
.
.
.
.
.
.
"Saya akan menyelesaikan urusan Saya dengan Kirana, setelah itu Saya akan melamar Caramel secara resmi. Tolong jangan pisahkan kami" Ujarku putus asa yang mengejar langkah tante Widya yang belum begitu jauh.
Tante widya menghentikan langkahnya "Tante tahu betul bagaimana perasaan kamu sama Caramel, juga bagaimana Caramel mulai membuka hatinya untuk kamu sampai menyusul kamu kesini. Tante hanya tidak ingin dia dituduh sebagai perusak rumah tangga orang"
"Jalan satu-satunya memang kalian harus berpisah dulu" imbuhnya lagi.
Aku berdiri di hadapan tante Widya dan meyakinkannya "Saya mengerti tante, tapi setidaknya jangan melarang Saya untuk tetap berkomunikasi dengan Caramel. Saya berjanji akan secepatnya menyelesaikan masalah Saya ini"
"Jika saja bukan karena Caramel yang sudah mulai bisa membuka hatinya lagi, Tante tidak akan membiarkan kamu masuk dalam kehidupannya. Hidup Caramel sudah terlalu berat, Luka hatinya juga belum begitu sembuh. Tolong jangan sakiti Caramel" Dan air mata membanjiri wajah tua nya.
Bahunya sedikit terguncang menahan sesak yang mungkin menyeruak di dadanya. Sedalam ini Kirana dan Reyhan menyakiti Caramel dan keluarganya? Bahkan aku pun ingin ikut menangis melihat betapa terlukanya seorang ibu yang anaknya di sakiti. Kenapa mereka begitu tega?
Ingin ku rengkuh dalam pelukanku wanita tua yang sedang menangis di hadapanku ini, namun aku tak berani. Ku kepalkan tanganku sekuat tenaga menahan sesak yang juga menusuk-nusuk dadaku.
Kini aku semakin yakin, aku akan meninggalkan Kirana terlepas dari semua derita yang dia alami sekarang. Demi Caramel dan keluarganya yang masih tercabik hatinya sampai sekarang karena kelakuan nya.
"Saya tidak akan meninggalkan Caramel apapun yang terjadi. Saya berjanji, akan menjaga hati Caramel selamanya" Ujarku yakin.
__ADS_1
"Tante belum merestui kalian, sampai kamu membuktikan kesungguhan kamu sama Caramel" Ujarnya dan kembali meninggalkanku sendiri.
"Setidaknya, terima kasih karena sudah memberikan Saya kesempatan tante" Ucapku lirih yang mungkin tak terdengar oleh tante Widya yang perlahan menjauh.
***
Kupandangi rumah mewah di depanku sebelum aku melangkahkan kakiku ke dalam rumah. Para pelayan menyambutku dan mempersilahkanku menuju ruang kerja ayah mertuaku, dimana papi sudah menungguku.
Aku berdiam sejenak di depan pintu. Dadaku berdebar tak karuan mengingat apa yang akan nanti kami bicarakan. Aku berharap Tuhan memihakku. Karena yang aku hadapi sekarang adalah ayah dari istri yang akan kuceraikan. Yang begitu menyayangi putrinya dan rela melakukan apapun demi putri swmata wayangnya.
Ku ketuk perlahan dan terdengar seseorang menyahut dari dalam, mempersilahkan ku.
"Duduklah" perintahnya sambil melepas kaca mata yang bertengger di hidungnya dan meletakkannya di meja.
Aku menyeret sedikit kebelakang kursi di hadapannya dan duduk dengan tegak. Menghadap pada sebidang wajah tegas yang menatapku lurus.
"Kamu sudah tau apa yang di alami Kirana?" Tanyanya memecah keheningan diantara kami.
"Papi akan menyerahkan semua keputusan sama kamu" Ucapnya memotong perkataanku.
"Maksut papi?" Tanyaku tak mengerti.
"Kamu boleh mempertahankan Kirana atau melepaskannya" Ujarnya dengan raut wajah sedih.
"Papi akan menerima keputusan kamu" imbuhnya lagi.
"Maafkan Saya pi.." Ucapku penuh dengan penyesalan.
"Saya belum bisa menjadi suami dan menantu yang baik untuk keluarga ini" imbuhku lagi.
__ADS_1
"Papi bukannya tidak tau kalau kamu sudah menggugat cerai Kirana berkali-kali dan di halangi oleh papa kamu" Ucapnya tiba-tiba.
Aku terkejut sekali mendengarnya mengetahui tentang masalah ini.
"Papi juga bukannya tidak tahu bagaimana kelakuan Kirana diluar sana. Papi terlalu malu sama keluarga kamu. Papi tidak bisa mendidik Kirana dengan baik dan selalu memanjakannya. Hingga dia bisa sampai seperti ini" Ujarnya dengan nada menyesal yang teramat kentara.
"Ini juga tidak sepenuhnya salah Kirana pi.. tapi Saya juga bersalah dalam masalah ini" Ujarku lirih.
"Papi akan membuat kamu bercerai dengan Kirana, tapi dengan 1 syarat" Ujarnya tegas.
"Selama Saya bisa memenuhinya, pasti Saya lakukan" Ucapku meyakinkannya.
"Tolong masalah kecelakaan ini diselesaikan dengan damai. Karena papi ingin segera membawa Kirana keluar negeri untuk mencari dokter yang bisa memberi peluang Kirana untuk bisa sembuh. Meskipun hanya 1% akan papi lakukan" Ujarnya dengan raut wajah putus asa.
"Akan Saya usahakan pi.." Ujarku meyakinkannya.
"Nanti biar papi yang bicara sama papa kamu masalah ini. Papi tidak mau mengorbankan kebahagiaan anak orang lain demi anak sendiri. Karena seandainya jika papi berada di posisi kamu pun, papi akan melakukan hal yang sama seperti kamu" Ucapnya dengan menghela nafas berat.
"Terima kasih pi.. dan Maaf.." Ujarku pelan.
"Tidak perlu minta maaf, harusnya papi yang minta maaf atas kelakuan Kirana selama ini" Ujarnya masih penuh dengan penyesalan.
"Semoga kamu bisa cepat menemukan kebahagiaan kamu.. " imbuhnya lagi.
"Terima kasih pi.. Saya akan berusaha meyakinkan keluarga Caramel untuk menyelesaikan masalah ini dengan damai" Ucapku dan beranjak berdiri.
"Saya pamit dulu" Pamitku dan dijawab dengan anggukan pelan dari sesosok dengan raut wajah terlihat sedih di depanku.
TBC
__ADS_1
Like & Comment ya..
Thanks untuk votenya 💖💖💖