Wanita Penggoda

Wanita Penggoda
Sadar


__ADS_3

.


.


.


.


.


.


Ku buka mataku perlahan, sedikit demi sedikit terasa silau saat cahaya memasuki mataku. Wajah yang pertama kulihat adalah wanita tua yang sedang menangis tersedu-sedu yang sedang menatapku. Ibu?


"Syukurlah kamu sudah sadar nduk.." Ucapnya di iringi isak tangis.


"Aku akan panggilkan dokter" Ucap seseorang yang kemudian berlari keluar kamar. Samar-samar aku seperti mengenali punggung itu. Kak Surya?


Ku sapukan pandanganku ke seluruh penjuru kamar dan mendapati Bapak dan juga Valley yang sedang menatapku haru.


Ku gerakkan lengan kananku hendak duduk namun kepalaku terasa sangat pusing. Juga tangan kiri dan kaki kiriku sedikit kaku. Ku lirik sekilas dan kudapati tangan kiri juga kaki kiriku di balut perban.


Ah, aku ingat apa yang terjadi padaku sekarang. Waktu itu aku berjalan di trotoar dekat minimarket tempatku bekerja. Aku meninggalkan Kirana dan Mas Reyhan yang sedang bertengkar.


Lalu tiba-tiba saja ada yang mendorongku, tapi aku refleks memegang baju orang itu dan kami jatuh bergulingan di Aspal. Dan tiba-tiba saja semuanya menjadi gelap. Jadi, aku benar-benar mengalami kecelakaan?


Seorang dokter bergegas masuk kamar tempatku di rawat dan memeriksaku. Syukurlah, tidak ada hal buruk yang menimpaku. Selain tangan dan kakiku tentunya. Kepalaku juga baik-baik saja. Tak ada cedera yang serius yang membahayakan.


Setelah dokter pergi, Gerry memasuki kamar bersama Aslan. Tapi Valley dengan sigap mengambil alih Aslan, saat ibu mengatakan ingin berbicara dengan Gerry dan mengajak Gerry keluar kamar.


Kulihat punggung Gerry yang semakin menjauh, dia berbalik sebentar dan menatapku. Seakan mengatakan bahwa dia baik-baik saja dengan pandangan matanya. Lalu membuka pintu dan menghilang di balik nya.


Ada apa?

__ADS_1


Ibu tidak seperti biasanya yang mudah tersenyum kepada orang lain.


"Mama tatit?" Sapa Aslan yang tau-tau sudah duduk disebelahku dengan di pangku Valley.


Aku mengangguk lemah "Iya sayang.."


"Mama nda bica dendong Alan dong?" Tanyanya sambil mengamati tangan dan kaki kiriku yang berbalut perban.


"Nanti sebentar lagi mama sembuh sayang.." Ucapku menenangkannya karena raut wajahnya tampak seperti ingin menangis.


Ku elus rambutnya dengan tanganku yang sebelah "Mama baik-baik saja sayang.." Aku kembali menenangkannya dan di balas dengan anggukannya.


"Syukurlah kamu sudah siuman nduk.." Ucap bapak dengan raut wajah sedih yang kentara.


Aku kembali mengangguk pelan "berkat doa kalian semua" Ucapku sambil mengamati bapak, Valley dan Veronica karena kak Surya sedari tadi sibuk mengekori dokter yang memeriksaku.


"Kalian kok bisa tau aku kecelakaan, siapa yang ngabari Val? kamu juga kok bisa ikut kesini?" Tanya ku pada Valley yang sedari tadi hanya diam.


"Makasih Vall..." Ucapku lirih.


"Pusing?" Tanyanya yang terlihat khawatir karena melihatku memegangi kepalaku.


"Sedikit" Jawabku singkat namun ku ulas sebuah senyuman menenangkannya.


"Kak Ver siapa yang kasih tau kamu?" Tanyaku pada Veronica yang sedari tadi berdiri di belakang Valley.


"Aku ajak jalan-jalan Aslan aja ya.. kalian ngobrol saja" Pamitku dan beranjak berdiri.


"Duduklah" Perintah Valley pada Veronica yang dijawab dengan anggukannya. Kemudian Valley dan Aslanpun menghilang di balik pintu. Begitupun dengan Bapak yang berpamitan untuk pergi ke toilet.


"Gerry yang ngabari aku Mel.. Aku kuatir banget sama kamu. Syukurlah kamu siuman.." Ucapnya dengan air mata yang tampak menggenang di pelupuk matanya.


"Jangan nangis Kak... Sekarang kan aku baik-baik saja" Ucapku dengan mengusap-usap tangannya.

__ADS_1


Dia mengangguk pelan "Setidaknya ga ada hal fatal yang menimpa kamu"


"Apa yang mendorongku dan jatuh bersamaku ke jalanan hingga tertabrak mobil adalah Kirana kak?" Tanyaku hati-hati karena takut salah.


"Benar.. Dia yang mencelakaimu" Ujarnya menggertakkan gerahamnya.


"Dia benar-benar jahat" Ucapku menahan emosi yang memenuhi rongga dadaku "Lalu gimana keadannya kak?"


"Kamu masih penasaran sama bagaimana keadaan wanita jahat itu?" Tanya Veronica yang ikut emosi.


"Dia baik-baik saja, hanya tangan kanannya yang cedera" Imbuhnya lagi.


"Bilang sama Gerry Kak, ada CCTV di pojokan minimarket yang mengarah ke jalanan dimana kami mengalami kecelakaan. Itu bisa jadi bukti kalo Kirana berusaha mencelakaiku" Ucapku pada Veronica yang terlihat masih menahan amarah.


"Ya.. nanti aku bilangin ke Gerry juga sekalian nyuruh dia pulang untuk mandi. Dia nungguin kamu dan ga kemana-mana dari kamu lagi di operasi sampai kamu dipindahkan ke kamar ini. Berantakan banget dia" Ujarnya tak habis pikir.


"Aku takut Ibuk marah-marah sama Gerry Kak. Karena sedari awal aku ga bilang soal status Gerry yang belum cerai sama Kirana. Apalagi, Ibuk pasti udah tau karena aku dan Kirana kecelakaan" Ujarku khawatir.


Aku dan Veronica sama-sama menoleh saat seseorang membuka pintu. Ku dapati Ibu dengan mata sembab berjalan ke arah ku.


"Mulai sekarang kamu tidak boleh bertemu dengan Gerry"


TBC


Jangan Lupa Like, Komen, Kritik dan Sarannya ya.... 😍


Terima kasih untuk Vote nya..


Terima kasih untuk antusias kalian..


Maaf atas keterlambatan Up nya.. Karena Author sedang pergi liburan hari minggu kemaren.. Meskipun ga jauh² tapi cukup untuk refresh pikiran yang lagi semrawut 😅


Terima kasih sudah mampir 💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2