
"Maaf Nyonya Dara, sudah beberapa hari ini Lucas tidak datang kesini. Saya kira Nyonya Dara yang menjemputnya."
Kaki Dara mendadak lemas seketika, seluruh tenaganya menguap begitu saja. Ia mengira semua berjalan dengan baik, ia kira setiap hari Lucas pergi ke tempat penitipan anak seperti yang ia perintahkan.
"Apakah kemarin dia kesini?" kini giliran Anna yang memberikan pertanyaan.
"Tidak, Lucas hanya kesini beberapa kali saat pertama Nyonya Dara menitipkan tetapi selanjutnya Lucas tidak pernah datang."
"Jadi yang setiap malam mengantarkan Lucas bukan dari penitipan ini?"
"Maaf Nyonya tidak ada layanan mengantar semacam itu, paling kami hanya akan menunggu sampai anak dijemput atau membiarkan anak menginap disini."
"Apakah Anda yakin?"
Penjaga penitipan anak itu mengangguk dengan yakin. Tentu saja perasaan Dara semakin tidak karuan, mendadak tidak bisa memikirkan apapun.
"Anna bagaimana ini?"
"Tenang dulu Dar," ucapnya menenagkan.
"Bagaimana jika itu ulah Rayden?"
"Kau memiliki nomor teleponnya?"
"Aku punya nomornya tapi nomornya yang lama."
"Coba kau hubungi!"
Dara mengangguk, lekas mencari nomor Rayden yang sudah ia blok. Entah nomor itu masih aktif atau tidak, yang terpenting adalah menghubunginya terlebih dahulu.
__ADS_1
Nada sambung tidak terdengar menandakan jika nomor itu sudahlah tidak aktif lagi, wajar saja karena itu juga nomor yang sudah sangat lama yaitu bertahun-tahun lalu.
"Anna aku harus menelpon polisi, Lucas tidak boleh sampai terluka!"
Dara langsung mendial nomor kepolisian kota, tidak terlalu lama kini nomor itu telah terhubung lalu diangkat.
"Hallo saya ingin melaporkan penculikan,"
"Baik Nona, dengan siapa saya berbicara dan siapa yang ingin Anda laporkan?"
"Saya Dara, saya ingin melaporkan penculikan anak saya dia bernama Lucas. Dia diculik sepulang sekolah."
"Maaf Nona dalam kasus penculikan hanya bisa membuat laporan setelah 2 kali 24 jam, kurang dari itu Anda tidak bisa membuat laporan."
"Tapi dia benar-benar diculik, tolong aku. Dia akan menyakiti Lucas."
"Maaf Nona sebelum dalam rentang waktu itu laporan Anda tidak bisa kami proses."
"Anna bagaimana ini? Aku harus bagaimana?"
Perasaan Dara sudah tidak karuan, ia sudah tidak dapat berpikir jernih lagi. Rasanya bingung dan tidak tahu harus mencari Lucas kemana.
Lucas adalah satu-satunya yang ia miliki, anak itu yang menjadi penyemangatnya selama ini. Entah bagaimana Dara akan melanjutkan hidup tanpa Lucas, terlebih jika Lucas harus terlukan akibat permasalahan dirinya.
"Apakah kau tahu alamat rumah Rayden?"
Dara menggeleng, "Tidak, aku tidak tahu."
"Kita harus mencari kemungkinan terbesar dimana tempat tinggal Rayden, Dar."
__ADS_1
"Bagaimana caranya Anna?"
"Tentang tempat kesukaannya? Rayden suka tinggal ditempat yang seperti apa lalu apakah mungkin ia akan menyewa apartemen atau rumah?"
"Rayden mempunyai uang yang sangat banyak, dia menyukai tempat yang sepi dan jauh dari keramaian. Kemungkinannya jika dia menyewa sebuah apartemen."
"Mungkin sebuah rumah dipinggiran kota? Bagaimana dengan wilayah selatan kota, disana sepi."
"Komplek perumahan disana kecil sedangkan Rayden tidak mungkin membeli rumah yang kecil, tidak mungkin dia tinggal di wilayah selatan."
"Terlalu sulit menebak rumahnya, Dar."
"Tapi jika memang yang menculik adalah Rayden, tidak mungkin kemarin-kemarin ia mengembalikan Lucas saat malam hari. Rayden tidak mungkin sebaik itu Dara."
"Kau benar, lalu menurutmu yang membawa Lucas adalah orang lain?"
"Kemungkinan seperti itu, bukankah katamu setiap kau pulang bekerja Lucas sudah berada di apartemen? Bukankah kemungkinan dia pergi kerumah temannya lalu di antar di sore hari."
"Benar Anna."
"Kalau begitu kita kembali ke apartemen dan menunggunya, kau jangan kebanyakan pikiran terlebih dahulu."
...━━━ Jerat Cinta Wanita Penggoda ━━━...
Suka dengan cerita ini?
Jangan lupa berikan like dan juga sebuah kalimat di kolom komentar sebagai bentuk aparesiasi, setiap jejak kalian sangat dihargai!
Terimakasih and love you full.
__ADS_1
With love,
Khalisa🌹