
.
.
.
.
.
.
.
(Gerry POV)
Tangannya mencengkeram lenganku dengan kencang. Keringat mengucur di seluruh wajahnya. Wanita cantik dan kuat yang sangat kucintai sedang berjuang demi melahirkan anak kami.
Aku ingin menangis, melihatnya terlihat begitu kesakitan. Aku jadi teringat mama, jadi seperti ini saat mama melahirkan ku dulu? Bertaruh nyawa dengan semua rasa sakit yang dirasakan di sekujur tubuhnya?
Perjuangan wanita yang sampai seperti ini, kenapa masih ada laki-laki yang begitu tega menyakiti ibu dari anaknya? Aku berjanji, tidak akan menyakiti hati wanita yang sedang berjuang menahan sakit ini.
Cukup sekali aku menyakiti wanita, yaitu Kirana. meskipun bukan aku yang memulai. Tapi tetap saja, aku menyakiti hatinya. Menyakiti hati seorang wanita yang dulu masih istriku. Aku berjanji akan meminta maaf lagi saat aku bertemu lagi dengannya.
"Kamu bisa sayang.." Ucapku sambil mencium keningnya dan mengelus rambutnya.
Caramel masih terus meracau namun masih menuruti apa yang diperintahkan suster dan dokter yang menanganinya. Tenaganya sepertinya sudah hampir habis, saat aku mendengar suara tangisan bayi yang begitu melegakan.
Dia memaksakan senyumnya yang getir karena masih menahan sakit. Aku bersyukur karena Tuhan menyelamatkan istri dan anakku. Aku menggendongnya mengumandangkan adzan di telinganya.
Bibirnya yang mungil dan mata hazelnya yang indah sungguh menggemaskan. kenapa aku seperti bercermin saat melihat bayi mungil dalam gendonganku ini? Benar-benar sangat mirip denganku.
Ku cium pipinya dan sekujur wajahnya. Masih bau darah namun aku sangat menyukainya. Dia adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan padaku. Pelengkap kebahagiaanku yang sempat tertunda.
Ku lirik sekilas istriku yang memejamkan matanya sebentar karena lelah.
"Kamu sangat hebat sayang, terima kasih sudah berjuang begitu keras demi bayi cantik kita" Ujarku saat dia mulai membuka matanya.
"Perempuan mas?" Tanya nya dengan senyum merekah di wajahnya.
"Iya.. Cantik sekali. Dan sangat mirip denganku"
Ku perlihatkan si kecil kepadanya dan dia cemberut "Benar sekali, tak ada satupun diriku yang menempel padanya"
"Tenang saja, kita masih bisa membuatnya lagi. Sampai ada yang mirip denganmu" Gurauku yang malah membuat suster-suster yang sedang merawatnya ikut tersenyum.
"Ga trauma pak? liat istrinya melahirkan?" Tanya salah seorang suster.
"Tidak, tapi cukup untuk membuat Saya tidak berani untuk menyakiti hati istri Saya sedikitpun" Jawabku yakin.
"Suami idaman banget ya bu..." Saut yang lainnya.
***
__ADS_1
"Kenapa kamu liatinnya sampai begitu mas?" Ujar Caramel saat aku menatapnya yang sedang menyusui 'Vanilla Sbastian Soewirdjo' di ruang makan.
"Masih lama ya puasanya? Mas kangen banget sama kamu.." Ujarku cemberut.
"Masih 15 hari lagi mas..." jawabnya yang masih fokus memberikan Asi pada Vanny.
Aku tersiksa setiap kali melihatnya sedang menyusui Vanny. Payud*ranya yang selalu terbuka sungguh membuatku sesak nafas karena harus menahan gairahku yang sudah terpendam selama hampir sebulan.
Padahal dulu sebelum menikah aku bisa menahannya dengan baik. Tapi mengapa sekarang aku jadi tidak tahan seperti ini? Apa karena status kami yang sekarang sudah menjadi suami istri?
"Sabar ya mas... Kamu pasti bisa" Ujarnya yang merasa bersalah.
Aku bisa apa? Aku hanya mengangguk kemudian mulai mengelus pipi chubby Vanny yang menggemaskan.
"Gantian papa boleh gak sayang?" Ujarku pada Vanny dan mendapat cubitan di pahaku dari Caramel.
"Jangan aneh-aneh deh.." Ujarnya mengingatkan.
"Kamu tidur duluan aja mas.. Kamu bilang besok ada meeting pagi sama klien penting" Ujarnya kembali mengingatkanku.
"Hemm.. iyaaaaa" Ujarku malas dan beranjak menuju kamar.
Ku lirik sebentar tubuhnya yang hanya berbalut baju tanpa lengan yang memperlihatkan tubuhnya yang sedikit bertambah montok. Aku berbalik ke arahnya dan kucubit pipinya gemas.
Ku curi ciuman dari bibirnya hingga dia nyaris tidak bisa bernafas "Pengen banget ngrasain tubuh kamu yang montok ini" Ujarku dengan tersenyum jahil dan berlari meninggalkannya.
Aku kembali ke kamar saat jam menunjukkan pukul 3 pagi. Caramel selalu begadang. Terkadang Vanny tidak mau di ajak tidur di dalam kamar. Lebih sering minta di gendong keluar kamar. Akupun sering menemaninya menidurkan Vanny kembali meskipun hanya sekedar ikut terjaga.
Ahhhh, jadi seperti ini rasanya mempunyai anak? Sepertinya aku baru saja tidur tapi Caramel sudah membangunkanku dan ternyata matahari sudah tinggi. Lalu bagaimana dengannya?
Ku peluk dia yang sedang berdiri di samping ranjang kami. Saat aku menyaksikan bagaimana proses Vanny saat lahir, aku sudah berpikir bahwa wanita itu sangat kuat dan hebat. Karena rasa sakit yang di rasakannya dan perjuangan nya yang bertaruh dengan nyawanya sendiri untuk melengkapi kebahagiaan kami.
Dan sekarang, saat Vanny sudah lahir dan Caramel harus begadang sepanjang malam, dan masih bisa membangunkanku untuk menyiapkan keperluan ku saat akan bekerja, membuatku benar-benar sangat salah. Bukan hanya hebat dan kuat, tapi juga sangat luar biasa.
"Nambah berapa kilo berat badan kamu?" Ujarku masih dengan memeluknya.
"Belum tau mas" Ujarnya pelan.
Aku mendongakkan kepalaku untuk menatap wajahnya yang sedang tersipu. Rona merah memenuhi wajah bulatnya.
"Semakin bertambahnya berat badan kamu, semakin bertambah pula rasa sayang mas ke kamu" Ujarku meyakinkannya.
"Pagi-pagi udah gombal kamu mas, lagian mana ada sih suami yang suka istrinya bertambah gendut?" Cibirnya kesal.
"Atau, kamu lagi nyindir aku nih?" Imbuhnya lagi.
"Siapa yang gombal? Mas jujur kok.. Tentu saja mas juga lebih suka kalo kamu cantik dan langsing. Tapi yang lebih penting, mau kamu langsing atau montok, yang penting kamu sehat" Ujarku dengan mengeratkan pelukanku pada perutnya.
"Itu semua terserah kamu sayang.. Kamu mau diet mas dukung, kamu mau tetep montok seperti ini ga pa-pa. Malahan orang-orang akan berpikir kalo mas sangat memanjakanmu dan membahagiakanmu kalo kamu montok seperti ini.. Mas menerima kamu apa adanya dengan semua kekurangan dan kelebihan kamu" Ujarku yang sekarang meraih tangannya untuk ku genggam.
Ku tarik tangannya hingga dia duduk di pangkuanku. Ku buka kancing bajunya perlahan "Sarapan ini aja boleh?" Ujarku yang sudah mengeluarkan payud*ranya dari bra nya.
"Boleh, kamu tega rebutan sama Vanny yang masih sangat kecil dan belum bisa makan apa-apa kecuali Asi ini?" Ujarnya yang meredupkan hasratku.
__ADS_1
Ku hembuskan nafasku panjang dan mengancingkan kembali bajunya "Mas ga akan setega itu sama anak sendiri"
***
(Caramel POV)
"Lho.. Kenapa jam segini kamu pulang mas? Apa ada yang ketinggalan?" Ujarku saat menemukan mas Gerry mengedarkan pandangannya keseluruh arah rumah ini.
"Papa disini sayang?" Ujarnya tanpa menghiraukan pertanyaanku tadi.
"Iya.. lagi main sama Aslan sama Vanny di kamar Aslan. Ada mama juga" Ujarku yang kembali di abaikan karena mas Gerry berlari begitu saja menaiki anak tangga menuju kamar Aslan.
Aku mengikuti langkahnya dari belakang. Sepertinya ada yang tidak beres. Aku jadi sedikit khawatir melihat mas Gerry yang begitu dingin.
"Papa... apa papa lupa kalau hari ini ada meeting penting dengan Klien dari Singapore?" Ujar mas Gerry sedikit keras.
"Maaf pah.." Ujarnya melemah dan duduk di samping papa yang sedang bermain dengan Aslan "Untung saja Gerry sudah mempelajarinya kemarin"
"Papa inget.. Tapi untuk seterusnya sepertinya papa sudah bisa mengandalkan kamu. Karena papa sudah punya kesibukan baru dengan cucu-cucu papa" Ujar papa tanpa merasa bersalah.
Aku terkikik pelan, begitupun mama yang sedang menggendong Vanny. melihat tingkah papa yang sekarang sedikit tidak berwibawa aku dan mama tak bisa menyembunyikan senyum kami.
"Papa akan segera mengurus serah terima jabatan ke kamu. Papa tidak ingin menyia-nyiakan masa tua papa dengan bekerja. Lebih baik bermain dengan Aslan dan Vanny.. iya kan boy?" Ujar papa dan mengajak Aslan untuk tos.
Mas Gerry mengacak rambutnya frustasi. Ku usap-usap punggungnya untuk menguatkannya.
"Tapi setidaknya papa bisa bicara dulu sama Gerry dong pah... bukan tiba-tiba menghilang seperti ini" Ujarnya sedikit pelan.
"Sudahhh.. kamu balik kantor sana.. Jangan gangguin papa yang lagi asyik main sama Aslan" Ujar papa masih tak menghiraukan mas Gerry yang sedang kesal.
Ku tuntun tangannya untuk berdiri dan keluar dari kamar Aslan "Biarkan saja mas, mereka sangat senang dengan bertambahnya anggota keluarga kita. Kamu tentu tau, bagaimana mereka begitu menginginkan sosok cucu kan? Kamu yang sabar ya..."
Ku peluk tubuhnya setelah keluar dari kamar Aslan. Ku eratkan pelukanku padanya "Makasih mas, sudah memberiku kebahagiaan yang berlimpah.. Kamu membuatku menjadi wanita paling beruntung di dunia karena memiliki laki-laki hebat dan penyayang sepertimu"
"Berbanggalah, karena memiliki suami yang sangat di idam-idamkan oleh para wanita di luar sana seperti mas ini yang hanya bisa mencintai kamu" Ujarnya yang sedikit lupa dengan kekesalannya saat ini.
Tamat.
Tetep Like & Comment ya..
Mksh utk vote dan semangatnya..😘
Maaf jika endingnya ga memuaskan. Maaf utk update nya yang sedikit butuh waktu yang lama. Maaf jika Author punya salah dan hilaf...
Untuk novel Author selanjutnya, tentu saja kisah Jo&Jessy. Akan tetap Author post di MT. Untuk kapannya belum bisa Author pastikan. Karena mood Author yang sedang sangat jelek minggu-minggu ini.
Terima kasih untuk kalian yang sudah mengikuti novel Author dari awal sampai akhir. Terima kasih untuk kritik, saran, komentar lucu-lucu kalian dan juga hujatan-hujatannya juga 😁
Terima kasih semuanya..
Sampai jumpa di novel Author selanjutnya
ILoveYouAll 😘
__ADS_1