Wanita Penggoda

Wanita Penggoda
Hampa


__ADS_3

.


.


.


.


.


(Kirana POV)


Aku memeluk lututku dan menenggelamkan kepalaku di atasnya. Ada yang hilang, ada yang kosong di dadaku. Namun terasa nyeri hingga sesak. Aku tidak tau, kemana hilangnya semangat hidupku? yang dulu selalu bersikap optimis.


Hari ini dia menikah, cinta pertama ku yang tak pernah bisa ku gapai. Dia menikah dengan wanita yang tidak bisa di bandingkan denganku. Tentu saja aku sakit. Setelah terlepas dariku dia langsung melamar wanita itu.


Sedangkan aku yang jauh disini sedang berjuang. Melawan rasa sakit secara lahir dan batinku. Kata dokter, kasus seperti yang ku alami hampir tidak pernah terjadi di dunia ini. Namun dia terus mengoceh dan mengatakan bahwa rumah sakit di Jerman ini memiliki semua fasilitas dan pengobatan yang rumah sakit di negara lain tidak memilikinya.


Aku tak peduli. Bahkan untuk hidup pun aku sudah seperti ingin menyerah. Aku tak mendengar apapun yang mereka katakan. Karena aku sungguh tak peduli.


"Heyy.. Kenapa?" Tanya seseorang yang sangat ku kenal suaranya.


Si asisten dokter yang menanganiku, yang kebetulan berdarah indonesia namun memilih menjadi warga Jerman karena pekerjaannya disini.


Ku tulikan telingaku dan tak menjawabnya. Dia terlalu cerewet untuk ukuran seorang pria. Terlalu banyak mengoceh hal yang tak penting denganku.


"Dia bukan satu-satunya laki-laki di dunia ini, berhentilah memikirkan orang yang tidak pernah memikirkanmu" Ujarnya tiba-tiba.


Padahal aku tidak pernah menceritakan kisah hidupku padanya.

__ADS_1


Aku mendongak menatapnya yang berdiri dengan tegap di hadapanku "Urus diri lo sendiri"


"Akhirnya, kamu mau bicara denganku. Setelah sekian lama kamu mengabaikanku" Ujarnya dengan binar di matanya.


Aku tidak pernah begitu memperhatikannya. Cukup menarik untuk ukuran cowok indonesia. Bahkan bisa di setarakan dengan model atau atlit karena bentuk tubuhnya yang tegap. Mata hitam, alis tebal dan rahangnya yang tegas memperkuat darah indonesianya yang kental.


Dia duduk di depanku dan memperhatikanku "Napa liat-liat?" Tanyaku galak.


"Hanya berpikir saja, apakah laki-laki itu buta karena meninggalkan wanita secantik kamu?" Ujarnya tanpa basa-basi.


"Ceehhh" Aku mencebikkan bibirku sebal.


"Minggir, gue mau tidur" Ujarku sambil menendangnya dari ranjangku.


Dia refleks berdiri namun kemudian mengambil kursi dan duduk di tepi ranjangku, memperhatikanku.


"Berbagilah denganku, ceritakan semua yang mengganggu pikiranmu kepadaku. ini juga untuk pengobatanmu" Ujarnya lembut.


Masih tak kuhiraukan celotehnya yang mengganggu lamunan panjangku juga tidur siangku. Namun dia tak juga beranjak pergi.


"Pliss.. gue mau tidur" Ujarku dari balik selimut.


"Oke.. Kapanpun kamu butuh teman untuk ngobrol, aku selalu ada untukmu. Ku tinggalkan kartu namaku disini. Siapa tau kamu berubah pikiran dan ingin menghubungiku secara pribadi" Ujarnya kemudian pergi.


Ku buka selimut yang membuatku pengap. Ku lirik sekilas kartu nama yang di letakkan nya di meja samping ranjangku. Ah, jadi namanya Dokter Jasson. Tidak sesuai sekali dengan wajahnya yang sangat indonesia.


Namun jika mengingat tingkahnya, dia benar-benar berdarah indonesia karena tingkat keingintahuan nya dengan masalah pribadi orang lain sangatlah besar. Alias kepo.


Ku ambil ponsel yang ku letakkan di laci meja. Ada begitu banyak pesan dari teman-teman di indonesia yang isinya semua membahas tentang pernikahan Gerry dengan Caramel.

__ADS_1


Tidak segan-segan mereka menceritakan bagaimana mewahnya pesta itu. Juga bagaimana cantiknya janda beranak satu yang berhasil memikat Gerry. Juga anak dari janda itu yang bergelayut manja kepada papa mantan mertuaku.


Sedangkan dulu saat kami menikah, senyum Gerry bahkan tidak selebar itu. Ku usap pelan layar ponsel yang menampilkan wajah Gerry yang terlihat sangat bahagia. Dadaku kembali nyeri, bahkan lebih nyeri dari yang kurasakan tadi.


Aku berbaring menatap langit-langit kamarku. Dengan tatapan mata kosong. Namun setelah itu ku pejamkan mataku dan menangis, sendiri.


Sebuah tangan besar mengelus kepalaku "Menangislah.. luapkan semua yang menyesakkan dadamu"


"Aku pun pernah berada di posisimu sekarang, kamu hanya butuh berdamai dengan hatimu. Maka semua masalalumu akan lenyap begitu saja" Ujarnya lagi.


Airmataku bertambah deras mengalir hingga suara tangisku tak bisa ku redam lagi. Aku sesenggukan dan dia masih dengan begitu sabarnya mengusap-usap kepalaku.


Hujan diluar sana semakin menambah kemelut dihatiku. Menangisi kisah cinta pertamaku yang tragis. Menangisi sang cinta pertama yang sekarang telah resmi menjadi milik wanita lain.


"Kamu bahkan masih terlihat sangat cantik meskipun wajahmu penuh air mata, matamu sembab dan ingusmu kemana-mana" Guraunya yang anehnya bisa membuatku berhenti menangis dan menutup kembali wajahku dengan selimut.


Dia membuka selimut yang menutup wajahku dan memperhatikanku dengan mata hitamnya yang tampak bersinar itu.


"Belajarlah menerima dengan ikhlas, dan temukan cinta lain yang bisa menyembuhkanmu" Ucapnya yang di akhiri dengan sebuah ciuman di bibirku.


TBC


Like & Comment ya readers yang budiman..


Terimaksihhhhhhh utk vote dan semangatnya 😍😍😍


Maaf utk part kali ini yang agak pendekan. Author sudah sangat mengantuk 😁


Utk next project masih Author pikirkan. Enaknya bikin cerita tentang siapa ya? 😋

__ADS_1


__ADS_2