Wanita Penggoda

Wanita Penggoda
I Love You


__ADS_3

.


.


.


.


.


.


.


Suasana rumah yang semula sepi kini ramai. Banyak sanak saudara yang berdatangan untuk menjadi saksi atas berlangsungnya akad nikah yang akan diselenggarakan 4 jam dari sekarang.


Meskipun ini bukan yang pertama untukku, namun aku tak kalah gugup. Berulang kali ku rapalkan doa agar acara ini bisa berjalan dengan lancar tanpa masalah apapun.


Aku melihat ke dalam cermin, tampak wajahku yang masih belum selesai di rias oleh seorang penata rias biasa. Bukan MUA terkenal tapi sejauh ini tangannya bekerja dengan sangat memuaskan. Tidak terlalu menor, sederhana namun tetap membuatku menjadi wanita paling cantik di pernikahanku ini.


Ku perhatikan tangan laki-laki kemayu yang sedang mencetak karyanya di wajahku. Sangat trampil sekali. Aku tersenyum melihat laki-laki yang mengaku bernama 'Monic' ini yang juga sedang memandang cermin dan tersenyum padaku.


"Bagi-bagi tips dong say.. gimana kulit wajah kamu bisa selicin ini?" Ujarnya masih dengan bahasa yang normal dan bisa di pahami namun tetap dengan nada 'kemayu'.


Tidak seperti kaum nya yang terkadang menggunakan bahasa yang bisa membuatku berpikir sehari semalam untuk bisa memahaminya.


Monic melirikku yang hanya tersenyum dan beralih melihat deretan produk perawatan kulit yang berada di meja ku.


"Pantes aja ya say... kulit kamu udah bagus trus dirawat di salon kecantikan milik artis xxx yang produknya langsung dikirim dari negeri oppa-oppa cantik" Candanya yang membuatku tertawa.


"Bisa aja kamu.." Balasku tersipu.


"Ga usah pake blush on pipi kamu udah bisa merah merona gitu say... aduuuhhhhh gemessshhhhh aku tuhhh.. pengen nyubittt" Ujarnya gemas.


"Jangan... nanti kamu repot make up in aku lagi" Ucapku mengingatkan.


Dia tertawa dengan suara baritonnya yang mencuat keluar "Sorry... kadang kelepasan say" Ujarnya sedikit malu.


"Pasti mahal banget ya say perawatan di situ?" Ujarnya sambil kembali merias wajahku.


"Ga heran juga sih, calon laki kamu kan tajirr melintirrr.. iya kan say?" Ujarnya yang masih tetap fokus dengan wajahku.


Tingkah Monic yang gemulai membuatku tersenyum-senyum sendiri "Calon suamiku cuma orang biasa kok.."


"Takut eike rebut ya say?" Candanya lagi.


Suara dering telfon dari ponselku mengalihkan perhatiannya yang sedang fokus, begitupun aku. Ku lirik sekilas nama yang tertera di layar ponselku, dan aku tersenyum.


"Angkat aja, masih bisa santai kok say.." Ucap monic dan menghentikan kegiatannya kemudian duduk di tepi ranjangku.


"Sebentar ya.." Ucapku dan dijawab dengan anggukan.


"Ada apa mas?"


"Kenapa panggilan video mas kamu tolak sayang?"

__ADS_1


"Aku masih belum selesai di make up ini mas"


"Kamu pasti cantik sekali, mas pengen lihat"


"Nanti ga surprise dong mas"


"Iya juga sih"


"Kamu gugup mas?"


"Memangnya kamu enggak"


"Tentu saja gugup mas, kamu sudah hafal kan?"


"Kamu takut mas salah saat ngucapin ijab kabul nanti?"


"Iya.."


"Sayang... bahkan dalam keadaan tidur pun mas masih bisa mengucapkannya"


"Iya.. aku percaya kamu bisa melakukannya dengan baik mas.."


"Kamu udah di hotel mas?"


"Udah, mas udah nyampe disini dari 2 jam yang lalu"


"Syukurlah, udah dulu ya mas..nanti aku ga selesai-selesai kalo ngobrol sama kamu terus"


"Iya.. mas jadi ga sabar pengen cepat-cepat kesana"


"Nanti juga kan ketemu mas.."


"I love you too mas"


Aku masih tersipu-sipu dan tersenyum-senyum sendiri dengan perkataan terakhirnya yang mendadak romantis. Ku letakkan ponselku kembali ke atas meja.


Monic menghampiriku dengan senyum jahil di wajahnya "Mesrah banget say... Adek ga kuat liatnyaaa" Guraunya lagi.


"Ayo mulai lagi.. nanti gak selesai-selesai" Ucapku yang berusaha mengalihkan pembicaraan agar semburat merah di wajahku menghilang.


"Hayyuukkkk" Ujar monic yang mulai lagi fokus untuk merias wajahku.


Belum sempat monic menyentuh wajahku dengan tangan gemulainya, suara ketukan di pintu juga pintu yang perlahan terbuka membuat kami menoleh.


Valley berdiri dengan balutan kemeja batik dan celana jeans yang terlihat sangat dewasa tidak seperti biasanya itu perlahan mendekat. Dia ikut memandangku di cermin.


"Kamu cantik sekali Mel.. bahkan make up kamu belum selesai kamu sudah secantik ini" Dia memujiku.


"Biasanya juga ngatain aku boncel kamu" Sindirku pura-pura sewot.


"Pengen banget nyubit pipi kamu saking gemesnya, tapi takut make up kamu hancur" Guraunya.


"Awas aja kalo berani" Ancamku dan melirik monic sekilas.


"Sebentar ya.." Bisikku pada monic yang memutar bola matanya kesal. Dan dia kembali duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


Ku putar tubuhku menghadap Valley yang sekarang sedang menatapku dengan raut wajah yang terlihat sedih.


"Ada apa Vall?" Aku tau ada yang ingin dia bicarakan.


Tanpa basa-basi dipeluknya tubuhku dengan erat. Cukup lama dia hanya diam tak berkata apa-apa. Dan sikapnya membuat aku ingin menangis namun ku tahan.


"Sebentar lagi, kamu jadi milik orang lain. Lagi. Dan lagi-lagi aku hanya bisa menjadi orang lain yang hanya bisa memandangmu dari jauh. Setidaknya aku ingin memelukmu sedikit lebih lama" Ujarnya yang semakin mengeratkan pelukannya padaku.


"Kamu bukan orang lain Vall.. Kamu sahabat aku, yang udah jadi saudara laki-laki ku dan keluarga untukku" Ucapku menenangkannya dan Ku usap punggungnya yang lebar.


"Kamu tau betul bukan itu yang kumaksut Mel.." Ujarnya yang masih memelukku.


"Aku tau Vall... Maaf.." Ucapku sedikit merasa bersalah "Nanti, akan ada seseorang yang membuat kamu lupa sama perasaan kamu ke aku. Aku akan selalu mendoakanmu Vall.. agar kamu mendapatkan seseorang yang baik dan cantik seperti ku" Ku akhiri dengan sebuah gurauan.


Benar saja, dia melepaskan pelukannya dan memberengut kesal "Setidaknya jangan yang boncel kayak kamu" Ucapnya yang sudah bisa bergurau. Kubalas dia dengan mencubit lengannya


"Aku lega, jika Gerry yang akan mendampingimu. Karena aku tau, dia benar-benar tulus sayang sama kamu. Aku juga akan selalu mendoakan semua yang terbaik untukmu, semoga kalian bahagia sampai tua nanti" Ujarnya dengan mata berkaca-kaca.


Aku hanya bisa mengangguk haru "Terima kasih Vall.. Terima kasih untuk semuanya" Ucapku dengan masih menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mataku.


Monic yang sedari tadi mengutak atik ponselnya kini memandangku dan mengetukkan jari telunjuk tangan kanannya di pergelangan tangan kirinya.


"Maaf Vall.. aku harus menyelesaikan make up ku" Ujarku tak enak hati.


Dia mengusap pelan rambutku dan mengangguk "Iya.. aku keluar dulu ya.."


Monic kembali merias wajahku "Sahabat rasa pacar ya say?" Guraunya di sela-sela kegiatannya.


"Bukan.. Sahabat rasa saudara" jawabku ikut bergurau dan di sambut dengan tawanya yang lagi-lagi keluar suara baritonnya.


***


Rombongan keluarga Soewirdjo sudah datang. Sebagian aku mengenalnya, namun sebagian lagi terlihat asing di mataku. Gerry yang di balut dengan jas dan kemeja putih di dalamnya melangkah dengan yakin. Tak ada raut wajah gugup yang tersirat.


Semua mata memandangnya, sanak saudara dan tetangga yang hadir melihat ke arah calon mempelai laki-laki yang terlihat sangat gagah. Banyak yang memujinya dengan semua kelebihan yang dimiliki Gerry.


Mata kami bertemu, Ku lihat dia tersenyum denga lebarnya seakan semua beban terangkat dari dadanya.


Acara demi acara, sambutan demi sambutan terlewati. Dan saat yang paling dinanti-nanti akhirnya datang juga. Aku kembali merasa gugup saat monic menggandengku untuk duduk di sebelah Gerry dan berhadapan dengan Bapak dan seorang penghulu.


Ketika bapak menjabat tangan Gerry dan selesai mengucapkan ijab, kini giliran Gerry mengucapkan kalimat berikutnya. Jantungku tak berhenti berdetak kencang saat perlahan aku mendengar Gerry mulai mengucapkan kalimatnya dengan sangat tegas dan yakin.


"Saya terima nikah dan kawinnya Caramella Assyifa binti Aryo Widodo dengan mas kawin tersebut di bayar tunai"


"Sahhh?"


"Saaahhhh"


Tidak ada yang bisa menggambarkan betapa leganya mendengar kalimat Gerry yang lancar terucap dan teriakan kata 'sah' dari semua tamu yang hadir.


Gerry menoleh dan mengulurkan tangannya untukku, ku sambut dan kucium punggung tangannya. Diraihnya kepalaku dan di ciumnya keningku cukup lama. Setitik air mata turun dari wajahku. Aku bahagia. Hingga tak ada kata-kata yang bisa menggambarkan perasaanku saat ini.


TBC


Like & Comment nya jangan lupa ya readers yang budiman...

__ADS_1


Terima kasih untuk Vote dan semangatnya 😘😘😘


"Ini belum End lho.. pantau terus ya.." 😍


__ADS_2