ujarnya yang tampak khawatir.
"Sama ga aman nya juga sih... kalo kamu maksa nginep nanti" Gurauku.
"Itu juga kan kalo di ijinin sama kamu, kalo enggak juga mas masih maksa" Candanya sambil masih tetap fokus.
"Siap nyonya..." Sahutnya yang terdengar seperti sopir.
Ku pandangi wajahnya yang tampak sumringah. Laki-laki inilah yang sudah bersusah payah memperjuangkanku yang tidak ada apa-apa nya ini. Laki-laki inilah yang akhirnya ku pilih untuk mendampingiku dan menemaniku sampai kami tua nanti. Laki-laki bermata hazel indah inilah yang ingin ku habiskan sisa hidupku dengan nya. Gerry Sbastian Soewirdjo.
***
Ku buka mataku sedikit karena kurasakan ciuman bertubi-tubi di wajahku "Masih ngantuk mas... bentar lagi ya"
Aku kembali memejamkan mataku namun dia kembali menjahiliku dengan mencium seluruh wajahku.
"Udah mas.. nanti kebablasan" Ku dorong wajahnya dari wajahku dan terbangun.
"Sudah hampir sore sayang... kita sudah janji mau ketemu WO nya jam 4 lho" Ujarnya mengingatkan.
"Kita juga kan harus fiting baju pengantin juga..." imbuhnya lagi.
Kulihat dia yang sudah mandi dan berganti baju "Ya sudah, aku mandi dulu"
Dia mengekoriku ketika aku beranjak ke kamar mandi "Kenapa?"
__ADS_1
"Ikutan mandi" Jawabnya usil.
Ku dorong dia keluar dari kamar mandi dan menutup pintunya "Halalin adek dulu bang..." Candaku dari dalam kamar mandi.
***
"Saya Jasmine dan ini asisten Saya Rossi. Kami adalah WO yang akan menyiapkan pernikahan kalian sesuai dengan yang kalian inginkan" Ucap Jasmine sambil berdiri menyalami kami.
"Saya Gerry dan ini calon istri Saya Caramel" Ucap Gerry juga memperkenalkan diri.
Kami duduk dan memesan minuman kepada waiters. Ku lihat Jasmine menatapku tanpa canggung.
"Calon pengantin wanita nya sangat cantik. Pasti nanti akan menjadi pusat perhatian banyak orang ketika kalian menikah nanti" Pujinya tanpa basa-basi.
"Terima kasih.." Jawabku canggung.
"Karena itu, tolong bantu kami agar pernikahan kami menjadi moment yang tidak akan terlupakan seumur hidup kami" Ujar Gerry menimpali.
"Tentu, serahkan kepada kami. Kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk kalian" Ujar Jasmine yakin.
Dan seterusnya kami membahas tentang gedung yang akan di gunakan untuk acara resepsi pernikahan kami, juga bentuk dekorasi yang kami inginkan, pembawa acara yang akan memandu acara, makanan dan minuman yang di sajikan dan lain sebagainya.
Ku lihat Gerry begitu antusias mendengarkan Jasmine, dan Rossie mencatat semua yang kami inginkan. Sesekali Gerry bertanya padaku tentang apa saja yang ku inginkan meskipun aku lebih sering ikut pendapatnya.
"Baiklah, Saya sudah berbicara dengan pemilik salon kalau kalian mau datang. Kalian bisa kesana untuk mencoba baju pengantinnya dan mengirimkan kepada Saya baju yang kalian pilih nanti" Ujar Jasmine mengakhiri sesi pertemuan pertama kami.
"Sekali lagi terima kasih karena sudah mempercayakan pernikahan kalian kepada Saya" Imbuhnya lagi dan berdiri.
Aku dan Gerry ikut berdiri dan menyambut uluran tangan Jasmine dan Rossie. Kemudian mereka pergi meninggalkan kami yang juga sudah akan beranjak pergi meninggalkan restoran tempat kami bertemu.
Saat aku mengambil tas yang ku letakkan di atas meja tadi, seorang wanita memanggil Gerry dan memeluknya begitu saja.
"Gerry... apa kabar?"
TBC
Jangan Lupa Like,komen,Kritik,Saran dan celotehan nya ya Gaeesssss...
Terima kasih untuk Vote nya...
Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca novel ini 😘😘😘
__ADS_1