
"Keren" Karin menggumam dalam hatinya tapi mata Karin tak henti memandang Riko yang sedang bermain gitar.
Iya....., Riko jelas-jelas membawakan lagu itu khusus untuk Karin, siapa diantara teman-teman alumni mereka yang tidak tahu tentang hubungan mereka, dan keromantisan Riko terhadap Karin, bagaimana Riko selalu menjaga Karin dari gadis-gadis penggemar Riko semasa di SMP dulu.
Disisi lain Alex sangat geram, Alex sungguh tidak menyukai pemandangan ini, lagi-lagi Alex terluka oleh Karin dan Riko yang selalu berbalas perasaan meski tak berbicara, tapi jelas sekali hanya dengan pandangan dan saling melempar senyum, itu malah membuat mereka terlihat menghayati setiap kenangan mereka. Alex sungguh tidak tahan lagi, lagi-lagi dia harus jadi pecundang diantara mereka berdua.
Padahal betapa Alex sangat menyukai Karin, hingga saat ini dia pun masih sendiri, tapi Alex tidak bisa berbuat apa-apa, jika dia pergi saat itu juga, akan terlihat jelas rasa cemburu nya pada mereka berdua. Akhirnya dia pun terpaksa tetap duduk diam menahan rasa gundah dihatinya.
Lain halnya dengan Brian, dia malah semakin ingin menggoda Karin.
"Waw.... keren permainan yang bagus" puji Brian sambil bertepuk tangan pelan, sehingga Riko menghentikan permainan nya.
"Yes, berhasil" gumam Brian dalam hati, larena dia.memang berniat menghentikan permainan gitar Riko, agar Karin tidak lagi fokus pada Riko.
"Terimakasih" ucap Riko sambil tersenyum manis.
"Gila, ternyata dia memang sangat tampan" gumam Brian dalam hati.
"Sama-sama bang, aku hanya memuji yang memang patut untuk dipuji, tapi sayangnya genre musik aku dan abang beda, hehhee" ucap Brian pada Riko.
"Memang kamu genre musik nya apa dek?" tanya
Riko.
"Aku suka lagu Peterpan bang" jawab Brian bangga.
"Wah boleh tu, riques dong" ucap Riko santai.
Iya Riko lebih dewasa dalam bersikap , meskipun dia tahu sebenarnya Brian tidak menyukainya, tapi Brian terlihat mengaguminya. Riko hanya tersenyum manis. Brian lalu mengambil gitar dari tangan Riko, dan mulai bernyanyi, sayang walaupun Karin mengikuti alunan musik Brian, tapi masih saja melirik ke Riko sesekali dan tersenyum manis sekali.
Brian kesal dengan pemandangan ini. tanpa disadari dia memetik tali gitar terlalu keras hingga tali itu putus dan membuat tangannya sedikit perih.
"Aw...". Suara Brian yang kesakitan sontak membuat Karin Kaget.
__ADS_1
Karin lalu langsung berdiri menghampiri Brian.
"Kamu ngak papa dek? sakitkah? yang mana yang sakit dek? sini kak obati!", Wajah Karin sungguh terlihat sangat khawatir, dan dia hampir saja menangis melihat punggung jari Brian terluka terkena senar tali yang putus.
"Kamu gimana sih mainnya? kok bisa kek gini? biasanya kamu nggak pernah terluka" ucap Karin cemas.
"Harus kah?" ucap Brian pelan.
"Ya?" tanya Karin heran menatap Brian sambil mengangkat satu alis nya.
"Haruskah aku terluka dulu baru kakak melihat kearah ku?" tanya Brian pelan dan sedih, serta sambil menundukkan kepalanya ke bawah, untuk menyembunyikan matanya yang berbinar karena sedih. Riko melihat saja sambil termenung, dan yang lain tidak terlalu menanggapi, karena mereka sibuk dengan lawan bicara masing-masing.
"Maaf, maaf kan kakak sayang" ucap Karin pelan, Brian merasa senang Karin mengucapkan itu.
"Kakak terlalu asyik sendiri, hingga kakak lupa untuk tetap selalu melihat kearahmu adekku, maaf kan kakak manjah sayang" ucap Karin lagi.
Riko menyaksiakn pemandangan yang tak wajar rasanya, bagaimana mungkin? Karin? siapa sebenarnya pemuda bocah ini? kenapa Karin begitu aneh dan bersikap seolah-olah seperti kekasih yang melakukan kesalahan pada pasangnnya?.
Tidak... tidak mungkin mereka punya hubungan spesial, karena pemuda itu masih bocah sekali, apa yang ada dipikiran Karin, bukankah dia sudah bersuami? lalu apa perasaan dan perhatian yang diberikan Karin kepadanya belakangan ini?. Ada apa denganmu Karin? tanda tanya besar dalam kepala Riko. Lalu Alex yang hanya menyaksikan dari tadi mendekati Riko lebih dekat lagi.
"Aku pernah memergoki mereka makan berdua sambil senyum-senyum layaknya pasangan" ucap Alex lagi.
"Benarkah? lalu apa arti pernikahannya? dan apa arti perhatiannya padaku?" gumam Riko dalam hati.
"Wanita seperti apa kamu Karin?" iya, tidak ada perubahan padamu Karin, sama sekali tidak. Dari dulu bahkan hingga sekarang kamu tetap wanita penggoda, kamu terlalu ramah pada semua lelaki, hingga kami para lelaki tidak bisa mengerti apakah ini cinta atau apa.
Kamu masih sama Karin, kamu membuat aku tidak bisa bertahan dengn pemandangan ini. Dia pikir Karin menganggap dirinya spesial makanya dia datang, dia pikir Karin tidak bahagia dengnan suaminya, karena Karin membalas perasaan rindu Riko saat Riko mengutarkannya.
Ternyata Riko salah, dia memang begini, dan tidak pernah berubah, bahkan dulu pun dia mampu membuat aku bersaing dengan sahabat dekatku sendiri untuk berada disisinya, karena sahabat Riko, Alex..., salah paham juga dengan sikap Karin. Riko kesal lalu bangkit dari duduknya.
"Maaf Karin, aku harus balik," Karin lalu melihat ke arah Riko, ternyata wajah Karin masih terlalu sedih, padahal bocah itu hanya terluka sedikit, segitu pedulinya kah dia pada bocah itu? Riko mulai muak, lalu langsung berpaling.
"Iya ..... maaf ya ko" Karin berdiri meninggalkan Brian sebentar sambil melihat dengan tersenyum pada Brian.
__ADS_1
"Maaf ya, suasananya jadi nggak enak" Riko lalu melihat Karin dengan tajam
"Karin" panggil Riko lagi.
"iya" jawab Karin singkat
"Kuharap ini terakhir kalinya kita bertemu" ucap Riko.
Surrrr darah Karin lngsung berdesir, "kenapa?" Karin terhenti bertanya sebelum dia melanjutkan.
Suaminya pulang , iya... mas Sandi baru saja sampai, Karin melihat suaminya mas Sandi memarkir mobilnya.
"Baiklah", hanya itu yang bisa Karin ucapkan, Riko lalu berlalu pergi. di parkiran dia bertemu dengan suami Karin.
"Bang..., pulang dulu ya bang" ucap Riko.
Lo kok cepat? emang udah pada bubar?" tanya mas Sandi pada Riko.
"Nggak bang, cuma saya sudah ada janji dengan yang lain juga" jawab Riko.
"O.... ok kalau begitu, makasih ya sudah berkunjung" ucap mas Sandi kemudian, lalu masuk ke kafe.
"Malam semua" sapa suami Karin dengan ramah.
"Saya Sandi suami Karin, maaf saya baru pulang kerja jadi tadi tidak bisa bergabung" Sandi tersenyum manis pada semua.
"Malem , nggak apa-apa bang" kata salah satu teman Karin.
"Ok kalau begitu silahkan lanjutkan , soalnya saya mau istirahat dulu, nggak papa kan?" tanya Sandi lagi.
"Nggak papa kok bang, silahkan" jawab salah satu teman Karin lagi.
Mas Sandi lalu melirik ke Brian, "mas istirahat dulu ya Brian" ucap mas Sandi pada Brian.
__ADS_1
"Ok mas selamat istirahat" jawab brian. Mas Sandi lalu masuk kekamar dan diiringi oleh Karin dari belakang. Sebelumnya Karin melihat dulu ke arah Brian, sambil berbisik dengan isyarat, "ntar ya " senyum Karin ke Brian, dan yah apalagi? tentu saja Brian tersenyum puas. Karena bagi Karin dia masih prioritas pertama setelah mas Sandi.