
Esoknya Karin demam tinggi, iya dia sakit, karena menangis semalaman, Karin mengatakan kepada Sandi, dia menangis karena rasa sakit dikepalanya, saat jatuh pingsan kemaren, Sandi tentu saja percaya, karena istrinya tidak pernah berbohong padanya, Sandi berusaha membujuk Karin untuk memeriksa kan kepalanya. Tapi, Karin selalu menolak. ya.... bagaimana mungkin dia harus memeriksakan kepalanya yang tidak sakit sama sekali. Sandi pun menjadi pusing, karena ini adalah akhir bulan, dimana pekerjaan nya harus selesai, dan Karin malah sakit.
"Sayang, gimana caranya kamu cepat pulih? kamu nggak mau dibawa berobat?" tanya Sandi sedih.
"Nggak apa-apa mas, mas pergi kerja aja, ntar lagi aku juga bakalan pulih kok mas", ucap Karin meyakinkn Sandi.
"Kamu yakin sayang? tanya Sandi lagi.
"Iya mas, mas tenang aja, kalau kenapa-napa aku bakal hubungi mas langsung" ucap Karin.
"Baiklah, mas pergi ya" kata Sandi dengan berat hati, "kalau ada apa-apa hubungi mas langsung ya!". Ucap Sandi memastikan lagi pada Karin.
Karin lalu mengangguk manja. sekrang memang hari minggu, tapi ini adalah akhir bulan, jadi Sandi pasti sibuk banget, dan minggu pun wajib masuk kantor. Sandi bingung mau gimana, karena ini hari terakhir dimana dia tidak bisa terlambat apalagi libur kerja, tiba-tiba saja ada yang datang.
"Assalamualaikum" ada seseorang diruang kafe Karin, Karin tidak mendengar jelas suaranya, karena Karin masih pusing, Sandi keluar untuk melihat siapa yang datang.
Ternyata Brian, "Brian? darimana? tumben pagi sekali udah datang?" tanya Sandi heran.
" Oh tadi nggak sengaja lewat mas, aku liat motor mas ada diluar dan pintu kebukak, makanya aku mampir, Hehhee ganggu ya mas?" goda Brian pada Sandi.
"Ah nggak kok, mas cuma mau berangkat soalnya" jawaban Sandi santai.
"Mau kemana mas?" tanya Brian.
"Kerja dek" jawab Sandi singkat.
__ADS_1
"Lo sekarang hari minggu loh mas, masa iya mas kerja?" timpal Brian ke Sandi.
" kan akhir bulan " jawab Sandi singkat.
"Oh... iya ya, kalau akhir bulan mas masuk kerja ya, kalau gitu aku pamit deh" ucap Brian. Brian lalu berdiri.
"Salam sama kakak aja ya mas" ucap Brian ringan.
"Tunggu Brian", ucap Sandi menahan Brian.
Lalu Brian menoleh " apa mas?" tanya Brian santai.
"Hmmm.. bisa nggak kamu jagain Karin sebentar?, mas mau kekantor dulu, Karin lagi nggak enak badan, mamanya Karin dan saudaranya lagi liburan naik keret api, udah berangkat sejam yang lalu, mama mas juga ikut, jadi mas nggak tau mau nitip Karin sama siapa, sedangkan mas harus kekantor, cuma sebentar kok" ucap Sandi serius.
"Tapi mas, segenlah aku" Brian menolak secara halus.
"Cuma bentar kok Brian, mas wajib Brifing pagi ini". selesai brifing mas langsung balik" ucap Sandi menyakinkan.
"Karin tidur di kamar, mas takut dia jatuh dan pingsan lagi nanti kalau mau kekamar mandi"
"Okelah" ucap Brian pasrah.
Sandi kekamar dan mencium kening Karin.
"Sayang mas pergi bentar ya, diluar ada Brian yang jagain kamu, mas cuma bentar kok" lalu Sandi berlalu pergi.
__ADS_1
Setelah Sandi pergi Brian bingung mau ngapain, karena mereka hanya berdua saja, Karin tepat berada dibalik dinding tempat Brian duduk, Karin sendiri juga deg-deg an dengan suasana itu, Karin ingin bertemu Brian maka Karin pun mencoba bangkit, lalu menuju keluar tempat Brian, sesampai di pintu kamar, Karin menyebut nama Brian.
"Brian?" Karin terlihat lemah dan pucat sekali, matanya bengkak seperti habis menangis.
"Kakak kenapa berdiri?" tanya Brian.
Karin merasa pusing dan hampir jatuh karena dia mencoba berjalan dan mendekati Brian. Brian berlari menyambutnya, lalu memggendong Karin dan merebahkannya kembali keatas tempat tidur. sekarang mereka berdua berada dikamar, tanpa ada siapapun disana, hanya mereka berdua, kepala Brian hampir menyentuh kepala Karin saat akan membaringkan Karin ke atas tempat tidur, mereka terlalu dekat, mata dan bibir mereka hampir bersentuhan.
"Brian.. " ucap Karin lemah hingga nafasnya pun melekat pada wajah Brian, membuat naluri lelaki Brian bergairah.
"Ya kakak?" mereka masih dalam posisi dimana Brian masih membaringkan Karin, tapi belum melepaskan, hingga mereka bisa sedekat itu, Karin mencoba sedikit mengngkt kepalanya hingga bibirnya bisa menyentuh bibir Brian, Brian tidak tahan dengan suasana itu, lalu Brian membalas ciuman Karin, dan akhirnya mereka berciuman lama sekali. Karin mendesah, "agh....." Brian dan Karin larut mereka berciuman lagi dan lagi. Ciuman yang hangat, mereka melepas perasaan mereka, lalu Brian mulai menciumi leher Karin tapi setelah itu Brian berhenti.
"Maaf Karin, aku nggak bisa" ucap Brian .
Karin hanya terdiam, "aku telah diberikan kepercayaan oleh mas Sandi, aku laki-laki yang bisa menjaga sebuah kepercayaan, jadi maafkan aku" Brian lalu menunduk dan merasa malu atas sikapnya karena sempat menciumi Karin yang sedang lemah, dikamar mereka lagi, wajah Brian benar-benar merasa bersalah.
"Maaf kan kakak y dek" akhirnya Karin tidak lagi menyebut aku kamu.
"Iya kakak, adek juga, tidak semestinya kita seperti ini, kita telah diberikan kepercayaan oleh mas Sandi, lalu bagaimana kita bisa menghianatinya" Karin jadi jauh merasa lebih malu, karena seseorang bocah bisa lebih menghargai sebuah ikatan dan kepercayaan dibandingkan dirinya.
"Istirahat lah kakak, seperti nya hubungan kita ini harus diakhiri, dan lupakan adek, karena adek pun akan melakukan hal yang sama, ini untuk Kebaikan kita semua, terutama untuk kakak yang aku sayang, kakak adalah kakakku dan aku adalha adek mu, dan kita tidak akan merubah apapun dengan perasaan apapun".
Brian lalu berdiri, mencium kening Karin lalu beranjak keluar dari kamar, Karin hanya bisa menangis, betapa bodohnya dia, seseorang seperti Brian lah yang harus mengingatkan dia artinya kesetiaan, terlepas dari alsan Karin bahwa dia lebih banyak menghabiskan tawa dan bergurau bersama Brian dibanding suaminya sendiri yang memang sibuk bekerja demi dia dan anak-anaknya. Lalu apakah itu bisa dijadikan alasan untuk dia selingkuh? tidak, justru harusnya dia semakin setia menunggu dan memberikan cinta nya kepada suaminya itu.
Maaf kan aku sayang, maafin aku mas Sandi, aku telah mencoba menghiatnati cinta dan kepercayaan yang kamu berikan padaku, Karin kembali menangis tersedu sedu, sedangkan Brian tetap berdiri diluar, diantara dinding kamar sebagai pembatas mereka itu, Brian mendengar tangisan rasa bersalah dari Karin, tapi Brian tidak lagi mau memasuki kamar itu, apabila Karin mau dia yang harus keluar dan menghampiri Brian ,tapi hanya sebatas kakak kepada adeknya, tidak boleh lebih, tidak boleh spesial, karena kalimat pengecualian itu akan mendatangkan debaran-debaran baru.
__ADS_1