Wanita Penggoda

Wanita Penggoda
Lagi ?


__ADS_3

.


.


.


.


.


.


"Skali lagi ya?" pinta mas Gerry yang sekarang sedang mengekoriku kemananpun aku berjalan.


"Sayang..." rayunya lagi.


Aku yang sedang memotong buah-buahan di dapur menggelengkan kepalaku pelan. Tak habis pikir dengan suamiku yang pagi-pagi sekali menggangguku untuk meminta lagi.


"Ayolah sayang.." Ujarnya lagi sambil meletakkan dagunya di pundakku.


Ku balik badanku dan melirik sekilas ke arah Mbak Ijah yang sedang sibuk memasak "Mas ga malu sama mbak Ijah?" bisik ku pelan.


"Enggak... ngapain malu sih" Ucapnya cemberut.


"Mumpung Aslan belum bangunnnn..." Ucapnya lagi dengan gemas.


"Semalam kan udah nambah berkali-kali mas.." Bisikku lagi tak kalah gemas.


"Maklumin aja lah sayang.. namanya juga kan pengantin baru. Wajar dong nambah terus.." Cengirnya kemudian mencuri sebuah kecupan di bibirku.


Aku terkejut "Udah di bilangin, ada mbak Ijah mas... kamu ga tau malu banget"


"Mas ga peduli" Setelah dia mengatakan itu, dia menggendongku dengan paksa.


"Turuninn mas.. malu ih.." Ucapku yang sesekali meronta.

__ADS_1


Mbak Ijah yang memang sudah mendengar percakapan kami sedari tadi, melihat kami dan tersenyum-senyum sendiri. Aku malu, ku sembunyikan wajahku di dada mas Gerry yang saat ini sudah menaiki anak tangga menuju kamar kami.


"Kamu tuh ya mas... jangan bikin aku malu gitu dong di depan mbak Ijah.. ga tau malu banget kamu mas.." Ucapku setelah mas Gerry membaringkanku di ranjang.


"Nolak suami dosa lho..." Dia mengingatkan.


"Lagian, mereka pasti paham kok sayang... kita kan pengantin baru" Ucapnya tak mau kalah.


Ku tangkup kedua pipinya yang saat ini sudah berada di atasku "Jangan di ulangi lagi ya.. jangan begitu di depan pembantu. Aku ga enak sama mereka.."


"Iya..." Jawabnya kemudian mulai mencium bibirku dengan lembut. Tangannya yang nakal mulai menyusup di balik bajuku. Hingga tak sehelaipun baju menempel pada tubuhku dan tubuhnya.


Berapa kalipun kami melakukannya, sepertinya tidak ada kata bosan. Rasanya selalu menyenangkan. Bisikan-bisikannya yang lembut di telingaku. Sentuhan nya yang selalu membuatku kehilangan akal sehatku. Desahan dan erangan kami yang memenuhi kamar kami. Juga permainan yang begitu menggairahkan.


Jika mengingat betapa besar perjuangan kami hingga kami bisa sejauh ini, membuat apa yang sedang aku dan mas Gerry lakukan sekarang, rasanya menjadi berkali-kali lebih nikmat.


"Emmmhhhh"


Aku mendesah nikmat saat dia mengecupi punggungku yang terbuka dengan masih mendorongku dengan posisiku yang tengkurap. Bahkan sekarang, aku sangat menginginkan benih yang di tanamnya di rahimku menjadi seorang anak yang akan melengkapi kebahagiaan kami.


"Aahhhhhh"


Dan saat dia ambruk dengan ****** ***** yang menyembur sempurna di rahimku, aku memeluknya penuh cinta. Dia kembali menekan pinggangnya dan menggodaku.


"Masih bisa sekali lagi?" Tanya nya dengan penuh harap.


Ku dorong tubuhnya ke sampingku dan menyelimuti tubuhku yang telanjang sempurna dengan selimut "Bisa pingsan aku mas kalo kamu seperti ini setiap hari" Gurauku.


Dia ikut masuk kedalam selimut dan memelukku "Salahkan dirimu, karena setiap apa yang kamu lakukan, selalu bisa membuat mas tergoda"


"Gombal.." Aku mencebik tak percaya.


"Bahkan dengan wajah kamu yang lagi kesel sama mas kayak gini pun bisa buat bagian bawah tubuh mas bangun lagi.." Ujarnya di iringi dengan seringai di wajahnya.


"Maaaassss..." Aku mencubit pinggangnya kesal.

__ADS_1


Namun dia kembali mencium leherku dan menjelajah tubuhku dengan bibir dan lidahnya yang panas. Dan sekali lagi aku kalah, aku menggelinjang geli dan mendesah pelan saat dia mulai memasukiku lagi.


Bahkan saat kami selesai dan aku membersihkan diriku di kamar mandi pun dia masih mengekoriku, dan tentu saja kami melakukannya, LAGI.


***


"Maaf tuan, nyonya.. Saya terlambat 2 hari dari waktu yang ditentukan oleh tuan besar. Saya harus mengurus suami saya yang sedang sakit. Saya sudah meminta ijin kepada tuan besar dan beliau mengijinkannya" Ucap seorang wanita yang sekarang berdiri di hadapan ku dan mas Gerry.


"Saya Ninik, Tuan besar yang mempekerjakan saya sebagai pengasuh tuan muda. Skali lagi saya mohon maaf atas keterlambatan saya" Ucap Ninik sopan dan sedikit membungkukkan badannya.


"Tidak apa-apa mbak.. apa suami mbak Ninik sudah sembuh sekarang?" Ucapku karena melihat raut wajah Ninik yang sedikit merasa bersalah.


Ninik mengangkat wajahnya karena terkejut "Sudah nyonya.. Suami saya sudah sehat. Sekarang saya bisa menjalankan tugas saya" Ucapnya sumringah.


"Alhamdulillah.. Kamu bisa langsung ke belakang dan menaruh barang-barang kamu di kamar yang sudah mbak Erna siapkan"


"Nanti untuk seterusnya, panggil anak saya Den Aslan saja ya.. jangan tuan muda" imbuhku lagi.


Ninik mengangguk dengan semangat "Baik nyonya..." Kemudian pergi meninggalkan kami.


"Kenapa sih? biar saja lah kalo mereka manggil Aslan tuan muda.." Ucap mas Gerry angkat bicara.


"Kuping aku gatel mas.. ga biasa kayak gitu. Mereka panggil aku nyonya-nyonya terus aja rasanya bener-bener ga enak di denger" Ucapku sebal.


"Nanti juga kamu terbiasa sayang... lagian kan emang bener.. kamu ini nyonya Gerry, istrinya tuan Gerry. Apa yang salah coba?" Ujarnya dengan mencubit hidungku.


"Tetep aja ga enak mas.. di dengernya" Aku masih ngeyel.


"Mau yang enak-enak trus dapet pahala gak?" Tanya mas Gerry dengan senyum jahilnya.


"Maaasssssss...." teriakku gemas dan di sambut dengan tawa renyahnya.


TBC


Jangan lupa Like & Comment ya say..

__ADS_1


Dukung selalu Author dengan semangat kalian...😍😘


Terima kasih untuk Vote nya ya 😘


__ADS_2