
.
.
.
.
.
.
Kata-kata mas Reyhan masih terngiang ditelingaku. Bahkan aku sampai tidak bisa tidur hingga selarut ini. Atau ini sudah pagi?
Ku balik badanku untuk melihat jam dinding yang semula ku punggungi. Ternyata memang sudah pagi. Tepatnya pukul 2 dini hari.
Dan masih saja, perkataan mas Reyhan masih jelas terngiang di telingaku. Berputar berulang-ulang kali seperti tak mau lepas dari pikiranku.
Aku memang belum begitu mengenal Gerry. Bahkan keluarganya pun aku tak tahu. Yang aku tahu hanya dia anak tunggal. Selebihnya aku benar-benar tidak tahu apa-apa tentang dia.
Tapi hatiku selalu meyakinkanku, bahwa Gerry benar-benar tulus mencintaiku. Bukan untuk mempermainkanku. Walaupun sejujurnya masih ada setitik ragu. Tapi aku selalu menepisnya. Karena yang kurasakan dia berbeda. Sangat berbeda jika dibanding dengan lelaki manapun yang pernah bersamaku.
Tapi apa cukup? hanya dengan cinta Gerry padaku? lalu keluarganya? Bagaimana kalau mereka tidak bisa menerimaku? Apalagi Gerry dan Kirana dulu di jodohkan. Pasti keluarga Gerry menginginkan sosok sempurna seperti Kirana untuk mendampinginya. Sedangkan aku?
Aku yang semula begitu yakin kini mulai ragu lagi dengan hubungan kami.
Tidak ada jalan lain. Aku harus kembali ke Jakarta. Demi untuk membuat semua keraguanku pada hubungan kami ini hilang. Dan jika benar Gerry bersungguh-sungguh padaku, aku akan mendampinginya untuk berjuang.
Kulirik lagi jam dinding di kamarku. Sudah hampir pagi. Sayup-sayup aku mendengar adzan subuh berkumandang baru aku bisa terlelap. Setelah lelah dengan pikiranku sendiri.
****
"Kamu beneran mau balik ke ibukota lagi Mel?" tanya ibu padaku ketika kami sedang makan siang bersama.
"Iya buk..." Jawabku yang baru saja menyuapkan makanan ke dalam mulutku.
"Katanya kamu sudah tidak ingin kembali lagi?" Tanya ibu lagi.
"Kebetulan di tawarin temen buk, buat jaga toko yang baru saja dia buka. Gajinya lumayan dan kerjanya santai" Kilahku mencari-cari alasan yang tepat.
__ADS_1
"Terserah kamu saja nduk, Ibuk cuma bisa mendoakan saja" ucap ibu kalem.
"Nanti aku bakal bisa pulang lebih sering kok buk.. ga seperti pas kerja di perusahaan kemarin. Nunggu libur panjang baru bisa pulang" Ucapku sambil mengelap mulut Aslan yang belepotan kecap.
Lalu suara dering ponselku bergema memenuhi ruang makan kami yang menyatu dengan dapur. Ku ambil ponselku setelah menitipkan Aslan yang sedang belajar makan sendiri tanpa harus di suapi dan beranjak menuju kamar untuk menerima panggilan telfon yang sudah berdering sedari tadi.
"*Kamu dari kemarin kenapa ga balas pesan mas sayang?"
"Maaf mas"
"Kamu ga kenapa-kenapa kan?"
"Sedikit pusing dari kemarin mas, tapi sekarang udah mendingan"
"Sekarang udah enakan? Udah di kasih obat kan?"
"Iya udah mas.."
"Mas kangen sama kamu.. kamu kapan kesini?"
"Belum tau mas.."
"Iya.. kangen"
"Sebenernya ada apa Mel? kamu ga seperti biasanya. Katakan sama mas, apa yang mengganggu pikiranmu"
"Ga ada mas"
"Apa mas harus nyusul kamu sekarang? biar kamu mau ngomong sama mas ada apa?"
"Beneran ga ada apa-apa mas.."
"Bahkan dari nada bicara kamu pun mas bisa ngrasain ada yang beda Mel*.."
Setetes air mata jatuh melewati pipiku. Aku tidak bisa mengendalikannya. Begitupun perasaanku, rasanya sulit untuk kutahan. Dan rasanya sangat menyesakkan.
Perkataan mas Reyhan terus berulang-ulang memenuhi pikiranku. Menjadikan sedikit jarak antara aku dan Gerry. Dan dia menyadarinya..
"Kamu seperti lagi menghindari mas.."
__ADS_1
Ku tekan dadaku yang sesak karena menahan tangis yang tak juga reda.
"*Kamu nangis?"
"Mas ga akan maksa kamu untuk cerita sama mas tentang apa yang mengganggu pikiranmu. Tapi tolong Mel, lebih terbukalah sedikit sama mas. Berbagilah sama mas. Jangan kamu pendam sendiri. Sekecil apapun masalah itu, mas selalu ingin ambil bagian dalam menyelesaikannya. Apakah permintaan mas terlalu berlebihan? atau, kamu masih meragukan Mas?"
"Engga mas, aku ga pernah meragukanmu. Cuma terkadang, aku ga mau menyusahkan kamu. Pekerjaan kamu saja sudah cukup membuat kamu pusing. Aku ga mau menambahnya lagi"
"Mas bahkan lebih pusing lagi kalo kamu punya pemikiran kaya gitu. Mas jadi kayak laki-laki yang ga bisa di andalkan"
"Kamu ga seperti itu mas.."
"Berjanjilah sama mas sayang... mulai sekarang kamu akan lebih terbuka sama mas"
"Biasanya juga aku terbuka sama kamu mas, kalo kita lagi berdua saja*"
Aku mencoba bergurau untuk mencairkan suasana yang tegang sedari tadi.
"*Bukan itu yang mas maksut, kamu jangan godain mas deh... "
"Besok sore aku berangkat dari sini mas.."
"Kemana?"
"Nyusul kamu, kangen"
"Hah*?"
TBC
Jangan lupa LIKE ya buat yang udah baca...
Komentar kalian yang mulai berkurang membuat Author jadi down...
Kasih Author semangat dong.... 😋
Terima kasih sudah mampir...
pantengin terus yaaaaakkk 💖💖💖
__ADS_1