
.
.
.
.
.
.
Aku terbangun dengan tangan yang masih melingkar di tubuhku. Tidurnya begitu pulas. Aku jadi tidak tega untuk membangunkannya. Ku letakkan tanganku di pipinya dan ku belai lembut.
Pasti ada sesuatu yang terjadi tadi malam. Sehingga membuat dia memilih menemuiku tadi malam meskipun hanya sekedar memelukku semalaman. Semoga saja bukan masalah yang besar. Tapi firasatku seperti mengatakan hal ini berkaitan denganku.
Matanya sedikit mengerjap kemudian terbuka dan menatapku hangat "Pagi sayang.." sapanya dan menenggelamkan ku dalam pelukannya.
Ku balas pelukannya yang erat "Pagi juga mas.."
Aku mendongak menatap matanya yang kembali terpejam "Mau kopi?" tawarku.
"Boleh" Jawabnya dan mengendurkan pelukannya.
Aku bangun dan mengecup pipinya sekilas "Sekalian aku buatin sarapan ya.." imbuhku.
Dia mengangguk senang namun kemudian kembali memejamkan matanya. Mungkin semalam dia tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Setelah aku membuatkan kopi dan sarapan pun dia masih tidur terlelap. Ku bangunkan dia agar tidak terlambat bekerja. Karena matahari sudah begitu tinggi.
"Kopi mu sudah dingin mas... Kamu ga pergi kerja? udah hampir jam 9 ini.." Ku tepuk pelan pundaknya dan menggoyang-goyangkan sedikit badannya.
__ADS_1
Dia terbangun dan duduk menyandarkan punggungnya di kepala ranjang "Mas ga ngantor hari ini, nanti langsung meeting jam 1 siang" Jawabnya masih dengan setengah mengantuk.
"Maaf.. aku ga tau kalo kamu berangkat siang" Jawabku sedikit menyesal karena menganggu tidurnya.
"Ga apa-apa, mas memang udah lapar" Dia beranjak berdiri dan mendorong ku agar berjalan menuju dapur.
"Kopi kamu udah dingin, mau aku buatin lagi yang panas?" Tawarku begitu kami duduk di meja makan.
"Ga usah, kamu ganti yang panas pun rasanya tetep pahit" Guraunya yang sudah bisa membuka matanya lebar setelah meminum sedikit kopi itu.
"Sesempurna apapun kopi yang kamu buat, kopi tetaplah kopi. Tetap ada sisi pahit yang tidak bisa kamu sembunyikan" Ucapku meniru sebuah filosofi tentang kopi.
Dia sedikit terkejut dan tersenyum "Kamu bisa tau tentang yang begituan juga?" tanyanya tak percaya.
"Ga sengaja baca aja mas, waktu diajak Kak Veronica ngopi dan liat tulisan kaya gitu. Jadi ke inget sampe sekarang" Ujarku berusaha jujur.
"Kamu juga hari ini berangkat siang?" Tanyanya saat dia melirik jam dinding yang tergantung di atas kulkas.
Aku berpindah duduk di sampingnya. Aku sangat penasaran sekali dengan kejadian semalam yang membuat dia menginap di sini.
"Apa semuanya tidak berjalan sesuai dengan rencanamu mas?" Tanyaku dengan menghadapkan badanku ke arahnya.
"Iya.. dan rasanya seperti kopi ini. Pahit" Ucapnya sambil meneguk kopi di tangannya.
"Apa kita kawin lari aja ya?" Guraunya kemudian.
Kucubit pinggangnya kesal "Jangan main-main mas, nikah itu sakral. Apalagi kita sudah pernah menikah. Apa kamu beneran ingin pernikahan yang seperti itu?" Sanggahku sedikit kecewa.
"Mas becanda sayang.. jangan di anggap serius gitu dong.. Mas pasti akan bawa masuk kamu ke keluarga mas dengan cara yang terhormat. Mas janji" ucapnya yakin.
"Asalkan kamu tidak akan melepaskan tangan mas apapun yang terjadi, mas akan selalu perjuangin kamu. Suatu saat nanti, papa pasti akan luluh" Imbuhnya kemudian.
__ADS_1
Ku peluk tubuhnya dari samping "Sekarang aku udah yakin mas, aku udah ga butuh waktu lagi dan ragu-ragu tentang hubungan kita. Aku juga mencintai kamu mas.." Ucapku parau.
Dia sangat terkejut, ku lihat binar di mata hazelnya yang indah "Coba ulangi sekali lagi. Yang terakhir itu" ujarnya menggoda.
Aku menggeleng pelan dan menenggelamkan wajahku yang merah di dadanya. Di jauhkannya kepalaku dari dadanya dan menatapku usil.
"Mas pengen denger lagi..." Rengeknya manja.
Ku gelengkan kepalaku lagi. Aku menunduk menyembunyikan wajahku yang semakin merah.
Diraihnya kepalaku dan di tenggelamkannya di dadanya. Dia mencium puncuk kepalaku lama "Makasih sudah menguatkan mas.. kamu wanita istimewa, sesulit apapun jalan yang harus mas tempuh nanti, mas akan terus berusaha memberikan status yang sah di mata hukum dan agama"
"Karena mas ingin kamu jadi wanita terakhir dalam hidup mas, yang menemani mas sampai tua nanti"
Aku tidak salah memilih. Laki-laki ini begitu kokoh mencintaiku. Begitu bertanggung jawab dan berpikiran matang. Padahal jika dia mau, dia bisa menikahiku meskipun tanpa restu dari papanya. Bahkan tanpa berceraipun dia bisa, tapi dia tidak melakukannya.
Aku sangat menyukai tanggung jawabnya meskipun terkadang aku melihat sendu di matanya.
Ku eratkan pelukanku "Aku mencintaimu mas... "
TBC
Jangan lupa Like nya ya readers......
Kritik, saran, komentar selalu Author tunggu..
Terimakasih atas poinnya...
Terima kasih sudah membaca...💖💖💖
Untuk update selanjutnya akan sedikit telat, anak Author sedang sakit. Mohon doa nya biar cepet sembuh 🙏
__ADS_1