
.
.
.
.
.
.
"Widya?" Sapa tante Luna dengan langkah yang terus bergerak maju untuk meyakinkan kalau apa yang di lihatnya memang benar.
"Benar Widya kan?" Ulangnya lagi.
Ibu masih sedikit terkejut dan masih terdiam di tempatnya berdiri. Dan ketika ibu sudah sadar tentang siapa yang menyapanya, tante Luna sudah berada di depannya setelah meletakkan bunga dan sekeranjang buah yang di bawanya di meja.
Mereka berpelukan dengan mata yang sama-sama berkaca-kaca. Ada apa ini? apa aku melewatkan sesuatu yang penting yang belum pernah ibu ceritakan padaku?
"Kamu apa kabar Lun? Kamu masih tetap cantik seperti dulu.." Ujar ibu setelah melepaskan pelukan mereka.
"Aku baik-baik saja Wid.. Kamu juga gimana kabar kamu selama ini? Kamu tinggal dimana?" Tanya tante Luna balik.
"Aku juga baik-baik saja Lun.. Aku menetap di sebuah kampung di Jawa. Kamu kenapa bisa disini? ga salah kamar kamu?" Tanya ibu pada tante Luna dan mempersilahkan tante Luna duduk di sebelahku. Sedangkan ibu mengambil kursi satunya lagi untuknya duduk.
"Aku memang mau jenguk Caramel.. Apa Caramel adalah anak kamu Wid?" Tanya tante Luna sambil menggenggam tanganku.
"Iya.. Caramel anak kedua aku Lun. Kamu kok bisa kenal anak aku?" Ibu kembali bertanya.
"Caramel kan calon mantu aku Lun.. iya kan sayang?" Ujar tante Luna sambil menatapku yang salah tingkah dengan perkataannya yang sangat mendadak itu.
"Kamu..." Ucap ibu sedikit tidak yakin.
"Iya.. aku ibu nya Gerry" Ujar tante Luna yang memotong perkataan ibu.
__ADS_1
Aku tidak tau bagaimana perasaanku saat ini. Yang jelas aku sangat lega, mengetahui bahwa mereka saling kenal sebagai seorang teman. Bukan musuh.
Karena sejak masalah bertubi-tubi yang terus menghantam hubungan kami, aku jadi sedikit takut jika nanti akan ada lagi masalah lainnya. padahal masalah yang lalu-lalu belum terselesaikan.
"Dunia memang ternyata sempit ya Wid.. ga nyangka sekali bisa bertemu kamu lagi setelah berpuluh-puluh tahun lamanya. Dan juga ternyata malah kamu calon besan aku" Ujar tante Luna disertai dengan tawanya yang renyah.
"Apa kamu benar-benar sudah sehat-sehat saja Lun?" Tanya ibu dengan raut wajah sedikit khawatir.
"Aku sehat Wid... berkat pertolongan dari kalian. Aku sangat bersyukur.. bagaimana keadaan Mas Aryo suamimu? Sehat kan?" Kali ini Tante Luna yang terlihat sangat khawatir.
Ada apa ini? di desak dengan rasa penasaran yang teramat mengusikku, ku beranikan diri untuk menyela pembicaraan mereka.
"Sebenarnya ada apa buk? tante?" Tanyaku dengan memandangi wajah mereka satu persatu yang masing-masing menunjukkan raut wajah khawatir yang jelas terlihat.
"Sayang... Sebenarnya bapak kamu adalah orang yang menolong tante, bapak kamu mendonorkan satu ginjalnya untuk tante. Hingga tante bisa sehat seperti ini. Keluarga tante sangat berhutang budi sama keluarga kamu. Karena waktu itu, bapak dan ibu kamu tidak mau menerima apapun yang diberikan keluarga tante" Ujarnya sambil mengenggam tanganku.
Sulit dipercaya, keluarga ku dan keluarga Gerry ternyata mempunyai hubungan yang seperti itu. Aku masih sangat terkejut dengan fakta baru ini.
"Kami sudah kenal satu sama lain dari dulu sayang.. Bahkan sebelum kamu lahir. Tante dulu pernah hampir menabrak ibu kamu. Dan kami berkenalan hingga berteman baik. Hingga keadaan tante memburuk dan begitu ajaibnya ginjal bapak kamu bisa cocok untuk di donorkan ke tante. Tapi selama masa penyembuhan itu, bapak sama ibu kamu malah tiba-tiba menghilang tidak ada kabar" Ujarnya dengan raut wajah sedih.
"Kenapa kalian tidak terima saja uang yang diberikan keluargaku Wid?" Ujar tante Luna dengan nada yang teramat sedih.
"Kami ikhlas menolong kamu Lun.. Bukan demi uang. Tapi demi hubungan kita yang sudah ku anggap seperti saudara kandungku sendiri. Kamu tidak pernah malu berteman dengan orang tidak punya sepertiku" Dan air mata membanjiri wajah ibu.
Tante Luna memeluk ibu dan ikut sesenggukan bersamanya "Terima kasih Wid... Terima kasih karena untuk keikhlasanmu. Mungkin juga karena keikhlasanmu ini lah, aku bisa sehat seperti ini"
Tak terasa airmata ku ikut jatuh menetes turun ke pipiku. Aku ikut menangis melihat mereka berpelukan penuh rindu. Dengan air mata yang aku tahu adalah air mata bahagia.
"Kamu kenapa ikut menangis nduk?" Tanya ibu setelah melepaskan pelukan tante Luna.
"Ada yang sakit sayang? bilang tante mana yang sakit? kepala kamu? atau kaki kamu?" Tanya tante Luna khawatir.
Aku semakin menangis terisak melihat mereka begitu menghawatirkan ku. Dengan sisa-sisa airmata dan mata sembab mereka yang tak mereka hiraukan.
"Saya baik-baik saja tante. Saya hanya terharu dengan persahabatan Tante dan ibuk" Ujarku setelah tangisku sedikit reda.
__ADS_1
"Hati kamu selembut hati ibu mu sayang.. Pantas saja tante langsung menyukaimu saat kita pertana kali bertemu dulu" Ujarnya memujiku.
Semburat merah muncul di pipiku begitu saja. Bagaimana tidak? di puji calon mertua seperti itu membuatku malu.
"Maafkan aku Lun.." Ucap ibu tiba-tiba.
"Kenapa kamu minta maaf Wid?" Tanya tante Luna sambil mengambil tisu di salam tas nya dan mengusap sudut matanya yang masih sedikit berair.
"Kemarin aku habis memarahi anak kamu, dan menyuruhnya untuk menjauhi Caramel" Ujar ibu sedikit merasa bersalah.
"Kenapa Wid?" Tanya tante Luna yang terlihat heran.
"Karena dia masih suami orang Lun. Aku tidak mau Caramel dituduh sebagi wanita perebut suami orang" Ujar ibu dengan menundukkan kepalanya.
"Maaf Wid.. kamu berhak memarahinya. Aku pun juga jika berada di posisi kamu juga akan melakukan hal yang sama" Ujar tante Luna dengan tersenyum.
"Kamu tidak marah?" Ibu mengangkat kepalanya dan menatap tante Luna.
Tante Luna menggelengkan kepalanya pelan "Yang salah adalah kami Lun, sebagai orang tua tidak seharusnya kami memaksakan Gerry untuk menikahi anak rekan bisnis kami. Hingga berujung tidak bahagia dalam pernikahannya. Dan suamiku bersikeras tidak mengijinkan Gerry untuk bercerai hingga menghalangi hubungannya dengan Caramel" Kali ini tante Luna yang terlihat sangat sedih.
"Kamu tenang saja Wid, akan kubujuk suamiku agar merestui hubungan mereka. Biar kita bisa jadi besan. Kalau suamiku masih tidak mau merestui, akan aku copot ginjal di dalam tubuhku ini lalu kukembalikan kepada suamimu" Ujarnya di iringi dengan tawanya yang renyah.
"Becanda kamu tidak lucu Lun.." Ujar ibu namun tetap diringi dengan tawa mereka berdua.
TBC
Like dan Komen nya kencengin ya kakkkk...😍😍😍
Terima kasih untuk Vote nya juga untuk yang sudah mampir baca💖💖💖
Maafkan Author yang baru siuman. Novel ini pasti sampai tamat kok. Ga akan stop di tengah jalan. Untuk seterusnya Author usahakan Up seperti biasanya.
Skali lagi mon maap ya atas keterlambatannya yang teramat sangat telat sekali 🙏🙏🙏
Chapter kali ini dipanjangin dikit lho.. sebagai bentuk permintaan maaf Author. meskipun kalo pas udah baca ga terasa dan rasanya sama seperti biasa. 😅
__ADS_1