
.
.
.
.
.
.
"Anak temen pi... ibu nya dirawat di rumah sakit ini dan belum sadar. Saya bawa jalan-jalan sebentar" Ujarku yang masih menggendong Aslan.
Papi mengamati Aslan sebentar "Ya sudah, nanti sore papi mau bicara sama kamu. Papi tunggu dirumah" Ucapnya dan meninggalkanku tanpa mendengar jawaban dariku.
Cepat atau lambat, semua memang harus di selesaikan. Dan aku siap menghadapi semua kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Meskipun harus meninggalkan keluarga 'Soewirdjo' pun aku siap.
Setelah membeli sekotak eskrim untuk Aslan, aku membawa Aslan menuju taman kecil yang memang di sediakan rumah sakit ini. untuk anak-anak kecil yang menunggu keluarganya dirawat atau yang sedang menjenguk kerabatnya yang di rawat.
Aku mengamati Aslan yang sedang asik bermain ayunan. Lucu sekali tingkahnya yang terkadang melambaikan tangan padaku dengan girangnya. Tanpa tahu, ibu nya masih belum sadarkan diri sampai sekarang.
"Itu Aslan kan? anaknya Caramel.." Tanya Veronica yang tiba-tiba duduk di sampingku.
"Gue pikir lo udah balik.. Iya itu Aslan" Ujarku yang menoleh sekilas kemudian kembali fokus mengamati Aslan.
"Gue nungguin di loby tadi.. dan ga sengaja liat lo ngobrol sama bapak-bapak. Siapa tadi?" Tanya Veronica penasaran.
"Bokapnya Kirana" Jawabku masih tanpa menoleh.
__ADS_1
"Gue tau, berat buat ngambil keputusan ketika berada di posisi lo kayak gini. Tapi gue berharap, lo beneran ga akan ngecewain Caramel" Ujarnya lirih.
"Gue bakal gunain kelemahan Kirana ini buat nyerang bokap gue. Meskipun gue harus jadi suami yang jahat untuk Kirana, gue gapapa. Gue pengen egois untuk skali ini saja, demi kebahagiaan gue dan Caramel" Ucapku yakin.
Ku dengar Veronica menghela nafasnya berat "Gue cuma bisa bantuin doa dan support lo berdua aja.. Kebahagiaan Caramel juga menjadi kebahagiaan gue. Kalo inget gimana sakitnya dia karena mantan suaminya itu, Gue bakal bener-bener ga sanggup. Seandainya dia terluka lagi"
Mempunyai sahabat seperti Veronica memang sebuah keberuntungan yang tak ternilai harganya. Melihat raut wajahnya yang begitu sedih saat menceritakan luka hati Caramel saja, membuatku cukup tau bagaimana persahabatan mereka terjalin dengan begitu eratnya.
Dering ponsel dari saku celanaku mengagetkanku, dari Valley.
"Oke, aku kesana sekarang" Jawabku dan beranjak berdiri.
"Caramel udah sadar" Ucapku pada Veronica.
Aku menghampiri Aslan dan menggendongnya "Mau ketemu mama?" Tawarku pada Aslan dan dia mengangguk senang.
Ketika ku buka pintu kamar dimana Caramel dirawat, semua sedang mengerubuni Caramel yang sedang di periksa oleh seorang dokter.
"Tante mau bicara sama kamu" Ujar ibu Caramel padaku.
Ku serahkan Aslan ke Vallley yang tangannya sudah terbuka untuk menggantikanku menggendong Aslan. Raut khawatir masih tampak di wajahnya, meskipun Caramel sudah sadarkan diri.
Aku mengikuti langkah kaki tante Widya yang menuju ke kantin rumah sakit. Suasana tidak begitu ramai. Ada banyak tempat kosong yang bisa kami gunakan untuk mengibrol dengan santai.
Aku memesan kopi dan ku pesankan susu hangat untuk tante Widya. Ku lihat tante Widya begitu gusar seperti ragu untuk berbicara padaku.
"Ada apa tante?" Tanyaku memulai pembicaraan.
"Kamu masih punya istri?" Tanyanya ragu.
__ADS_1
Ternyata ini yang membuat tante Widya begitu gusar. Aku tau, setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Dan saat Caramel memperkenalkanku dulu, Caramel tidak menjelaskan statusku yang masih suami orang.
Tentu saja, untuk menghindari kesalah pahaman seperti ini. Aku pikir aku akan memperkenalkan diri secara resmi kepada keluarga Caramel setelah urusanku dengan Kirana beres. Tapi Tuhan berkehendak lain, Kecelakaan yang melibatkan Kirana dan Caramel membuat posisiku menjadi sulit di mata keluarga Caramel.
"Iya tante, Saya masih beristri" Ucapku jujur "Tapi Saya sedang dalam proses perceraian" imbuhku lagi.
"Dan yang membuat Caramel celaka adalah istri kamu?" Cerca tante widya lagi.
"Maafkan Saya tante, Saya tidak tau kejadian persisnya bagaimana. Tapi yang jelas, mereka sama-sama mengalami kecelakaan. Kasus ini sudah Saya serahkan ke polisi. Kita tunggu saja kabar dari polisi" Ujarku menjelaskan.
"Saya pikir kamu masih lajang, tapi ternyata kamu masih punya istri" Ujarnya menahan amarah.
"Maafkan Saya tante, Saya tidak bermaksut menyembunyikan pernikahan Saya.."
"Tolong jangan ganggu Caramel lagi.. Tante tidak mau Caramel terluka lagi.. Lahir dan batinnya" Ujarnya memotong penjelasanku.
Seperti ada yang mencabik-cabik hatiku. Rasanya sakit sekali. Cobaan apa lagi ini? Belum selesai masalahku dengan Kirana juga papa, sekarang bahkan orang tua Caramel pun ikut menentang?
"Tapi Saya sangat mencintai Caramel tante.."
"Caramel akan Saya bawa pulang ke kampung, setelah nanti dia diperbolehkan pulang. Jaga saja istri kamu, agar tidak melukai Caramel lagi" Ujar tante Widya dan berdiri meninggalkanku.
TBC
Like & Comment nya Author tunggu ya..
Terima kasihhhh untuk semuanya 💖💖💖
"Semoga hari kalian menyenangkan.."
__ADS_1