Wanita Penggoda

Wanita Penggoda
Gerry POV 6


__ADS_3

.


.


.


.


.


.


Veronica yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangku pun tak kalah terkejut. Apalagi aku? Aku lebih khawatir dengan Caramel yang masih berada di ruang operasi. Semoga saja dia tidak mengalami nasib yang sama dengan Kirana.


"Gue harap hati lo ga berubah buat Caramel. Setelah tau apa yang terjadi sama Kirana" Ucap Veronica sambil menepuk pundakku pelan.


Dia kemudian mendahuluiku menuju ruang operasi dimana Caramel masih di tangani. Ku kejar langkahnya yang tergesa.


"Tolong jangan kasih tau Caramel soal Kirana, nanti setelah dia sadar Ver.." Ujarku sambil berjalan beriringan dengannya.


Dia menghentikan langkahnya dan menatapku "Bahkan tanpa lo bilang kaya gini sama gue pun, gue ga bakal bilang sama dia. Karena apa? Gue ga mau lihat dia terluka sekali lagi karena Istri lo itu" Ucapnya dan kembali melangkahkan kaki.


"Gue ga bakal ninggalin Caramel apapun yang terjadi. Gue ga akan lepasin dia" Teriakku lantang.


Dia berhenti sejenak "Gue pegang kata-kata lo" Ucapnya dan melanjutkan langkahnya kembali.


Meskipun kenyataan tentang Kirana sangat mengejutkan, tapi aku sudah mengambil keputusan. Hatiku tidak akan pernah goyah. Aku tidak mau mempertaruhkan kebahagiaanku sekali lagi kepada orang yang sama.


Aku dulu pernah berharap, dengan menikahi Kirana semua akan baik-baik saja. Tapi pada kenyataannya, aku tidak bahagia. Dan aku tidak mau mengulang kembali kesalahan yang sama. Ya, menikahi Kirana tanpa cinta adalah sebuah kesalahan yang seharusnya sudah ku tentang sejak dulu.


***


Ku genggam tangan Caramel dan kukecup berkali-kali. Dia masih saja belum membuka matanya. Syukurlah, apa yang dialami Kirana, tidak di alami Caramel juga.


Tapi cidera di kaki kirinya membutuhkan waktu lama untuk proses penyembuhan. Setidak nya 2 bulan dia harus istirahat total tanpa melakukan pekerjaan yang berat-berat yang membutuhkan tenaga fisik yang banyak.

__ADS_1


Pintu di belakangku terbuka dan Veronica masuk dengan membawa sebuah plastik yang entah aku tak tau apa isinya.


"Gue bawain makanan, jagain orang sakit juga butuh tenaga" Ucapnya sambil menyodorkan sebuah plastik ke arahku.


"Makasih" Ucapku tulus.


"Makan gih.. keburu dingin makanannya" perintahnya yang kutanggapi dengan sebuah anggukan.


Veronica benar, setidaknya aku butuh tenaga untuk menjaganya. Aku tidak mau sampai ikut jatuh sakit dan tidak bisa menjaganya. Apalagi sampai tidak bisa melihat ketika dia bangun nanti.


Kegelengkan kepalaku pelan karena membayangkan sesuatu yang tak pernah ku inginkan. Ku paksakan makanan di hadapanku masuk ke mulutku, sesuap demi sesuap.


Belum sampai suapan ke 5 seseorang menyerbu masuk kedalam kamar dan menangis tersedu-sedu di pinggiran ranjang tempat Caramel berbaring. Kemudian disusul beberapa orang di belakangnya dengan raut khawatir.


"Tante..Oom.. " Panggilku dan beranjak berdiri menyambut mereka.


"Saya Surya, kakaknya Caramel" Ujar seseorang yang mengaku sebagai kakak Caramel.


"Kamu Gerry ya? Bagaimana keadaan Caramel?" Tanya nya khawatir.


Veronica yang sedari tadi hanya mengamati mulai paham, kemudian pamit undur diri keluar ruangan karena tidak ingin mengganggu.


"Terima kasih sudah menjaga Caramel" Ucap Kak Surya padaku.


"Saya bahkan tidak bisa menjaganya dengan baik, hingga dia mengalami kecelakaan seperti ini" Ujarku menyesal.


"Tidak apa, bukan salah kamu. Mungkin sudah jalannya" Ujar kak Surya menenangkan.


"Oh ya, Aslan ada diluar. Tolong jaga Aslan sebentar, setidaknya sampai Caramel bangun. Saya akan menenangkan ibuk disini" Ujar kak Surya lagi.


Aku mengangguk dan berjalan keluar ruangan untuk melihat Aslan. Namun aku terkejut mendapati seseorang yang menggendongnya.


"Vall?" Sapaku tak percaya.


"Hey Gerr... " Sapanya kembali. Ada sedikit raut khawatir di wajahnya.

__ADS_1


"Caramel baik-baik saja dan masa kritisnya sudah lewat. Tapi dia masih belum sadarkan diri setelah operasi" Ujarku karena melihat wajahnya tampak khawatir.


"Syukurlah..." Ucapnya lega.


Kulihat Aslan masih tertidur dalam gendongannya "Sini biar aku yang gendong Aslan, biar kamu bisa lihat Caramel ke dalam"


Ku ambil Aslan dari gendongannya dan duduk di depan kamar rawat Caramel dengan masih menggendong Aslan yang masih tertidur pulas. Setelah beberapa menit berlalu, kelopak mata Aslan tampak terbuka sedikit demi sedikit.


"Jagoannya Oom udah bangun ya?" Sapaku ringan.


"Oom Gel.. Ini dimana?" Tanyanya heran.


Aku bingung harus menjawab apa "Mau eskrim?"


Ku alihkan saja pertanyannya dengan sesuatu yang pasti tidak akan bisa di tolak oleh bocah kecil ini.


Dan lihatlah, dia mengangguk senang dengan binar-binar si kedua bola matanya.


Ku gendong lagi dan ku ajak pergi menjauh dari kamar dimana ibunya di rawat dan bahkan belum sadarkan diri.


"Anak siapa Gerr?" Sapa seseorang yang kebetulan berpapasan denganku di loby rumah sakit ini.


Aku tidak begitu fokus dengan jalanan di depanku karena Aslan yang terus bertanya ini itu padaku, Hingga tidak menyadari Kevin Widjaya yang tidak lain adalah Ayah mertuaku sedang memandangiku dengan mengernyitkan dahinya bingung.


"Papi?"


TBC


Ayo jangan lupa di-Like sama di-komen ya... biar Author tambah semangat...


Budayakan berkomentar yang Bijak ya.. 😘


Terima kasih untuk yang sudah Baca, like, komen...


Terima kasih untuk yang hanya sekedar Baca, semoga tergerak hatinya untuk like n komen..

__ADS_1


💖💖💖


Dan juga Thanks banget untuk yang sudah Vote.. Poin kalian adalah semangatkuuu 😍


__ADS_2