
.
.
.
.
.
.
.
(Gerry POV_beberapa bulan kemudian)
Ku usap-usap punggungnya yang sedikit terbuka. Selalu seperti ini setiap malam. Dia hampir tidak bisa tidur dengan nyenyak setiap malam, dan aku selalu mengusap punggungnya agar dia bisa tertidur tanpa rasa gelisah.
Perutnya yang sudah membuncit membuat tidurnya menjadi gelisah karena posisi tidurnya sedikit tidak nyaman dan tidak leluasa. Terkadang ku elus keningnya agar tidak berkerut saat tidur seperti memikirkan sesuatu.
Dia membalik badannya menghadapku. Tubuhnya yang sekarang terlihat lebih berisi membuatku semakin gemas. Kenapa saat bersamaku sekarang dia tidak bisa segendut saat masih bersama Reyhan dulu?
Padahal semua sudah ku turuti. Aku takut dia menjaga pola makannya agar tubuhnya tidak semelar seperti dulu. Padahal aku tidak apa, dan malah aku merasa aku seperti tidak bisa membahagiakannya karena berat badannya hanya naik sedikit. Terus terang saja aku iri.
Aku pura-pura tertidur saat perlahan kelopak mataku akan terbuka. Aku tidak mau dia menjadi tak enak hati karena aku yang sering begadang akhir-akhir ini karena harus mengusap-usap punggungnya atau rambutnya.
Dia mengeratkan pelukannya padaku "Bukalah matamu mas, aku tau kamu masih belum tidur"
Aku tak bergeming, aku tetap pura-pura tertidur agar dia kembali tertidur. Karena terakhir yang kulihat, jam baru menunjukkan angka 12 malam.
Dibukanya kancing piyamaku satu persatu "Mau kasih salam buat si baby ga Mas?" Ujarnya menggoda.
Oke aku menyerah. Laki-laki mana yang akan tahan jika berada dalam posisiku sekarang. Tentu saja aku langsung membuka mataku dan itu membuatnya terkikik pelan.
__ADS_1
"Kenapa kamu pura-pura tidur?" Ujarnya dengan tersenyum usil.
"Mas beneran tidur tadi" Kilahku cepat.
"Tapi begitu denger di ajak 'itu' kamu langsung bangun" Ujarnya dengan masih membuka kancing piyamaku.
"Insting laki-laki memang tajam sayang... apalagi soal begituan" Ujarku yang sekarang menind*h tubuhnya.
Ketika usia kehamilannya sudah mendekati masa melahirkan memang Caramel lebih rutin mengajakku bercinta. Karena untuk mempermudah proses melahirkan nanti. Tidak seperti saat dulu saat masih trisemester pertama, aku harus menahan agar tidak menidurinya terlalu sering sampai berbulan-bulan. Takut akan mempengaruhi kehamilannya.
Ku buka baju tidur tipis tanpa lengan yang di pakainya. Perut yang sudah membuncit dengan pusar yang sedikit menonjol. Ku usap pelan perutnya yang terdapat baby hasil kerja kerasku dengannya. Entah mengapa aku begitu bangga bisa menghamilinya.
Ku buka pengait bra nya dan payud*ranya yang sekarang menjadi besar dan kencang selalu membuatku ingin berlama-lama mempermainkannya. Apalagi akhir-akhir ini aku merasa asi nya sudah keluar sedikit. Aku sedikit merasa bersalah karena mencuri jatah makan dan minum bayi kecilku nanti.
Dia melenguh pelan saat berada di bawahku. Ku permainkan dadanya sampai dia merem*s rambutku sambil memejamkan matanya. Lenguhan-lenguhannya selalu berhasil membuat gairahku memuncak.
Aku tidak mau berlama-lama menyiksanya dengan pemanasan yang terlalu lama. Ku buka pahanya dan ku dorong pelan milikku agar memasukinya.
Aku selalu melakukannya dengan lembut. Memberi salam kepada baby kecil yang belum bisa melihat dunia. Membiarkan dia merasakan ada papa nya yang selalu siap menjaganya sampai dia terlahir ke dunia.
Ku rasakan tubuhnya bergetar dan cengkraman tangannya di punggungku mengeras, tanda bahwa dia sudah mencapai klimaksnya. Ku pelankan ritmeku dan ku hujam mikikku agar lebih dalam memasukinya dan berhenti sebentar. Ku kecup keningnya agar dia menikmati pelepasan pertamanya malam ini.
Ada yang berdenyut di bawah sana saat dia mencapai klimaksnya. Rasanya milikku pun seperti di rem*s-remas. Saat dia mulai tenang kembali, aku kembali mendorongnya pelan.
Keringat membasahi pelipis bumilku yang cantik. Lenguhannya tak berhenti begitu saja. Matanya yang terpejam merasakan nikmatnya doronganku pada tubuhnya membuatku semakin bersemangat ingin memberikan klimaks lagi untuk kesekian kalinya kepadanya.
Dadanya yang naik turun saat ku dorongpun tak kalah membuatku tambah bergairah. Bagian mana dari wanita ini yang membuatku tidak bernafsu? Tidak ada. Apa yang ada pada dirinya aku sangat menyukainya.
Aku sedikit mempercepat ritme doronganku saat aku merasakan ada yang hampir meledak dalam diriku. Dan cengkeraman tangannya pun juga semakin mengeras di punggungku. Sepertinya dia pun juga akan mencapai klimaksnya lagi.
Aku mengerang perlahan karena lega saat kurasakan klimaksku yang bersama dengan klimaks Caramel malam ini.
Ku kecup keningnya dan menghapus keringat yang membasahi pelipis juga keningnya. Dia tersenyum dan mengecup bibirku sekilas. Namun aku meraih kepalanya dan kulum*t bibirnya hingga dia nyaris tak bisa bernafas dan memukul-mukul dadaku.
__ADS_1
"Dasar usil" Ujarnya dengan senyum merekah di bibirnya.
Ku tutup tubuh telanjang kami dengan selimut dan kupeluk perut buncitnya.
"Kenapa kamu ga bisa segendut dulu saat kamu sedang hamil Aslan sayang?" Ku keluarkan apa yang mengganggu pikiranku selama berminggu-minggu ini.
"Apa kamu menjaga pola makanmu agar tidak segendut dulu?" imbuhku lagi.
"Apa kamu ga bahagia sama mas?" Ujarku lagi dengan cemberut.
"Kamu mau aku gendut mas?" Tanyanya heran.
"Tentu saja, mas merasa tidak bisa membahagiakan kamu. Padahal semua yang kamu inginkan sudah mas turuti" Ujarku sedikit kesal.
"Dimana-dimana laki-laki itu ga mau istrinya gendut. lha ini kamu malah pengen aku gendut. Lagian, saat aku hamil Aslan badan aku juga segini mas... Aku gendut setelah melahirkan Aslan. Bukan saat hamil" Ujarnya membuatku terkejut.
Aku memang tidak tau saat dia hamil Aslan. Karena yang ku lihat dulu adalah foto dirinya saat menggendong Aslan yang masih sangat kecil. Aku pikir, dia sudah gendut saat hamil Aslan.
"Jadi kamu pengen aku gendut? Aku susah payah banget lho mas buat nurunin berat badan aku dulu.." Ujarnya lagi.
"Mas terserah kamu sayang.. Tapi selama kamu menyusui nanti kamu ga boleh diet. Kamu harus kasih si kecil asi yang berkualitas. Biar lucu dan pintar kayak Aslan" Jawabku sambil mengelus perut buncitnya dan menciumnya.
"Kalo kamu pengen nurunin berat badan nanti mas belikan alat olahraga lengkap. Juga nanti mas carikan instruktur wanita biar kamu ga perlu keluar ke tempat fitnes yang kebanyakan laki-laki semua" Ucapku masih dengan memeluk perut nya.
"Suamiku memang saaaaangat pengertian.. juga saaaaaangat cemburuan" Ujarnya usil.
"Tentu saja.. dan mas tau kamu sangat menyayangi suamimu ini kan" Ku balas dengan tak kalah usil.
"Iya... aku saaaaangat menyayangimu mas" Ujarnya yang membuat hatiku terasa hangat.
TBC
Like & Comment plissss..
__ADS_1
Thanks utk Vote dan semangatnya..
Tinggal beberapa episode menuju ending, terus terang saja Author bingung. Takut mengecewakan readers semua. Tetep kasih semangat buat Author ya...