
.
.
.
.
.
Kupandangi Caramel yang berlalu begitu saja dari hadapanku dengan memeluk Gerry dan memamerkan kemesraan mereka dengan sengaja. Aku marah, Aku cemburu. Dia dulu istriku yang begitu mencintaiku. Tapi sekarang dia tak menganggap ku sama sekali.
Sudah 2,5 tahun kami bercerai. Dan selama itu pula aku jarang bertemu dengannya. Tapi akhir-akhir ini, Dia seperti selalu berada di sekitarku. Dan pikiranku.
Aku menyesal. Sangat menyesali keputusanku untuk melepaskannya. Seandainya dulu aku tidak menerima permintaannya untuk bercerai, aku mungkin tidak akan sekacau ini.
Bercerai demi Kirana yang pada akhirnya aku tau, aku tak pernah benar-benar ada di hatinya.
"Siapa tadi?" Tanya Mahesa, teman sekantorku yang sekarang sedang duduk bersamaku.
"Mantan istriku" Jawabku tanpa menoleh padanya.
"Cantik banget mantan istri elo. Yang sama dia tadi pacarnya?" Tanyanya lagi.
Aku benar-benar malas menjawabnya. Atau aku benar-benar masih kesal dengan sikap Caramel tadi. Juga sikapnya yang selama ini selalu menjauh saat ku dekati.
Ku acak rambutku frustasi "Bentar lagi juga putus" jawabku asal.
"Elo pengen rujuk ya?" Tanyanya sambil ikut menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
__ADS_1
"Emang kayak gitu, yang namanya mantan itu bisa berkali-kali lebih cantik kalo lagi gandengan sama pacarnya" Ujarnya bergurau.
Tak kuhiraukan gurauannya yang memang pas sekali. Caramel memang terlihat sangat cantik, bahkan lebih cantik dari dulu saat dia masih muda. Tubuhnya lebih berisi karena pernah melahirkan. Meskipun pernah gendut saat menjadi istriku. Tapi sekarang?
Aku melihat para laki-laki di sekelilingnya menatap tubuh moleknya yang sedikit terbuka. Aku tidak suka dengan tatapan para laki-laki itu, yang seakan ingin menerkamnya. Aku sendiripun harus menelan ludah ketika berhadapan dengan Caramel yang sekarang.
Dan seakan ada yang menyentil hatiku. Rasanya sakit sekali. Ketika dia yang dulu begitu mencintaiku, sekarang mengacuhkanku. Aku tau aku salah, Dan aku sangat menyesal.
"Akan gue pastiin buat rujuk lagi sama dia, demi anak kita" Ujarku kekeuh.
Selama janur kuning belum melengkung, aku masih boleh berusaha bukan?
"Kemarin kemana aja bang? Giliran udah di gandeng orang, elo yang kepanasan" Sindirnya disertai gelak tawa.
"Sial*n lu..!" Ku pukul lengannya keras namun dia masih tertawa girang.
Ku pejamkan mataku di tengah hingar bingar alunan musik yang menggema. Namun hanya wajah Caramel yang muncul dalam pikiranku. Tingkah manjanya saat bersama Gerry itu, dulu dia juga begitu padaku.
Ku buka mataku dan kudapati wanita yang bersama Caramel tadi yang mengaku bernama Vero sedang duduk di sebelahku.
"Bukan urusan elo" Ujarku kembali menutup mataku.
"Biarin dia bahagia. Sudah cukup elo bikin dia trauma untuk menjalin sebuah hubungan" Ujarnya memperingatkanku.
"Tolong jangan ganggu kebahagiaan Caramel" imbuhnya lagi.
"Peduli amat elo" Ucapku ketus.
"Jangan galak sama cewek cantik Rey..." Ujar Mahesa yang sedari tadi hanya menjadi pendengar.
__ADS_1
"Dia belum ketemu pawangnya, makannya galak. Jangan di ambil hati ya.." Ujar Mahesa berusaha melerai.
"Elo udah di buang Kirana?" Sindir Vero padaku.
Seketika ku buka mataku, aku terkejut dia mengetahui cerita tentangku. Seberapa dekat mereka? hingga tau tentang Kirana? Ku gandeng tangannya dan ku ajak pergi menjauh dari Mahesa.
Beruntungnya Mahesa tidak tau siapa Kirana. Dia hanya tau bahwa salah satu atasan kami adalah Maysha Widjaya, bukan Kirana. Dan jika sampai Mahesa tau tentang affair kami. Karir ku taruhannya.
"Stop.. jangan tarik-tarik tangan gue atau gue panggilin keamanan!" Teriaknya kesal.
Ku lepaskan tangannya "Siapa elo sebenernya?"
"Gue sahabat baik Caramel, yang tau semua cerita busuk elo sama Kirana" Ujarnya sambil berlalu menuju sebuah ruangan.
"Dan gue peringatkan sekali lagi, jangan pernah berharap untuk bisa mendekati Caramel. Hati dia udah sembuh dari luka yang elo perbuat. Jadi jangan sekali-kali elo berani buat ngancurin hidupnya lagi" Ucapnya yang kembali membuka pintu dan membantingnya dengan keras.
Aku kembali dan duduk di meja depan bartender. Ku usap wajahku dengan kasar. Aku hampir putus asa. Begitu banyak wanita cantik lainnya tapi mengapa yang ada di pikiranku malah selalu mantan istriku?
Sayup-sayup aku mendengar seseorang menelfon dengan menyebut nama Caramel. Apa yang dia maksud adalah Caramel mantan istriku? Ku lirik sekilas laki-laki di sebelahku. Sepasang mata biru yang juga sedang menatapku.
Dan tiba-tiba saja Vero sudah berada di depan laki-laki itu dan mengumpat kesal "Kalo gue harus dengerin curhatan soal Caramel lagi, gue ogah. Elo curhat nih berdua sama dia. Yang sama-sama gagal move on dari Caramel" Tunjuknya padaku dan berlalu begitu saja.
"Shi****..!! Bahkan bule ini pun suka sama Caramel????"
TBC
Like & Comment jangan sampai lupa ya...
Buat semangatin Author 😘😘
__ADS_1
Terima kasih untuk Vote nya...
Terima kasih yang sudah mampir baca 💖💖💖