
.
.
.
.
.
"Jangan sedih, bulan depan pasti kamu udah ga kedatangan tamu bulanan lagi" Ujar Mas Gerry menenangkanku.
Aku mengangguk sedih "Kamu pasti kecewa mas.."
"Tentu saja, kamu lagi datang bulan gimana mas ga kecewa? mas kan jadi ga bisa minta jatah sama kamu" Ucapnya cemberut.
Dia menuntunku menuju ranjang dan mengajakku duduk disana "muka kamu jangan ditekuk seperti itu sayang, nanti setelah tamu bulanan kamu selesai mas akan ajak kamu lembur siang malem"
Ku cubit pelan pinggangnya "Emangnya siang-siang kamu ga kerja?"
"Nanti kalo jam istirahat mas pulang dong.. minta jatah kamu, habis itu balik kantor lagi" Ucapnya dengan cengiran di wajahnya.
"Bisa banget kamu mas.. mentang-mentang udah jadi bos?" Cibirku pura-pura sewot.
"Iya.. dan ternyata enak sekali jadi bos" Guraunya kemudian tertawa.
Kedua tangannya yang kekar merengkuhku kedalam pelukannya yang hangat. Sangat menyenangkan dan sangat menenangkan. Ku balas pelukannya tak kalah erat.
"Kamu biasanya kalo datang bulan berapa hari?" Tanyanya tanpa mengendurkan pelukannya sedikitpun.
"Satu minggu mas.. kenapa?" Tanyaku penasaran.
Dilepaskan pelukannya pada tubuhku kemudian mencium bibirku sekilas "Minggu depan kita honeymoon, kamu bilang sama mas kalo ada tempat yang pengen kamu datengin"
"Asal perginya sama kamu, aku sih ngikut aja mas.." Ujarku dengan kembali memeluknya.
"Kalo bukan sama mas, lalu sama siapa? kan mas emang suami kamu" Ujarnya dengan nada sedikit kesal.
Kepalaku mendongak menatap kedua mata hazelnya yang sangat kusukai "Ga peka banget kamu mas, lagi di gombalin juga"
__ADS_1
Dia mencubit hidungku gemas "Ga ngena" jawabnya usil.
Ku kecup bibirnya sekilas "Udah kena?"
"Lagi..." Ujarnya sambil menunjuk pipi kirinya.
"Lagi..." Ujarnya lagi menunjuk pipi kanannya setelah pipi kirinya ku kecup.
"Aku lagi lampu merah lho mas.. Kamu ga takut nanti kepengen?" Ujarku mengingatkan.
Dan wajahnya berubah cemberut "Mas mau main sama Aslan aja, ga berbahaya. Kalo sama kamu, takut kena tilang karena nerobos lampu merah" Ujarnya yang kemudian berdiri dan pergi menghilang di balik pintu.
Baru beberapa detik pintu yang tadi tertutup kini terbuka lagi. Dan kepala mas Gerry muncul begitu saja "Kamu disini aja, sambil nyari tempat yang kamu pengen untuk kita honeymoon" Ujarnya kemudian kembali menghilang di balik pintu.
***
Begitu aku membuka pintu rumah, ku dapati Jonathan sedang tersenyum lebar dengan Lily berada dalam gendongannya. Aku menjulurkan kepalaku ke kanan dan ke kiri di belakang punggung Jonathan, berharap ada Jessy juga.
"Jessy mana Jo? kenapa ga kamu ajak?" Tanyaku begitu Jonathan langsung melenggang masuk kedalam rumah dan menghempaskan dirinya di sofa ruang tamu.
"Ga enak badan dia, bilangnya sih pusing. Gerry mana Mel?" Tanya Jonathan yang sekarang sedang memangku Lily.
Bocah itu menggelengkan kepalanya takut dan bersembunyi menyembunyikan wajahnya di dada Jonathan.
"Anak kamu pemalu banget Jo, ga kaya kamu. Yang suka nyablak ngomongnya dan ga pernah punya rasa malu" Gurauku sambil mengelus rambut Lily yang sedikit pirang.
"Jangan mulai deh Mel.. ga takut aku terkam kamu?" Balasnya ikut bergurau.
"Hadapi mas Gerry dulu.." Jawabku dan kemudian kami tertawa.
Kami menyusul Mas Gerry dan Aslan yang sedang asyik bermain air. Mas Gerry hanya melambaikan tangan pada Jonathan kemudian kembali fokus mengajari Aslan berenang.
"Jessy sakit apa Jo?" Tanyaku setelah Mbak ijah membawakan kami minuman dan cemilan.
"Ga tau, bilangnya cuma pusing. Tapi dari kemaren-kemaren ga ilang-ilang pusingnya" Ujar Jonathan sedikit kesal.
"Hamil mungkin.." Ujarku asal.
Dan jonathan yang sedang minum pun tersedak hingga terbatuk-batuk tak berhenti-berhenti.
__ADS_1
Aku tersenyum melihat raut wajahnya yang sedikit merah "Syukurlah kalo kamu mau mendengarkan kata-kata ku dan mas Gerry Jo.. Aku sangat senang mendengarnya"
"Apa'an sih" Ujarnya berusaha menyangkal.
"Sayang mau main air sama Daddy Gerry?" Tanya Jonathan kepada Lily yang aku tau dia sedang menghindari pembicaraan kami yang mungkin sensitif baginya.
Lagi-lagi Lily menggelengkan kepalanya dan masih asyik memakan cemilan yang di bawakan Mbak ijah tadi.
"Kamu harus antar Jessy ke dokter kandungan Jo, kelihatannya dia memang sedang hamil. Biar dikasih resep dan vitamin agar Jessy dan calon anak kalian sehat" Ujarku mengingatkan.
Kali ini Jonathan tidak menyangkalnya. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu dan asyik dengan pikirannya sendiri. Namun wajah Jonathan jelas memperlihatkan raut kekhawatiran.
"Aku ga tau Mel.. sama perasaanku sekarang ke Jessy" Ujar Jonathan dengan mata menerawang.
"Bersyukurlah dengan apa yang kamu miliki sekarang Jo. Wanita seperti Jessy, tidak ada dua nya di dunia ini. Seandainya aku jadi Jessy pun, aku ga akan mungkin bisa bertahan" Ujarku kembali menasehati.
Jessy adalah wanita yang sangat hebat di mataku. Bagaimana tidak? Di saat ada wanita lain di hati Jonathan, dia masih begitu sabar meskipun hatinya hancur. Di saat Jonathan berkali-kali menyakitinya, dia tak bergeming sedikitpun.
Wanita dengan kesabaran luar biasa seperti Jessy tidak boleh di sia-siakan. Karena hanya akan berujung penyesalan jika Jonathan memilih untuk meninggalkannya.
Namun dari sorot mata Jonathan sekarang, sepertinya ada perubahan dalam hubungan mereka. Bahkan menurut cerita Mas Gerry, Jonathan tidak pernah menyentuh Jessy setelah mereka resmi menikah.
Jika memang benar Jessy sekarang sedang hamil, Maka itu artinya hubungan mereka sudah lebih baik.
Drrrrttttt drrrrttttttt drrrttt
Suara ponsel Jonathan memecah keheningan diantara kami. Namun melihat wajah Jonathan yang memucat setelah menerima panggilan di ponselnya itu membuatku sedikit khawatir.
"Ada apa Jo?" Tanyaku sedikit khawatir.
Dia beranjak berdiri dan menggendong Lily "Jessy pingsan, dan sekarang sedang dalam perjalanan ke rumah sakit" Ujarnya yang kemudian pergi dengan tergesa-gesa.
TBC
Maaf atas keterlambatan update nya..
Sedang butuh banyak inspirasi ini, dikarenakan kurang piknik.
Jangan Lupa Like&Comment lho ya....
__ADS_1
Thanks utk vote & Syemangatt nya 😘😘😘