
.
.
.
.
.
.
Sudah 2 minggu aku dirumah, tapi baru kali ini Gerry susah sekali dihubungi. Ku lirik lagi ponsel yang sedari tadi tergeletak di atas meja di depan ruang televisi. Sedangkan aku duduk di depannya menopang dagu, tak berkonsentrasi dengan televisi yang sudah menyala sedari tadi.
Kaki kiriku ku selojorkan dan yang kanan ku tekuk dengan punggung yang sedikit menyandar pada sofa.
Sudah 2 hari ini dia tidak bisa dihubungi. Jonathan pun tak tau karena dia juga belum bertemu dengan Gerry selama seminggu.
"Di depan ada ayah mah.. Ayah bilang mau nomong tama mama" Ujar Aslan yang berlarian ke arahku.
Aku sedikit bersusah payah untuk bangkit namun sebuah tangan membantuku berdiri "Aku bisa sendiri mas.."
"Aku hanya ingin membantu sedikit Mel.." Ujarnya yang masih memegang lenganku.
Dan setelah aku duduk di sofa di depan televisi, Mas Reyhan ikut duduk.
"Maaf ga bisa ambilin minum, ibuk sedang keluar tadi" Ucapku dan membenahi posisi duduk ku agar lebih menjauh dari mas Reyhan.
"Ga apa-apa, cuma mampir bentar kok. kebetulan tadi ada tugas di luar kantor dan deket dari sini. Jadi mampir mau lihat Aslan sama nengokin kamu" Jelasnya seperti tau maksutku.
"Kamu udah baikan?" imbuhnya.
"Tinggal kaki aja yang masih dalam proses pemulihan" jawabku sambil mengarahkan pandanganku ke televisi.
__ADS_1
"Syukurlah, maaf ga bisa jenguk kamu waktu di Jakarta. Aku harus kembali kesini karena harus kasih laporan soal tugas ku saat di kantor pusat" Ujarnya yang aku tau dia memandangi kakiku yang masih diperban.
"Maaf juga karena aku.."
"Bukan salah kamu mas.." Aq memotong perkataannya karena tau dia akan menyalahkan dirinya atas sikap Kirana padaku.
"Sudah ga perlu di bahas lagi. Aku capek mau istirahat.." Aku beranjak berdiri dan berjalan tertatih menuju kamarku.
Sebelum aku membuka pintu kamarku yang terletak tak jauh dari tempat kami mengobrol tadi aku menoleh padanya dan menegaskan "Kalo kamu kesini untuk ketemu Aslan, silahkan saja. Tapi kalo kamu kesini untuk berbasa-basi denganku, aku tidak bisa. Kita sudah punya hidup masing-masing mas. Tolong jangan ganggu aku lagi"
Ku tutup pintu kamarku tanpa mengharap akan mendapatkan balasan atas perkataanku pada mas Reyhan. Aku sudah benar-benar muak. Tak ada air mata lagi untuk nya. Semua sudah berakhir. Rumah tanggaku dengannya, Rasa cintaku untuknya, bahkan luka hatiku karenanya.
Seperti udara sejuk yang kuhirup setiap subuh, rasanya sangat menyenangkan. Hatiku terasa ringan setelah melepas semua yang berhubungan dengan mas Reyhan. Meskipun adanya Aslan masih akan selalu mengingatkanku padanya, namun semua perasaan untuknya sudah ku akhiri.
Kembali aku melihat ponselku yang ku genggam di tanganku. Aku berbaring dan menatap ponselku dengan nanar. Apa yang membuat Gerry menghilang begitu saja 2 hari ini?
Ku telfon dia sekali lagi namun tetap tidak tersambung. Pesan-pesanku pun tak di balas sama sekali. Hatiku mulai risau, takut sesuatu terjadi padanya. Aku takut om Rendra masih menghalang-halangi hubungan kami dan membuat Gerry memutuskanku.
Ting
Sebuah pesan masuk di ponselku.
Aku bergegas mengambilnya dan membacanya.
"Kita pernah saling mencintai dulu, kita menikah juga karena cinta. Aku tidak akan menyerah. Akan kutumbuhkan kembali cinta itu dihatimu. Aku tidak akan menyerah"
Dari mas Reyhan. Ku abaikan saja. Aku pikir itu dari Gerry yang sudah membalas pesanku. Ku lempar kembali ponselku ke sampingku dan aku memejamkan mataku. Rasanya tiba-tiba saja aku mengantuk. Belum sempat aku tertidur suara ketukan di pintu kamarku terdengar.
Dan ibu masuk ke kamarku "Ganti bajumu dengan gaun yang bagus nduk, akan ada tamu sebentar lagi"
Kemudian ibu pergi keluar dan menutup pintu kamarku tanpa penjelasan apapun. Ku dengar ibu berteriak memanggil Aslan yang sedang bermain dirumah pakde Ruslan.
Aku menuruti ibu dan mengganti bajuku dengan gaun putih sederhana yang terlihat sopan. Mungkin ada saudara-saudara yang ingin menjengukku. Pikirku.
__ADS_1
Karena kemarin, Ibu bilang Kak Surya sekeluarga juga mertuanya ingin datang menjengukku. Keluarga kami dan keluarga mertua kak Surya memang terjalin dengan sangat baik. Bahkan terkadang ibu mertua Kak Surya sering kesini hanya sekedar menanyakan kabar ibu atau bapak.
Tak ada salahnya memakai sedikit lipstik agar wajahku tidak terlalu pucat. Aku masih duduk di depan cermin melihat wajahku sekilas. Kenapa pipiku sepertinya menjadi tambah berisi?
Ku tangkupkan kedua tanganku di pipiku. Benar sekali, mungkin karena sudah 3 minggu aku hanya makan dan tidur saja dan tidak melakukan aktivitas lainnya.
Ibu kembali mengetuk pintu dan masuk. Ibu melihatku masih duduk di depan cermin "Sudah siap nduk?" tanya ibu.
Aku mengangguk.
"Siapa si buk yang dateng? sampai aku harus pakai gaun segala.." Aku bertanya dengan melihat ibu dari cermin.
"Tamu dari jauh" Jawab ibu singkat dan membantuku berdiri.
"Mama tantik, tapi jalannya tayak lobot" Ucap Aslan yang tau-tau sudah berada di belakang ibu.
Aku tersenyum mendengar celoteh Aslan. Ku usak sedikit rambutnya karena gemas.
"Janan di belantatin ma lambut Alann.. Udah dicicilin tama mbah Uti tadi" Ucap Aslan sewot.
Aku malah tertawa melihat Aslan yang bersungut-sungut kesal. Tapi kenapa Aslan juga terlihat begitu rapi?
Kami berjalan menuju depan rumah, dan tak menunggu lama sebuah mobil berhenti di depan rumah. Mobil yang tidak ku kenal.
Saat pintu kemudi terbuka aku terperangah melihat Gerry dengan kemeja putih polos lengan panjang membukakan pintu belakang untuk seseorang. Dan aku lebih terkejut lagi ketika melihat tante Luna tersenyum padaku dengan sangat cantik. Disusul dengan om Rendra yang keluar dari pintu sampingnya.
"Ada apa ini buk?" Bisikku kepada ibu yang berada disampingku. Sementara Aslan sudah berlarian menyusul Gerry dan minta di gendong.
TBC
Like dan komentarnya jangan kendor ya kak...
Terima kasih utk vote nya 💖💖💖💖
__ADS_1