Wanita Penggoda

Wanita Penggoda
One Step Closer


__ADS_3

.


.


.


.


.


.


"Hai cantik.. gugup ya?" Sapa Veronica yang sekarang sedang berdiri menjulang di hadapanku.


Aku menganggukkan kepalaku "Bahkan lebih gugup dari saat ijab kabul kemaren kak.."


"Harusnya aku dateng waktu itu.." Ucapnya cemberut.


"Doa dari kamu aja udah lebih dari apapun kak..." Ujarku sambil mengambil tangannya dan ku ajak duduk disampingku.


"Perjuangan kalian akhirnya berbuah manis, aku ikut bahagia.. Karena aku tau, Gerry laki-laki terbaik yang ga akan nyakitin kamu" Setitik air mata turun di wajahnya.


"Mengingat betapa susah payahnya hidup kamu, pernikahan ini adalah hadiah terindah dari Tuhan untuk kamu.." Imbuhnya lagi.


"Dan hal yang juga paling aku syukuri adalah mempunyai sahabat dan saudara seperti kamu kak... yang mau menemani aku saat aku sedang bersusah payah dalam hidupku" Ucapku dengan memeluknya.


Ku lolos kan air mata yang sudah ku tahan sedari tadi, Veronica memang tau semuanya tentangku. Bagaimana aku harus berjuang melawan rasa sakit yang selalu menghantuiku.


Nasehat-nasehat nya yang lebih sering ku abaikan, namun dia tetap memelukku saat aku menangis karena teringat luka ku. Dan membantuku mengatasi setiap masalah yang terkadang sulit untuk ku selesaikan sendiri.


"Jangan nangis, nanti make up kamu luntur" Guraunya berusaha menghiburku.


"MUA terkenal ga mungkin sejelek itu kan kak?" Aku membalas gurauannya.


Veronica mengambil tisu dari dalam tasnya dan menghapus air mataku "Kamu harus jaga kecantikan kamu, karena sekarang semua mata akan tertuju padamu"


"Aku jadi gugup lagi kak.." Ujarku sedikit berbisik.


"Gugup kenapa sayang?" Tanya mas Gerry yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan tempat aku menunggu acara di mulai.

__ADS_1


Setelan jas putih yang dikenakan mas Gerry benar-benar membuat siapapun yang melihatnya akan takjub. Badan tegap dan dada bidangnya tercetak dengan jelas di balik jas nya.


"Kenapa kamu gugup?" Ulangnya lagi.


"Aku takut membuat kesalahan dan mempermalukanmu di depan semua tamu undangan mas.. apalagi tamu papa yang kebanyakan rekan bisnisnya.." Ucapku setengah menunduk.


"Kan ada Mas.. kamu cukup tersenyum kepada siapapun.. kepada semua orang yang bahkan kamu ga kenal.. Mas kan selalu ada di samping kamu" Ujar mas Gerry meyakinkan.


"Aku malu, aku hanya wanita biasa yang.."


"Tapi mas mencintai kamu, mas memilih kamu.. ga usah dengerin perkataan orang lain yang ga enak di denger. Biarin aja.. Kalo kamu nanti lihat bagaimana papa begitu posesifnya sama Aslan, dan mengenalkan Aslan ke semua temannya, orang-orang pasti berpikir kalo Aslan adalah anak kandung mas. Jika papa aja segitu bahagianya, kenapa kamu harus gugup?" Ujarnya dan mengusap pipiku pelan.


"Angkat dagu kamu Mel.. kebahagiaan kamu bukan orang lain yang menentukan. Jangan gugup, jangan pesimis" Ucap Veronica ikut menyemangati.


Aku mengangguk yakin. Ku ambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Mereka benar, tidak perlu merasa kecil di hadapan orang lain yang belum tentu hidup mereka lebih bahagia dari kita.


"Ayo keluar, semua tamu sudah hadir" Ucap Gerry yang beranjak berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.


Di genggamnya tanganku dan di arahkan untuk menggandeng sebelah tangannya yang sudah tertekuk.


"Kamu sangat cantik sekali sayang.. Kamu berhasil menjadi yang paling bersinar di pesta ini" Puji mas Gerry yang sukses membuat pipiku merona merah.


Gaun pengantin sederhana namun tetap elegant yang dipilihkan mas Gerry, yang senada dengan jas yang sekarang dipakainya pun menambah rasa kepercayaan diriku.


"Aku turun lewat belakang ya.." Pamit Veronica pada kami yang memecahkan lamunanku "Jangan gugup lagi.. Oke" ujarnya lagi.


"Pasti kak.." Ucapku yakin.


Saat kami keluar dari ruangan dan berjalan menuju sebuah anak tangga yang sudah di pasang sebuah karpet bludru merah, Kilat cahaya dari fotografer terasa menyilaukan. Aku kembali gugup.


"Tenang sayang.. Cukup tersenyumlah.. maka semua akan baik-baik saja" Bisik Mas Gerry yang seperti tau kegugupanku.


Namun saat mataku menatap bunga-bunga yang menghiasi setiap anak tangga, juga mencium harumnya yang semerbak membuat debar jantungku tidak secepat tadi.


Saat kami berhasil menuruni anak tangga yang langsung menuju ke tempat pelaminan kami, semua mata tertuju kepada kami dan bertepuk tangan dengan riuh.


Aku mengedarkan pandanganku dan melihat pemandangan yang sangat menyejukkan hatiku. Benar dengan apa yang di ucapkan mas Gerry, Aslan begitu akrab dengan papa hingga seperti tak mau lepas dari papa.


Acara demi acara terlewati tanpa kendala apapun. Dan yang terakhir adalah acara sungkem dan foto bersama. Juga memberi selamat kepada pengantin.

__ADS_1


Namun setelah acara sungkem berlalu, papa meminta ijin kepada pembawa acara untuk berbicara sebentar. Kami tau, apa yang akan di bicarakan papa. Karena sudah pernah kami bahas sebelumnya saat dulu kami belum menikah.


Suasana berubah hening saat dengan begitu gamblangnya papa menyatakan bahwa SS grup akan diteruskan oleh mas Gerry yang merupakan satu-satunya penerus keluarga 'Soewirdjo'.


Tentu saja papa belum mundur sepenuhnya, karena nanti masih akan terus di pantau oleh papa. Papa juga memohon kepada rekan-rekan bisnisnya agar mau percaya kepada kemampuan mas Gerry yang sudah terlatih bekerja dari bawah tanpa ada yang mengetahui, bahwa mas Gerry adalah anak dari pemilik perusahaan. Hingga mereka memperlakukannya seperti karyawan biasa tanpa keistimewaan apapun.


Suara tepuk tangan menggema di seluruh penjuru gedung. Banyak yang kagum dengan cara papa mendidik mas Gerry yang mau memulai mempelajari perusahaan dengan mulai menjadi karyawan magang hingga dia mencapai posisinya sekarang.


Dan saat acara memberikan selamat kepada kedua pengantin, banyak dari tamu undangan mas Gerry yang berasal dari perusahaannya terlihat kikuk menghadapinya.


"Bersikaplah biasa saja.. Saya jadi ga enak gini" Ucapnya lebih dari 100 kali kepada setiap karyawan perusahaan yang terlihat lebih hormat lagi kepadanya.


Aku hanya bisa menahan senyum saat melihat mas Gerry yang terlihat tak enak hati saat bersalaman dengan karyawan-karyawan dari perusahaannya.


***


Mas Gerry tak henti-hentinya mencium bibirku dan melum*tnya hingga aku kehabisan nafas.


"Bibir kamu ga pegel mas? Seharian senyum sambil ngomong kata-kata yang udah kayak mantra itu sama setiap karyawan di perusahaanmu?" Ujarku masih dengan nafas tersenggal.


"Justru ini obatnya, kalo ga di obatin nanti bisa bengkak" Ujarnya yang kembali mencium bibirku lagi.


"Bisa banget bikin alesan" Cibirku saat berhasil lepas dari ciumannya.


"Mumpung malem ini Aslan tidur dirumah papa" Ujarnya lagi dan menind*h tubuhku.


"Pokoknya, mas ga akan biarin kamu tidur malem ini. Mas pengen punya anak kembar. Makannya tiap ada kesempatan, kita harus lembur" Ucapnya yang kemudian mulai mencumb*ku.


"Plis deh thor.. harusnya judulnya bukan 'one step closer' tapi 'malam kesekian yang melelahkan'.." Ujar Caramel yang menghujat Author dalam hati.


TBC


Like & Comment plisss..


Makasih utk Vote dan semangatnya...


Dalam grup chat Author sudah pernah Author katakan jauh-jauh hari sebelumnya ya, kalo novel ini akan segera tamat. Ada yang minta dipanjangin juga, tapi Author menolak. Takut jadi bosen karena kebanyakan konflik 😁


Tinggal beberapa episode menuju Ending, smoga endingnya ga mengecewakan ya nanti.. Jangan berharap ada season 2 nya. Karena Author ga suka pake season 2 atau season 3.. Maaf ya ☺

__ADS_1


__ADS_2