
.
.
.
.
.
.
"Naura?" Ucap Gerry tampak terkejut.
Wanita bernama Naura itu mengangguk dan malah mencondongkan wajahnya untuk mencium pipi kiri dan kanan Gerry.
"Kamu apa kabar Gerr?" Tanyanya antusias tanpa melihatku yang berdiri disamping Gerry.
Gerry sedikit canggung dan melirikku sekilas.
"Sorry... Aku ga nyangka banget bisa ketemu kamu setelah sekian lama" Naura melirikku dan memandangku dari atas kebawah "ini istri kamu?" tanyanya.
"Calon istri" Jawabnya acuh.
Apa yang terjadi, kenapa sorot mata Gerry seperti itu saat melihat wanita yang bernama Naura itu. Aku pernah melihat sorot mata Gerry yang seperti itu, saat aku memilih meninggalkannya dulu.
"Siapa mas?" Aku berusaha sopan.
"Temen kuliah mas dulu" Jawabnya dengan nada dingin.
"Naura, kenalkan ini Caramel calon istriku" Ucapnya memperkenalkan kami.
Aku mengulurkan tanganku dan disambut dengan uluran tangannya tanpa sungkan.
"Aku Naura, temen deket Gerry saat kuliah dulu" Ujarnya memperkenalkan diri.
"Kalian sudah mau pergi?" Tanyanya setelah melepaskan genggaman tangannya padaku.
"Iya" Jawab Gerry singkat "Duluan ya..." Pamitnya terburu-buru sambil menggandeng tanganku.
"Gerr..." Panggil Naura saat kami baru berjalan beberapa langkah.
__ADS_1
"Minggu depan ada Reuni, acaranya 5th sekali tapi kamu ga pernah datang sama sekali. Apa kali ini kamu bisa datang?" Ucapnya setengah berharap.
"Aku usahakan" Jawab Gerry singkat dan kembali menggandengku berjalan keluar restoran.
Kenapa Gerry seperti menghindar dari Naura? Apa ada yang terjadi di masalalu? Kali ini aku baru sadar, aku belum begitu mengenal Gerry. Apalagi, bagaimana kehidupannya dulu sebelum menikah dengan Kirana.
***
Aku tak berani bertanya apapun kepada Gerry. Karena melihat sikapnya yang tak seperti biasanya ini membuatku sedikit takut. Aku takut akan menyinggungnya jika aku bertanya tentang siapa wanita bernama Naura tadi hingga membuatnya menjadi seperti ini.
Biarlah, ku pendam sendiri rasa penasaranku. Nanti pasti dia akan bercerita padaku jika dia ingin.
"Gimana mas?" Tanyaku ketika aku mencoba sebuah baju pengantin.
"Hah? bagus.. kamu cantik sekali sayang.." Pujinya padaku.
"Betul sekali... kamu cantik sekali memakai baju pengantin ini. Modelnya tidak terlalu glamor. Sesuai dengan calon pengantinnya yang kalem" Ujar sang pemilik Salon.
Entah hubungan seperti apa yang dimiliki Gerry dengan Naura dulu. Hingga membuat dia menjadi seperti ini. Mungkin tubuhnya disini bersamaku. Tetapi pikirannya entah kemana.
"Apa tidak terlalu terbuka mas?" Tanyaku sekali lagi.
Aku kembali masuk ke ruang ganti. Ku pilih satu lagi baju pengantin dengan model sederhana dan tidak terlalu terbuka. Aku mematut diriku di cermin sebelum keluar untuk menanyakan pada Gerry tentang baju yang ku pakai saat ini.
"Mbak.. bisa minta tolong gelung rambut Saya ke atas? Sisakan sedikit di bagian kiri dan kanannya" Pintaku pada seorang karyawan yang menemaniku mencoba baju pengantin di ruang ganti.
"Baik mbak.." Jawabnya patuh dan mulai menata rambutku sesuai dengan arahanku.
Setelah selesai aku kembali keluar untuk menanyakan pada Gerry. Namun ku lihat dia duduk melamun dengan tatapan mata kosong. Lagi.
Aku hanya bisa menghela nafas panjang dan bersabar. Karena tidak biasanya dia seperti ini. Mengabaikanku.
"Yang ini gimana mas?" Aku berjalan ke arahnya dan memegang pundak nya.
"Mas?" panggilku sekali lagi.
"Ahhh iya, maaf" Dia terkejut dan menatapku yang sudah berdiri di hadapannya.
"Bagus, mas suka" Jawabnya singkat.
Sang pemilik salon yang bernama Callista pun ikut memandang Gerry dengan heran.
__ADS_1
"Kalo kamu ga suka yang sedikit terbuka, ini pilhan yang cocok untuk kamu" Ujar Callista.
Bahkan aku sudah menggelung rambutku agar dia memperhatikanku. Namun pikirannya masih tidak disini bersamaku.
"Apa lagi dengan model rambut seperti ini, kamu akan menjadi pusat perhatian saat menikah nanti" Ujar Callista sambil berdiri dan memegang pundakku untuk menghadap kesebuah cermin besar.
"Akan saya pikirkan lagi mbak.." Ujarku sedikit kecewa dengan sikap Gerry.
Callista melihat raut wajahku yang sedikit muram dan membiarkanku kembali keruang ganti tanpa berkata apa-apa. Ku pakai kembali bajuku dan keluar menghampiri Gerry yang lagi-lagi masih seperti itu.
"Kok udah?" Tanyanya heran begitu aku duduk di sampingnya.
"Lain kali saja mas kita kesini lagi. Nanti kalau pikiran kamu sudah ga kemana-mana" Ujarku dan beranjak berdiri.
Gerry terkejut melihatku terburu-buru berpamitan dengan Callista dan meminta maaf karena hari ini aku belum bisa menentukan pilhanku karena Gerry sedang tidak baik-baik saja.
Dia mengejarku dan menarik tanganku hingga aku berhenti melangkah "Kamu kenapa sayang?" Tanyanya sedikit khawatir.
"Ga knapa-napa mas, antar saja aku pulang" Kulepas genggaman tangannya dan mendahuluinya masuk kedalam mobil.
Dia terdiam sebentar sebelum mengikutiku masuk kedalam mobil dan duduk di balik kemudi.
"Maafkan mas sayang.." Ujarnya yang ingin meraih tanganku. Namun sebelum sempat digenggamnya, aku melipat tanganku di depan dada dan melihat keluar jendela.
"Ga pa-pa mas" Ujarku sambil memejamkan mataku berpura-pura untuk tidur.
Dan sepanjang perjalanan kami lalui dengan hening. Dia dengan pikirannya sendiri dan aku dengan pikiranku sendiri.
Begitu sampai aku langsung keluar mobil. Dia ingin mengantarku namun ku cegah "Aku lelah mas, pulanglah. Aku ingin tidur"
Tanpa menunggu jawaban darinya aku melangkahkan kakiku meninggalkannya yang masih duduk terdiam di balik kemudi.
TBC
Jangan lupa Like, koment, kritik dan sarannya ya....
Terima kasih untuk Vote nya...
Terima kasih untuk semuanya yg sudah mampir...
Semoga kita selalu dilindungi dari virus Corona yang sangat meresahkan ini..
__ADS_1