
Karin tidak menyngka, waktu begitu lama rasanya berlalu, ya.... dia sedang menunggu kedatangan Brian , Brian bilang kepada Karin bahwa dia bakalan datang ke kafe Karin hari ini, tapi sayang, udah hampir malam tapi Brian nggak kunjung datang. Dan lagi.... nggak ada kabar, ndak nggak ada status WA yang bisa diikuti Karin. Karin berusaha keras menahan rasa sedihnya, dia berusaha agar tidak menangis, dia berusaha untuk tidak menanyakan kabar Brian, karena dia takut, Brian memang meninggalkan dia setelah Brian mengetahui isi hatinya.
lagi....
sekarang adalah tanggal tua, dimana mas Sandi akan selalu pulang larut malam, Karin dengan sengaja menutup kafe nya lebih cepat, anak-anak pada nginap dirumah oma mereka, karena besok adalah hari minggu, Karin benar-benar tidak tau harus apa, dia lalu menghubungi suaminya.
"Mas Sandi, aku tutup kafenya dulu y"
"Kenapa? sekarang kan malam minggu, biasanya rame kan? kamu sakit?" tanya Sandi.
"Nggak mas , cuma lagi pengen rebahan aja, capek seharian" ucap Karin berbohong.
Iya.... Karin sekarang udah terlalu sering berbohong pada suaminya.
"Ok, Selamat istrht ya sayang, mas pulang telat sekali sekarang, sangat banyk kerjaan, maaf y" ucap Sandi merasa bersalah.
"Ngga papa mas, kan biasanya juga begitu , Hehhee" tawa Karin yang jelas sekli dibuat buat.
__ADS_1
Karin lalu menutup pintu kafe nya, lalu berlalu dan menghempas kan diri dikamar, karena sekrang dia sedang sendiri, lalu dia meluapkan tangisnya....., rasa rindu nya......, rasa bodohnya...., karena dia baru saja merasa kehilangan hal yang sangat berarti baginya, iya, Brian saat ini adalah satu-satunya yang bisa membuat dia menangis begitu pedih kenap? karena dia saat ini terluka, ingin teriak tapi tak bisa bersuara, ingin menangis tapi harus ditahan, ingin berontak tapi pada siapa, ingin marah atas apa? ini semua salahnya sendiri, membiarkan hatinya larut dalam sebuah rasa salah, dia tidak selayaknya merindu yng bukan mikirnya.
Bip...bip..
dering handphone Karin berbunyi, tapi sama seakli tidak diacuhkannya, bip...bip... masih berbunyi, lalu dengan malas dia melihat panggilan masuk dari nomor yang tidak dia kenal, dengan malas,Karin meletakkan kembali handphone ny, iya dia sama sekali tidak mengangkat panggilan itu. Dan lagi.....
Karin hanya diam tapi remuk, dia dilema antara rasa bodoh dan rasa rindu. haruskh aku slalu menayakan kabar nya, disaat dia sendiri tidak pernah mengingat tentangku?" batin Karin dalam hati.
Lalu WA Karin berbunyi, sungguh yang dia harapkan hanya satu nama Brian, tapi sayang , masih nama orang lain, y.... Karin lumayan banyak pengagum juga, awalnya Karin menyukai kekaguman orang-orang padanya, tapi sekarang, dia nggak butuh itu, dia hanya butuh, diakui keberadaan nya oleh Brian.
lagi.... tidak ada kabar., seketika, tangis Karin meledak, dia udah nggak peduli lagi apakah matanya bakalan bengkak saat mas Sandi datang dan menanyakan perihal matanya nanti, dia sudah nggak peduli, yang dia tau, dia ingin menangis sekeras mungkin untuk menumpahkan rasa yang tidak bisa dia ceritakan kepada siapapun.
Malam sudah sangat larut, mas Sandi akhirnya pulang, dia mendapati Karin dalam keadaan yang kusut, matanya bengkak dan merah, dan Karin tidak tersenyum sama sekali seperti biasanya dia menyambut Sandi pulang.
" Kamu kenapa sayang?" tanya Sandi Kwatir, tapi Karin tidak menjawab sama sekali, "Karin.... ada apa denganmu?" Sandi bener-bener tidak habis pikir, istrinya bisa menangis hingga tak karuan seperti ini, bukan Karin banget, itu pikir Sandi. karena Karin yang dia tau sangat kuat dan riang.
"Maaf mas aku ngantuk" ucap Karin, Sandi pun, tidak jadi mengganggu Karin. nggak biasnaya Karin menolak kehadiran Sandi saat dia sedih, tapi kali ini benar-benar berbeda, biasanya Karin selalu mencurahkan isi hatinya pada Sandi ,tentang apa saja, bahkan itu tentang mantan sekalipun, atau lelaki yang menyukainya dan.mengganggu nya, tapi kali ini, Karin diam seribu bahasa.
__ADS_1
Lalu tiba-tiba suara motor berhenti di depan kafe Karin, Karin mengenal suara motor itu, Karin berpikir itu adalah Brian, maka Karin berusaha bangkit dari tempat tidurnya, tapi, Sandi mealrang.
"Sudah malam, biar aja, kamu kan tau kita udah tutup" ucap Sandi.
"Tapi.... itu mungkin Brian dan Rizki" ucap Karin.
"Iya .. tapi kita kan udah tutup masa dibuka lagi, lagian kamu kan nggak enak badan" ucap mas Sandi lagi.
gila.... Karin gak sanggup bagaimana mungkin seseorang yang dari tadi dia nanti harus dibiarkan berlalu begitu saja? mas Sandi nggak tau, bagaimana uring-uringannya Karin menanti kehadiran Brian. dia hampir gila karena nya. tapi, memang nggak mungkin Karin mengatakan itu pada Mas Sandi.
"Assalamualaikum, sebuah suara terdengar dari luar, suara yang sangat dikenal Karin. ingin rasanya Karin berlari dan memeluknya, sungguh rasa ini tidak tertahankan. aku benr-benar bisa gila. umpat Karin dalam hatinya. biar mas buka, kamu tetap istrhat di kamar, mas Sandi lalu keluar, dan menemui Brian dan Riski.
Lalu mereka bertiga duduk dan bercerita seperti biasanya, tapi Karin, tidak bisa menemui Brian, dia sudah dilarang oleh mas Sandi. Karin sendiri dikamar dan hanya berusaha mendengar suara lantunan lagu yang dinyanyikan oleh Brian, ya.... Karin tau sekali dengn liriknya, itu adalah puisi Karin. Tapi Karin belum bisa menanyakan apa-apa kepada Brian, karena WA Brian ataupun Riski sama sekali tidak aktif.
Iya.... setidaknya Karin bisa berbaring sambil.mendengarkan suara yang sangat dia kagumi itu, gejoalk hatinya mulai hilang, dia mulai tenang, karena Brian ada didekatnya, walaupun dia belum tau pasti kenapa Brian tidak ada kabar sehari ini. yg jelas Karin mencoba melepaskan rindu dengan mendengar alunan lagu dari Brian. Kau menjadi sangat berharga Brian, tidakkah ini terlalu berlebihan? ia sangat berlebihan.... tapi, aku sudah terjerumus oleh rasaku.
saat ini jika bisa, aku hanya punya satu keinginan, Ingin mendengar guraumu.
__ADS_1