Wanita Penggoda

Wanita Penggoda
Penyesalan


__ADS_3

.


.


.


.


.


.


.


Aku mendongak menatap mas Reyhan yang sekarang sedang berdiri menjulang di hadapanku "Kamu ngapain disini?" tanyaku heran.


"Ngilangin suntuk sama teman-teman kantor. Kebetulan lagi ada urusan di kantor pusat. Jadi sekalian jalan. Kamu sendiri ngapain disini?" Dia balik bertanya dan duduk di sampingku tanpa sungkan.


Ku geser sedikit badanku untuk memberi jarak di antara kami "Lagi jalan juga sama temen ini" Ucapku sambil menunjuk Veronica dengan daguku.


"Haiii... Gue Vero" Ucap Veronica memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya.


"Gue Reyhan" Dia menyambut uluran tangan Veronica yang menggantung di udara.


Lagi-lagi aku melihat tatapan mas Reyhan yang benar-benar membuatku risih. Pahaku memang sedikit terbuka karena baju yang kupakai memang memperlihatkan paha dan bahu ku yang terbuka.


Entah kenapa, aku tak peduli pada tatapan orang lain. Tapi begitu melihat mas Reyhan yang menatapku sedemikian rupa, aku benar-benar risih di buatnya.


"Ga jalan sama pacar kamu?" Tanyaku santai sambil meminum segelas orang juice dari mejaku.


Aku juga tidak tau kenapa aku bisa sesantai ini berbicara dengannya. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Padahal sebelumnya, hanya melihat wajah Aslan yang mirip dengannya saja hatiku sudah sangat sakit.


Dan sekarang, aku sudah tak ambil pusing dengan masalalu. Apa karena sekarang ada Gerry? Dan benar dia yang menyembuhkan lukaku? Atau, aku sedang terlalu kalut dengan pertemuanku dengan tuan Rendra, papanya Gerry?

__ADS_1


"Jangan bahas itu" Ucapnya sedikit ketus.


"Kenapa? putus?" Sindirku.


Dia hanya menghembuskan nafasnya kasar dan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. matanya menerawang menatap langit-langit klub malam yang di penuhi dengan lampu gemerlap.


"Gue permisi sebentar.." pamit Veronica yang seperti tak ingin menjadi pendengar dalam obrolan kami.


"Kemana kak?" Tanyaku yang sebenarnya hanya ingin mencegahnya agar tak meninggalkanku.


"Kalian ngobrol aja.. Aku mau ketemu kenalanku di meja pojok sana" Ucapnya sambil melambaikan tangan ke arah pojokan klub. Tentu saja dia kenal banyak orang disini. Karena dia pemilik tempat ini.


Aku mengangguk pasrah "Baiklah.."


Kulihat mas Reyhan yang tak terusik dengan kepergian Veronica. Dia masih bersandar pada punggung sofa dengan mata terpejam.


"Dia meninggalkanmu begitu saja setelah merusak Rumah tangga kita?" Aku tersenyum sinis.


Dia menegakkan badannya dan menatapku "Maaf Mel... Aku benar-benar menyesal.."


"Harusnya aku ga ninggalin kamu dan Aslan" Lirihnya hampir tak terdengar. Teredam suara hingar bingar alunan musik.


"Apa ga ada lagi kesempatan untuk kita menata Rumah tangga kita lagi Mel? setidaknya demi Aslan.." imbuhnya lagi.


Ku letakkan orange juice yang sedari tadi ku pegang di tanganku ke atas meja "Aku sudah pernah memberimu kesempatan mas. Ingat? tapi kamu menyia-nyiakan nya"


"Aku benar-benar sangat menyesal Mel..." Ujarnya sambil berusaha meraih tanganku namun berhenti. Kulihat matanya yang nanar menatap cincin di jari manisku.


"Menyesal karena melihatku berubah menjadi lebih cantik?" Sindirku lagi.


"Maaf.." Ujarnya pelan.


Aku benar-benar muak dengan permintaan maafnya yang selalu di ulang-ulang seperti kaset rusak.

__ADS_1


"Cincin itu..."


"Iya.." Ku sela pertanyaannya yang menggantung. Aku tau apa yang ingin dia katakan saat melihat cincin yang melingkari jari manisku.


"Apa kamu yakin?" Tanyanya dengan nada meledek.


"Seumur hidup, Aku ga pernah se-Yakin ini dalam mengambil keputusan" Jawabku dengan menekankan setiap kata.


"Keluarga mereka.."


"Aku tau" Sela ku lagi yang tak ingin mendengar dia menjelek-jelek kan Gerry lagi seperti dulu.


"Kamu berubah Mel..." Ujarnya sambil kembali bersandar pada punggung sofa "Menjadi sangat dewasa" imbuhnya lagi.


"Rasa sakit yang menjadikan aku seperti ini" ku aduk-aduk orange juice yang masih setengah gelas itu.


"Maaf sudah melukaimu sedalam itu" Ujarnya penuh penyesalan. Entah itu yang sebenarnya dia rasakan atau hanya pura-pura karena sekarang sepertinya dia sudah ditinggalkan Kirana.


Nyeri sekali rasanya dadaku. Ku tahan sekuat hati agar aku tak menangis. Aku benar-benar tak ingin terlihat lemah hanya dengan mendengar kata maaf nya. Sudah terlambat. Bahkan sangat terlambat.


Aku mungkin bisa memaafkanmu, tapi apa arti sebuah maaf? Jika aku tidak akan pernah lupa, Betapa angkuh kamu melukaiku dulu?


"Sayang? kamu baik-baik saja?" Tiba-tiba saja tangan Gerry sudah menggenggam tanganku.


Ku pandangi lekat wajah laki-laki yang sekarang duduk di sampingku, rasanya menenangkan sekali saat ada dia di sisiku. Ku genggam lebih erat lagi tangannya. Bahkan dadaku sudah tak terasa nyeri lagi.


"Aku baik-baik saja"


TBC


Jangan lupa like ya yang udah baca....


kritik, saran dan komentarnya ditunggu lho..

__ADS_1


Terima kasih poinnya..


Terima kasih sudah mampir baca 💖💖💖


__ADS_2