
.
.
.
.
.
.
"Lo disini juga Jo?" Tanya Gerry begitu dia datang dan melihat Jonathan bersamaku.
"Gara-gara lo nih, kerjaan kantor gue masih numpuk tiba-tiba aja Caramel telfon gue Minta ketemu" Saut Jonathan pura-pura sewot.
"Kenapa jadi nyalahin gue?" Tanya Gerry heran sambil duduk di sebelahku.
Kucubit pelan paha Jonathan hingga dia mengaduh "Diomongin aja baby... biar ga salah paham" Ujar jonathan padaku.
"Ada apa sayang?" Tanya Gerry dengan raut khawatir.
"Sebelumnya, Mas pengen minta maaf sama kamu" ujarnya dengan nada menyesal "Soal tadi waktu kita fiting baju pengantin. Mas bener-bener salah. Maafin mas ya sayang... Janji deh, mas ga akan seperti itu lagi" Ujarnya sambil menggenggam tanganku.
Aku terdiam, menunggu Gerry melanjutkan lagi penjelasannya yang mungkin belum selesai.
"Mas terlalu terkejut dengan pertemuan dengan Naura yang sangat tiba-tiba setelah lebih dari 15th tidak bertemu. Jo pasti udah cerita sama kamu kan? Mas benar-benar minta maaf sayang... Percayalah, mas udah ga ada perasaan apa-apa sama Naura" Ucapnya meyakinkanku.
"Kamu ga pernah seperti ini sebelumnya mas, itu yang membuat aku jadi sedikit ragu. Padahal sebelumnya aku sudah sangat yakin, kalau cuma ada aku di hati kamu" Aku mengutarakan semua yang menyesakkan dadaku.
"Gue tinggal balik dulu deh, kerjaan gue masih numpuk" Pamit Jonathan.
"Aku pamit dulu ya baby... kalo si Gerry jahatin kamu, tenang aja. Aku siap gantiin posisi dia kapanpun" Pamit Jonathan padaku sambil mengelus rambutku pelan.
"Calon bini gue Jo.. jangan macem-macem lu!" Ujar Gerry sambil menyingkirkan tangan Jonathan yang berada di atas kepalaku.
Jonathan hanya nyengir tak menghiraukan Gerry yang sudah kesal.
"Maaf Jo, udah ganggu waktu kamu. Terima kasih udah sempet-sempetin dateng" Ucapku sedikit tak enak hati.
"It's oke baby.. balik dulu ya" Pamitnya kembali dan meninggalkan kami yang hanya tinggal berdua.
"Kita pulang aja ya, mas jelasin semuanya dirumah. Oke?" Ajaknya sambil menggandeng tanganku mengajakku beranjak berdiri.
__ADS_1
Aku mengedarkan pandanganku mencari keberadaan Veronica, dan saat dia melambaikan tangannya aku ikut membalas lambaian tangannya.
"Aku pulang" Ucapku tanpa suara ke arah Veronica dan di jawab dengan sebuah anggukan.
***
"Apa ga besok aja mas? ini sudah terlalu malam" Ujarku memecah keheningan kami saat kami berada di dalam mobil untuk pulang.
"Mas ga bisa nunggu besok lagi. Takut kamu semakin salah paham nanti" Ucapnya sambil masih fokus menatap jalanan di depannya.
Kubiarkan saja dia menjelaskannya nanti setelah kami sampai di apartemen. Karena akupun sama. Tidak akan bisa tidur tenang sebelum dia menjelaskan sendiri kepadaku.
"Kamu harus percaya sama mas, cuma kamu yang ada di hati mas" Ucapnya setelah duduk di ruang tamu ketika kami sampai di apartemen.
Aku ikut duduk di sampingnya, dan memandang wajahnya untuk melihat kesungguhannya. Dan mata hazel nya tak bergetar sama sekali.
"Lalu kenapa kamu seperti ga bisa berhenti memikirkannya setelah bertemu dengannya? Bahkan kamu mengabaikanku" Ucapku lirih hampir tak bersuara.
"Karena itulah mas sekarang ada disini untuk minta maaf sama kamu sayang.. Mas salah, sangat salah. Tapi saat itu mas benar-benar terlalu terkejut dengan pertemuan tiba-tiba itu. Mas hanya manusia biasa sayang, yang juga punya masalalu yang terkadang bisa muncul begitu saja dalam pikiran mas" Ujarnya dengan menunduk dan menghela nafasnya pelan.
"Apalagi setelah bertemu dengan seseorang yang mengingatkan masa lalu. Tapi seindah apapun masa lalu itu, atau seberapa sakitnya masa lalu itu, kamu tetap yang utama bagi mas. Karena kamu masa depan mas. Maaf, karena sikap mas yang seperti itu jadi melukaimu" imbuhnya lagi.
Gerry benar, akupun punya masa lalu. Semua orang punya masalalu. Semua orang punya kisah di masalalu nya. Entah itu kisah pilu, atau kisah menyenangkan yang diam-diam mendapatkan suatu tempat di pikiran kita tanpa kita sadari.
"Kamu masih marah sayang?" Tanya Gerry sedikit khawatir.
"Iya.." Jawabku singkat.
Gerry memelukku dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku "Mas benar-benar minta maaf sayang.. Jangan marah lagi ya.. Kamu cuma sebentar disini, mas ga mau menyia-nyia kan beberapa hari ini dengan kamu yang marah sama mas.." Ucapnya yang semakin mengeratkan pelukannya di tubuhku.
Ku balas pelukannya dengan tak kalah eratnya "Jangan ulangi lagi mas, meskipun nanti kamu ketemu mantan gebetan kamu yang waktu kamu SMA dulu, atau ketemu cinta pertama kamu saat kamu SD dulu, jangan mengabaikanku"
Dia sedikit terkejut dan melepaskan pelukannya dari tubuhku "Pasti Jo udah cerita yang enggak-enggak sama kamu" Ujarnya sedikit kesal.
Aku tersenyum dan mengangguk "Lain kali kamu ceritakan semuanya sama aku mas, biar aku ga salah paham"
Dia memalingkan wajahnya dan sedikit mengumpat tanpa suara yang ditujukan untuk Jonathan.
"Setidaknya, berjanjilah untuk tidak mengabaikanku mas..." Pintaku lirih.
"Kamu tau betul sayang, gimana mas memperjuangkan kamu sampai kita bisa sejauh ini.. Mas harap kamu ga akan meragukan rasa sayang mas sama kamu. Bahkan mas rela meninggalkan keluarga 'Soewirdjo' jika saja mas sudah tidak menemukan jalan lain agar bisa bersama kamu" Ujarnya meyakinkanku.
Ku kecup pipinya sekilas "Makannya, jangan sampai membuat aku meragukanmu mas.."
__ADS_1
"Kamu mau memaafkan mas kan?" Tanyanya sedikit ragu.
Aku mengangguk "Akupun punya masalalu mas, yang terkadang juga mengganggu pikiranku. Aku tidak berhak menghakimi sikap kamu, meskipun sedikit keterlaluan sih sebenernya.."
Dia mencubit hidungku gemas "Mas kan udah berkali-kali minta maaf sayang.." Ujarnya dan memelukku lagi.
Ku lihat jam yang tergantung di dinding di hadapanku "Sudah hampir tengah malam mas, pulanglah.."
"Pulang kemana? Mas biasanya tidur disini, ini rumah mas" Jawabnya usil.
"Kan kamu bilang mau pulang kerumah orangtua mu mas.." Protesku yang masih dalam pelukannya.
"Sudah terlalu malam, mas takut pulang sendirian" Kilahnya yang kemudian beranjak berdiri dan melangkahkan kakinya masuk ke kamar tidur.
Saat aku masuk ke kamar dia sudah berbaring di atas tempat tidur dan menepuk-nepuk tempat di sebelahnya "Mas janji, kita hanya tidur saja.. ga ngapa-ngapain"
Aku menggelengkan kepalaku pelan melihat tingkahnya kemudian meninggalkannya untuk mencuci muka ku dan berganti baju tidur. Saat aku kembali dia sudah tertidur pulas tanpa mengganti pakaian yang di kenakannya tadi.
"Cuci mukamu dulu mas, dan gantilah bajumu dengan baju yang nyaman untuk tidur" Ku tepuk pipinya pelan.
Dia mengerjapkan matanya sebentar kemudian berdiri dengan malas menuju kamar mandi.
Saat dia kembali setelah mencuci muka dan mengganti bajunya dengan pakaian yang nyaman dia berbaring di sampingku dan memelukku.
Dikecupnya keningku sedikit lebih lama "Selamat tidur sayang..." kemudian dia mengeratkan pelukannya padaku dan kembali tertidur.
Dia benar-benar menepati janjinya untuk hanya tidur memeluk tubuhku sepanjang malam.
TBC
Like, koment, kritik dan sarannya jangan kendor ya readers... 😘😘😘
Terima kasih untuk Vote nya..
Terima kasih untuk yang sudah mampir meluangkan waktu membaca novel ini 💖💖💖
Kalau masih tidak bisa membuka episode kali ini, mohon mangatoon nya diperbarui ya.. biar bisa kebaca. Kasian Author kan udah capek² ngetik tp ga kebaca 😁
Author selalu berdo'a
"Semoga kita semua dihindarkan dari Corona yang meresahkan ini"
Aminn
__ADS_1