
.
.
.
.
.
.
.
Bapak yang baru saja selesai mandi dan berganti baju dengan baju yang senada dengan ibu pun ikut menyusul kami menyambut kedatangan Gerry dan orang tua nya. Melihat wajah tante Luna yang begitu sumringah membuatku sedikit lega. Setidaknya tante Luna berhasil meyakinkan om Rendra agar merestui kami.
Sedangkan om Rendra, raut wajahnya masih terlihat dingin. Tapi aku kagum, ternyata di balik wajah dinginnya beliau mempunyai hati yang hangat karena begitu mencintai istrinya dan tidak pernah lupa pada seseorang yang pernah menolong istrinya.
"Langsung saja pada intinya ya Wid... Mas Aryo.. Maksut kedatangan kami kesini, mau melamar Caramel untuk anak saya Gerry. Jangan khawatir dengan status Gerry, karena dia sudah resmi bercerai dengan istrinya" Ucap tante Luna mengawali pembicaraan.
Kami sudah duduk berhadap-hadapan di ruang tamu. Dengan Aslan yang bersikeras ingin duduk di pangkuan Gerry dan tak mau turun sama sekali. Entah apa yang membuat Aslan sepertinya begitu nyaman dengan Gerry. Aku bahagia melihatnya. Dua laki-laki yang sangat kucintai yang tidak memiliki ikatan darah tapi terlihat sangat dekat.
"Sebelumnya kami minta maaf, atas apa yang terjadi pada Caramel. Karena secara tidak langsung, keluarga kami yang membuat Caramel mengalami kecelakaan ini" Ujar tante Luna penuh penyesalan.
"Sudahlah Lun.. ga perlu di bahas masalah itu di hari bahagia ini. Jangan merusak suasana di hari yang paling di nantikan anak-anak kita" Sahut ibu tak enak hati.
"Ah benar.. maaf ya sayang" Ujar tante Luna padaku.
Aku mengangguk "Ga apa-apa tante"
"Kembali ke awal pembicaraan, Aku mewakili Gerry anak ku ingin mempersunting Caramel untuk dijadikan istri. Maksut kami, kami ingin melamar kamu Caramel. Apakah kamu bersedia menjadi istri dari anak ku Gerry? Dan menjadi satu-satunya menantu di keluarga kami?" tanya tante Luna padaku.
"Jawablah nduk.." Ujar ibu yang melihatku menunduk dan diam saja sedari tadi.
"Saya menerimanya tante" Ucapku sedikit pelan dan menunduk karena menyembunyikan rona merah di wajahku.
__ADS_1
"Alhamdulillah.." Ucap mereka bersamaan.
Ku lirik sekilas Gerry yang tegang sedari tadi. Dan dia pun ternyata juga sedang melihatku dan tersenyum.
"Sebelumnya kami juga minta maaf, karena tidak berunding dulu. Karena kami sudah menetapkan tanggal pernikahan untuk mereka 2 bulan lagi" Ujar tante Luna lagi.
Aku terhenyak mendengar penuturan tante Luna. Secepat itu? Aku benar-benar tidak menyangka. Aku pikir masih butuh waktu lama untuk bisa sah menjadi istri Gerry. Karena semua masalah yang datang bertubi-tubi dan seperti tidak ada habisnya membuatku sedikit pesimis.
Tapi tiba-tiba saja semua masalah mencapai titik terangnya hingga kami bisa duduk berhadap-hadapan di sini dengan orang tua kami masing-masing yang ternyata mengenal satu sama lain sebelumnya.
"Apa tidak terlalu cepat Lun?" Sahut ibu sedikit kaget.
"Karena anak ku sudah ngebet banget pengen cepet-cepet mersmikan hubungan mereka Wid. Itu adalah waktu yang ku pilih untuk resepsi pernikahan mereka di Jakarta. Dan untuk ijab kobulnya kita bisa mencari bersama-sama dan mencocokkan dengan hari lahir mereka" Ujar tante Luna yang mendapat senggolan dari Gerry yang terlihat sedikit malu.
Aku tersenyum melihat Gerry yang salah tingkah karena perkataan tante Luna tentang bagaimana dia begitu ingin cepat-cepat menjadikanku istri sah nya.
"Kan mama bener, emang kamu pengen cepet-cepet nikahin Caramel kan" Ucap tante Luna ketika Gerry sedikit menyenggolnya.
Kulihat bapak dan ibu tersenyum melihat tingkah calon besan mereka.
"Sini Aslan sama Oma, ada yang om Gerry ingin kasih ke mama kamu" Ujar tante Luna.
Aslan yang sedari tadi hanya diam seperti mengerti. Dia turun dari pangkuan Gerry dan duduk begitu saja di pangkuan tante Luna. Tante Luna mencium pipinya Gemas.
Ibu membantuku berdiri dan berjalan ke arah samping meja dimana Gerry sudah menungguku dengan sebuah kotak perhiasan yang berisi kalung yang begitu cantik dan indah yang sepertinya senada dengan cincin yang kupakai sekarang. Cincin yang di pakaikn Gerry saat dia melamarku dulu.
Ku gelung rambutku ke atas untuk membiarkannya memasangkan kalung itu di leherku. Dan begitu terpasang Gerry mencium keningku di hadapan orang tua kami.
"Terima kasih, sudah menerima mas untuk menjadi suamimu. Mas berjanji tidak akan menyakitimu dan akan membahagiaakanmu selamanya. Sampai kita tua nanti" Ucapnya yang membuat semburat merah muncul di wajahku.
Aku teraharu, setetes air mata bahagia turun di wajahku. Begitupun ibu yang sudah menangis sedari tadi saat melihat Gerry memasangkan kalung di leherku.
Gerry mengusap air mata di wajahku "Mas juga berjanji tidak akan membuat kamu menangis sedih" Ucapnya yang malah membuat air mataku bertambah mengalir deras.
Ibu beranjak dan memelukku "Sudah nduk.. Jangan menangis lagi. Ini adalah saat bahagiamu. Tersenyumlah.."
__ADS_1
"Duduklah di sofa di depan televisi. Ada yang ingin kami para orang tua bahas untuk pernikahanmu nanti" Ujar ibu lagi.
Gerry membantuku berjalan menuju sofa di depan televisi dan kami duduk disana. Di genggamnya tanganku dengan erat.
"Tinggal selangkah lagi, dan kamu akan sah menjadi istriku" Ujarnya yang kini menautkan jari-jarinya di sela jari-jariku.
"Aku udah takut banget mas, 2 hari ini kamu ga bisa dihubungi. Aku takut semua tidak berjalan sesuai dengan harapan" Ucapku parau.
"Maaf, mas hanya ingin memberimu kejutan" Ujarnya merasa bersalah.
"Dan kamu sukses membuatku sangat terkejut dengan kedatanganmu yang tiba-tiba ini mas. Begitupun ibuk yang tidak mau bilang padaku tentang kedatanganmu. Kalian benar-benar kompak" Sautku kesal.
Tiba-tiba Aslan duduk begitu saja di pangkuan Gerry "Om, ga bawa ekim cotlat buat Aslan?"
Aku tertawa mendengarnya. Jadi karena kebiasaan Gerry yang selalu membelikannya eskrim, makannya Aslan selalu menempel padanya.
"Nanti akan om belikan yang besarrr sekali. Tapi ada syaratnya" Ujar Gerry yang membuat Aslan langsung mengangguk seketika.
"Mulai sekarang, jangan panggil Om. Panggil 'Papa' karena sebentar lagi Om akan menikah dengan mamamu. Dan menjadi papa mu" Ucap Gerry sambil mencubit pipi Aslan gemas.
"Papa?" Tanya Aslan dengan polosnya.
"Iya, papa" Jawab Gerry bersemangat.
"Papa, ayo beli ekim" Ucap Aslan tak kalah semangat hingga membuat para orang tua menoleh dan tersenyum mendengar Aslan berkata begitu keras.
Tidak ada hal yang lebih membahagiakan lagi, dari pada bisa bersama dengan orang yang kita cintai dan juga mencintai kita. Yang menerima semua kekurangan kita tanpa syarat.
TBC
Like,komen,kritik,saran monggo dikencengin ya...😘
Terima kasih untuk Vote nya...
Terima kasih atas untuk kalian yang selalu menyemangatiku... 😍😍
__ADS_1