Wanita Penggoda

Wanita Penggoda
Satu Paket


__ADS_3

.


.


.


.


.


.


Kulihat wajah ibu dan bapak yang tersenyum sumringah saat berkumpul dengan semua keluarga. Juga mama dan papa yang tak kalah bahagia dengan pernikahan kami. Dan yang lebih membuat hatiku bergetar adalah, papa yang terlihat sedang memangku Aslan dan tertawa dengan lebarnya. Entah apa yang laki-laki beda generasi itu bicarakan. Karena papa tak berhenti tertawa dan mencium pipi Aslan dengan gemas.


Sedangkan mama di sampingnya ikut tertawa. Bapak dan ibu pun tak luput dari rasa bahagia yang seakan menular ke seluruh keluarga. Ada pakde Ruslan dan budhe indah disana, juga beberapa keluarga Gerry yang aku belum mengenalnya.


Gerry menggenggam tanganku dan merem*snya pelan "Jangan nangis, ini hari bahagia kita. Kamu sudah terlalu banyak menangis"


Entah sejak kapan dia memperhatikanku. Sepertinya dia melihat air yang sudah menggenang di pelupuk mataku "Kalo inget betapa kerasnya papa dulu saat berusaha memisahkan kita, rasanya aku seperti mimpi mas.. Bisa menjadi istri sah kamu satu-satu nya. Dan melihat papa dan Aslan begitu akrab, aku benar-benar sangat bersyukur"


Gerry menghapus air mata yang sudah tak bisa ku tahan lagi "Sudah, jangan di inget-inget lagi yang dulu-dulu. Yang penting sekarang mas udah sah jadi suami kamu. Mas janji, akan selalu bahagiain kamu dan Aslan dan anak-anak kita nantinya"


Dikecupnya tanganku cukup lama "Kamu cantik sekali sayang.. " Imbuhnya yang seperti tak berkedip saat menatapku.


Aku menundukkan wajahku malu. Pipiku pasti sudah sangat merah saat ini karena Gerry yang tak berhenti menatapku.


"Jangan lihatin aku terus mas.. Ga enak kalo di lihat orang-orang" Ujarku karena saat ini kami masih duduk di kursi pelaminan.


"Nanti malam, akan mas buat kamu ga tidur sampai pagi karena udah bikin mas puasa selama berbulan-bulan" Ucapnya dengan tersenyum jahil.


Kucubit pelan pahanya "Jangan macem-macem kamu mas.."


"Tentu saja harus macem-macem, kalo cuma satu macem aja mana bisa nanti kamu cepet hamil" Ujarnya masih menggodaku.


"Maaas..." Kali ini kucubit lebih keras hingga membuatnya sedikit mengaduh namun tetap tertawa senang.


"Iri banget gue!" Ucap Jonathan yang tau-tau sudah duduk di sampingku.


"Aku jadi ga bisa panggil baby atau sayang lagi ke kamu Mel.." Ucapnya sedikit memelas.


"Kelar hidup lo kalo berani panggil bini gue sayang-sayang lagi" Saut Gerry sewot.


"Iya.. iya... yang pengantin baru" Saut Jonathan tak kalah sewot.


Jonathan menjabat tanganku dan mencium pipi kiri dan kananku bergantian "Selamat ya, selamat menempuh hidup baru. Selamat menjadi Nyonya Gerry sbastian. Selamat masuk di keluarga Soewirdjo. Semoga kamu bahagia dan melupakan semua masalalu mu yang menyakitkan" Ujar Jonathan yang terdengar sangat tulus.

__ADS_1


"Semoga hanya ada senyum di bibirmu nanti. Kalo sampe Gerry nyakitin kamu, aku selalu membuka tanganku untuk kamu" Ujarnya yang di akhiri dengan kerlingan nakal matanya.


Aku yang semula terharu karena doa-doa dan ucapan selamat nya jadi tertawa karena gurauannya.


"Teruslah tertawa seperti itu, kamu sangat cantik sekali saat tertawa" Gombalnya seperti biasa.


bruuukkkkk


Gerry memukul kepala Jonathan dengan bunga pengantin ku.


"Bini orang masih aja di gombalin!" Ujar Gerry kesal.


Melihat kelakuan mereka yang selalu seperti itu sudah sangat biasa untukku. Aku tersenyum dan menggenggam kedua tangan laki-laki di sebelah kiri dan kananku "Persahabatan kalian bikin aku iri. Tetaplah seperti ini sampai nanti kalian tua"


Gerry melepaskan tanganku yang menggenggam tangan Jonathan "Jangan lama-lama sayang.. nanti dia nya ngelunjak"


Dan mereka kembali berdebat dengan sifat keras kepala masing-masing yang sama-sama tidak mau kalah. Namun pada akhirnya Jonathan berjalan ke arah Gerry dan memeluknya erat.


"Mungkin gue belum bisa jadi sahabat yang baik buat lo, karena masalah lo sama Kirana pun gue ga tau. Tapi gue selalu berdoa buat kebahagiaan lo. Jadi sekarang saatnya, lo doain gue juga. Biar gue dapet kebahagiaan juga" Ujar Jonathan masih di selingi dengan gurauannya.


"Gue doain biar lo sadar, kalo bahagia lo itu ada sama istri dan anak lo yang selalu nungguin lo dirumah" Ujar Gerry mengena.


Jonathan melepaskan pelukannya "Apa'an sih" Ujarnya sewot.


"Belajarlah memaafkan Jessy.. Jangan sampe lo nyesel kalo nanti dia udah ninggalin lo" Ujar Gerry sok bijak.


"Sekali-kali.. cobalah untuk mengenal istri kamu lebih jauh Jo.. Dekati dia dan selami hatinya. Jika sampai saat itu kamu tidak juga merasakan cinta untuknya, kamu boleh menyerah" Aku ikut menasehati.


Bukan tanpa alasan, tapi karena menurut yang di ceritakan Gerry, Jessyca adalah wanita yang baik dan tingkat kesabarannya sungguh luar biasa dalam menghadapi tingkah Jonathan yang sering kali menyakitkan hati.


Parasnya juga tak kalah cantik. Meskipun sejak menikah dengan Jonathan dia lebih banyak diam dirumah dan menghabiskan waktu bersama anaknya, namun dia tetap menjaga tubuh dan wajahnya agar tetap menarik.


"Iyaaaaa...." Jawab Jonathan semakin sebal.


Aku dan Gerry berpandangan dan tersenyum melihat tingkahnya yang seperti anak kecil.


***


Keluarga Gerry sudah kembali ke hotel semua. Sedangkan sanak saudara dan para tetangga juga sudah pulang kerumah masing-masing. Aslan sudah tidur sedari tadi di kamar ibu.


Gerry yang sepertinya sangat kelelahan terlihat nyaman berbaring di ranjangku yang sederhana. Aku duduk di depan meja rias dan menghapus sisa-sisa make up ku.


"Mandilah dulu mas.. dan ganti bajumu dengan baju yang nyaman. Aku sudah belikan baju ganti untukmu" Ujarku dengan masih fokus menghapus make up di wajahku.


Dia bangkit berdiri dan memelukku dari belakang. Dikecupnya tengkukku yang terbuka karena rambutku yang ku gelung ke atas.

__ADS_1


Aku menggelinjang geli "Hentikan mas.. mandilah.."


"Setelah mandi, mas ga akan lepasin kamu" Ujarnya jahil kemudian mengambil handuk dan keluar kamar menuju kamar mandi.


Aku sudah menyiapkan baju ganti untuk Gerry yang ku letakkan di atas ranjangku ketika dia masuk ke kamar dengan wajah sedikit pucat karena kedinginan. Tentu saja, karena kamar mandi dirumah ini tidak ada air hangatnya.


"Dinginnn sekalliiiihhh sayannghhhh..." Ujarnya menggigil lucu sambil memelukku.


"Maaf mas" Aku merasa bersalah karena melihatnya menggigil.


"Ciumhh bibir mash kalo kamuhh merasa bersalahhh" Ujarnya yang masih sedikit menggigil sambil memonyongkan bibirnya sambil memejamkan matanya.


Ku kecup sekilas bibirnya namun dia malah memelukku dan melum*at bibirku dengan lembut. Ku peluk tubuhnya yang dingin, kusalurkan kehangatan tubuhku yang menempel di dadanya.


Dia semakin mengeratkan pelukannya hingga kurasakan tubuh bagian bawahnya sudah mengeras. Ciuman yang semula lembut kini berubah menjadi panas dan bergairah. Ku pejamkan mataku menikmati lidahnya yang semakin liar bermain di dalam rongga mulutku.


Saat sebelah tangannya mulai merem*s pay*daraku, dan bibirnya mulai beralih menyes*ap put*ingku, aku menggigit bibir bawahku agar tak mendesah nikmat. Karena takut akan terdengar sampai keluar kamar. Entah sejak kapan gaunku lolos dari tubuh ku pun aku tak menyadarinya.


"Aku mau mandi dulu mas.." Ucapku tiba-tiba menghentikan permainan kami "Aku bau keringat" ucapku malu.


"Nanti juga kita bakalan kringetan sepanjang malam sayang.. " Ujarnya yang langsung mengangkat tubuhku dan membaringkannya di ranjang.


Mata hazelnya menatapku dengan lembut "Mas ga bisa menunggu lagi" Ujarnya yang kemudian kembali melum*t bibirku dengan nafsu yang sudah berada di ujung kepalanya.


Aku kembali menggigit bibir bawahku saat bibir panasnya menciumi setiap lekuk tubuhku. Dan tangannya merem*s pay*dar*ku dengan gemas.


Sudah lama sekali aku tidak merasakan sentuhan lembut tangan dan bibirnya di tubuhku. Dan saat ini aku merasakan nikmat yang berkali-kali lipat lebih nikmat karena kerinduanku pada sentuhannya selama berbulan-bulan, juga karena status kami yang sekarang sudah sah menjadi sepasang suami istri.


Saat dia sudah siap memposisikan dirinya untuk memasukiku, nafasku terhenti sebentar bersiap menerima dirinya di dalam diriku sepenuhnya.


CEKLEKK


"Mama.. Alan nda bita bobo tama mbah uti. Mbah uti bobo nya belicikk"


Suara pintu terbuka dan Aslan yang sedang berjalan dengan mata setengah terpejam mengagetkan kami. Gerry seketika langsung berguling ke sampingku dan aku refleks menutup tubuhku yang polos dengan selimut.


Tubuh kecil Aslan masuk begitu saja ke tengah-tengah antara aku dan Gerry kemudian kembali terlelap. Ku tahan tawaku karena melihat wajah Gerry yang sudah memberengut kesal karena gagal melakukan aksinya.


"Sabar ya mas.. Beginilah kalo kamu pilih yang satu paket" Gurauku yang di balas dengan Gerry yang memunggungiku sebentar. namun kemudian berbalik lagi dan memeluk kami untuk tidur.


TBC


Like & Comment jangan lupa ya...


Terima kasih untuk vote dan semangatnya..

__ADS_1


💖💖💖


__ADS_2