
.
.
.
.
.
.
.
"Mas?" Panggilku ketika kami sama-sama tidak bisa memejamkan mata kembali. Hanya hening setelah ciuman bertubi-tubi yang kami lakukan.
"Hmm?" Gumamnya menjawab panggilanku.
"Apa Kirana baik-baik saja?" Tanyaku penasaran.
"Tidak separah kamu. Hanya tangan kanannya saja yang di balut perban" Ujarnya yang kembali memposisikan dirinya untuk duduk disampingku.
"Ada kamera CCTV di pojok minimarket yang mengarah ke tempat kejadian mas, siapa tau kamu membutuhkannya sebagai bukti" Ucapku sambil menggenggam tangannya.
Ku lihat wajahnya sedikit mengeras. Apa aku salah lihat? Berulang kali dia menghembuskan nafasnya dengan keras. Seperti sedang memikirkan sesuatu atau menimbang-nimbang sesuatu.
"Kamu ga mau aku nuntut dia mas?" Tanya ku setelah melihat dia hanya diam saja.
"Apa ga bisa di selesaikan secara damai saja sayang?" Ujarnya lirih.
"Dia sengaja ingin mencelakaiku mas.." Ucapku sedikit menaikkan nada suaraku.
"Mas tau, tapi.."
__ADS_1
"Kamu membelanya? Karena dia istri kamu?" tuduhku setelah melihat raut wajahnya yang tak terbaca.
"Aku ingin dia mendapatkan balasan atas perbuatannya mas" imbuhku lagi.
"Tadi sore mas bertemu dengan Ayahnya Kirana" Ujarnya pelan.
"Papi akan membantu mas untuk bisa bercerai dengan Kirana dan membantu untuk bicara sama papa, dengan syarat kamu harus menarik tuntutanmu pada Kirana. Dan menyelesaikan masalah ini dengan damai" jelasnya setelah ku cerca penuh emosi.
"Kamu yakin? Ini bukan akal-akalan ayah Kirana saja?" Tanyaku sedikit ragu.
"Papi bukan orang seperti itu. Mas percaya" Ujarnya yakin.
"Kalau kamu masih pengen nuntut ga apa-apa sayang... nanti biar mas cari jalan keluar lain" imbuhnya lagi.
Ku genggam tangannya semakin erat "Aku ga mau nambah-nambahin beban pikiran kamu mas. Kalo aku ga bisa balas perbuatan jahat dia sama aku, biar Tuhan aja yang balas nanti" Ucapku menenangkannya.
"Mas tidak salah memilihmu untuk mendampingi mas kelak, hati kamu baik dan lembut. Kamu pasti akan menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kita nanti" Ujarnya kemudian mengecup keningku.
"Aku hanya ingin meringankan sedikit beban pikiranmu mas, karena sedari awal kita berhubungan kan aku udah janji akan berjuang bersama kamu" Ujarku dengan wajah yang sudah merah sedari tadi.
"Tidurlah.. kamu harus banyak istirahat biar bisa cepat pulih" perintahnya kemudian menaikkan selimutku dan mengecup keningku.
"Kamu juga.. Selamat tidur" Ujarku pelan kemudian mulai memejamkan mataku untuk tidur.
Sebelum benar-benar tertidur ku lirik sekilas Gerry yang tampak serius dengan layar laptop yang menyala di depannya. Lagi-lagi dia membawa pekerjaan kantornya untuk menemaniku. Entah itu dirumah atau disini.
Laki-laki seperti ini, Aku tidak menambah beban pikirannya lagi. Sudah banyak yang dia berikan padaku, yang dia lakukan untuk kami. Tapi aku belum pernah sekalipun membalasnya.
Kali ini, biar aku yang melakukan sesuatu yang berguna untuk dia. Meski harus terluka dan menahan nyeri di sekujur tubuh ku seperti ini. Aku rela.
***
Esoknya ketika aku terbangun dari tidurku, Gerry sudah tidak ada lagi di sampingku. Mungkin dia sudah pergi bekerja saat ku lihat jam yang menggantung di sisi kanan dinding kamar ini. Meskipun masih terhitung sangat pagi karena baru pukul 8 pagi.
__ADS_1
"Kamu sudah bangun?" Tanya Ibu yang baru masuk.
"Iya buk.. Gerry sudah berangkat kerja?" Tanyaku kembali.
"Iya tadi bilang sama ibuk ada meeting jam 9 pagi" Ujar ibu sambil duduk di sebelahku.
"Kepala kamu masih pusing?" Tanya ibu lagi.
"Udah enggak buk.." Jawabku sambil tersenyum menatap ibu yang sudah terlihat sedikit tenang.
"Makan dulu, ibuk suapi ya... terus minum obat" Perintahnya.
Kujawab dengan sebuah anggukan pelan "Minum dulu buk... Aku haus" Ujarku pelan.
Kemudian ibu bangkit dan mengambilkan makanan dan minuman yang di letakkan perawat di nakas sebelah tempat tidur.
"Aku ingin menyelesaikan masalah ini secara damai buk. Tolong bilang Kak Surya untuk mencabut tuntutannya" Ucapku ketika suapan pertama berhasil kutelan.
Ibu tampak kaget dengan ucapanku "Kenapa? Dia mencelakaimu dengan sengaja nduk.. beruntung kamu tidak kehilangan nyawa kamu saat kecelakaan itu terjadi" Ujarnya dengan nada sedikit tinggi.
"Aku tau buk.. perbuatan Kirana memang sudah kelewatan. Tapi, kalau Aku mencabut tuntutanku ke Kirana, Ayah Kirana akan membantu Gerry agar bisa menceraikan Kirana. Dan aku hanya ingin membantu Gerry agar segera terlepas dari statusnya dengan Kirana" Jelasku panjang lebar.
"Maka dari itu, aku belum juga bisa mengenalkan Gerry secara resmi sama ibuk sama bapak karena Kirana yang menolak untuk bercerai" imbuhku lagi.
Pintu kamar di ketuk dari luar dan muncul seorang wanita paruh baya cantik membawa sebuket bunga dan sekeranjang buah di kedua tangannya.
Pemilik mata hazel indah itupun tampak terkejut saat melihat Ibu, Dan begitu juga ibu yang tak kalah terkejut saat melihat Ibu Gerry yang baru saja memasuki kamar dimana aku dirawat.
"Widya?"
TBC
Jangan lupa Like, Komen, Kritik, Saran, Vote 😍😍😍
__ADS_1
Terima kasih untuk yang sudah mampir dan untuk vote nya, juga untuk like dan komentarnya... 💖💖💖
Author sedang Badmood karena kedatangan tamu tiap bulan. Mohon bersabar ya... Jika Author telat Up... Saranghae 💖💖💖