
.
.
.
.
.
.
.
Jantungku masih saja begitu berdegup kencang. Padahal Gerry sudah menenangkanku dengan menggenggam tanganku erat. Dielusnya sedikit tanganku dengan ibu jarinya.
"Tangan kamu dingin sekali. Jangan gugup, nanti juga kamu terbiasa" Ujarnya menenangkanku.
Ku tarik nafasku perlahan lalu ku buang pelan-pelan, tapi tetap saja aku gugup. Ku pandangi pintu di depanku dengan segala macam pikiran yang masih berkecamuk dalam benak ku.
Ya, aku sedang berada di rumah orang tua Gerry. Karena permintaan mama Gerry yang menyuruhku mampir selagi aku berada di Jakarta. Tapi tentu bukan tante Luna yang membuatku gugup, melainkan om Rendra yang aku tau masih belum bisa menerimaku sepenuhnya menjadi menantunya.
Aku takut membuat kesalahan yang akan membuatku semakin terlihat buruk di mata om Rendra yang sedari awal memang tidak menyukaiku.
"Ayo masuk, papa sama mama sudah nungguin kita dari tadi" Ajak Gerry dan membuka pintu di depannya.
"Mas Gerry sudah ditungguin tuan sama nyonya di ruang makan" Ucap salah seorang pembantu yang menyambut kedatangan kami.
Gerry hanya mengangguk kemudian menuntunku menuju ke ruang makan yang terletak sedikit jauh di belakang. Dan ketika sampai, tante Luna berdiri menyambutku. Sedangkan om Rendra terlihat acuh dengan menyesap kopi dan membaca koran.
"Calon mantunya mama udah dateng.. Sini duduk di sebelah mama" Ujar tante Luna yang langsung menggandeng tanganku dan menarikkan kursi untukku.
"Makasih tante" Jawabku sopan.
"Panggil mama dong sayang, bentar lagi kan kalian menikah. Masak masih panggil tante terus" Ujar tante Luna dengan memasang wajah pura-pura kesal.
"Iya mah" Ucapku pelan.
"Nah, gitu kan enak. Kita kan nanti jadi satu keluarga. Kamu ga perlu sungkan sayang.." Ujar tante Luna mengingatkan.
"Baik mah" Kembali kujawab dengan pelan.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo makan dulu. Nanti kita ngobrol-ngobrol lagi" Ajak tante Luna yang sudah berdiri untuk mengambilkan om Rendra nasi dan lauk pauk nya.
"Makan yang banyak ya sayang.. ga usah diet-dietan sebelum menikah. Mama pengen kamu bisa cepet hamil. Biar rumah ini rame" Ucap tante Luna sambil mengambilkan nasi untukku.
"Saya bisa sendiri mah" Tolak ku ketika tante Luna mengulurkan sepiring nasi kepadaku.
Tante Luna menggelengkan kepalanya "Ga boleh nolak" ucapnya yang terdengar seperti sebuah perintah.
"Tenang aja mah, nanti langsung dibikinin 2 langsung. Biar tambah rame" Saut Gerry jahil.
Aku memberengut kesal menatapnya, dan dia malah tersenyum senang.
"Makanan Gerry mana mah? ga di ambilin sekalian?" Protesnya karena tante Luna sudah duduk kembali setelah mengambil untuk dirinya sendiri.
"Ambil sendiri ya sayang, biasanya juga ambil sendiri kok" Ucap tante luna yang kemudian sibuk mengambilkan lauk pauk untukku.
"Belum apa-apa udah pilih kasih ni mama" Sungutnya kesal.
"Aku ambilin ya mas" Tawarku kemudian dan di jawab dengan senyum merekah di wajahnya dan sebuah anggukan.
"Biar dia ambil sendiri sayang.. Kamu makan aja" Ucap tante Luna berusaha mencegahku untuk berdiri.
"Ga apa-apa mah" Ujarku sambil mengambilkan sepiring nasi beserta lauk pauknya untuk Gerry.
Aku kembali duduk dan menikmati makan siang kami yang kemudian berlangsung sepi. Tidak ada salah satu dari kami pun yang berbicara.
Ku lirik sekilas om Rendra yang raut wajahnya masih terlihat dingin seperti saat tadi waktu kami baru saja datang. Aku kembali gugup. Mengingat Om Rendra tak menghiraukan ku saat tadi tante Luna berbasa-basi denganku.
"Persiapan untuk pernikahan kalian udah sampai mana?" Tanya tante Luna ketika kami sudah berpindah ke ruang keluarga yang menghadap ke sebuah kolam renang.
"Sudah 60% mah, sisanya nanti biar Gerry yang urus. Biar Caramel pulang untuk menyiapkan acara ijab kabul disana. Meskipun cuma keluarga dekat saja yang di undang" Ujar Gerry menjelaskan.
"Kamu ga kepengen ngadain pesta yang meriah sayang?" Tanya tante Luna yang nampak heran dengan keputusanku.
"Tidak mah, yang terpenting untuk saya adalah saya sah di mata hukum dan agama menjadi istri Mas Gerry" Jawabku yakin.
"Kamu yakin? padahal mama berharap akan ada pesta besar di rumah kamu" Ucapnya sedikit kecewa.
"Saya sudah memikirkannya secara matang-matang mah, cukup sanak saudara saja yang datang menghadiri acara ijab kabul kami nanti" Aku meyakinkan tante Luna sekali lagi.
"Kamu sangat sederhana sekali sayang.. Mama akan menghormati keputusanmu" Ujar tante Luna melunak.
__ADS_1
"Terima kasih mah" Ucapku dengan senyum mengembang di bibirku.
"Papa katanya ada yang di omongin" Ujar tante Luna pada Om Rendra yang sedari tadi sibuk di balik koran.
Dan aku kembali gugup, hanya dengan melihat Om Rendra yang sekarang melipat korannya dan meletakkan kaca mata nya di atas meja, kemudian menatap aku dan Gerry bergantian.
"Jangan sampai membuat kesalahan di acara pernikahan kalian nanti" Ucap om Rendra dengan tegas.
"Karena papa akan mengundang semua relasi perusahaan untuk datang di acara pernikahan kalian nanti, untuk mengumumkan kamu sebagai penerus perusahaan yang akan menggantikan posisi papa kalau papa sudah pensiun nanti" Ujar om Rendra yang terlihat serius.
Gerry terlihat sangat terkejut, karena selama ini posisinya di perusahaan hanya sebagai karyawan biasa tanpa ada yang tau bahwa dia adalah satu-satu nya penerus keluarga Soewirdjo.
"Kenapa mendadak seperti ini pah?" Tanya Gerry heran.
"Ini keputusan papa yang tidak bisa kamu hindari" Jawab Om Rendra tak terbantahkan.
"Dan juga, papa sudah menyiapkan rumah untuk kalian tidak jauh dari rumah ini" Ucapnya yang tak kalah membuat kami terkejut.
Tante Luna tersenyum senang melihat kami yang terheran-heran dengan sikap papa yang sepertinya sudah sedikit melunak.
"Terima kasih pah" Jawabku dan Gerry bersamaan.
Gerry menggenggam tanganku dan merem*snya pelan untuk menyalurkan rasa bahagia yang seakan membuncah di dadanya seperti yang kurasakan. Karena mengetahui hati Om Rendra yang ternyata tidak sekeras dulu.
"Makannya, kalian harus cepet punya momongan. Mama sama papa pengen menikmati hari tua dengan bermain sama cucu. Kayak temen-temen mama yang suka pamer cucu" Ujar tante Luna sedikit merajuk.
Gerry tertawa geli melihat tingkah tante Luna yang iri dengan teman-temannya "Terima kasih mah... Terima kasih pah... ga ada kata-kata yang bisa aku ungkapkan untuk menggambarkan rasa bahagia yang saat ini sedang aku rasakan" Ucap Gerry yang beranjak berdiri dan memeluk tante Luna.
Ada sedikit air mata di sudut mata hazel tante Luna yang sedang dalam pelukan Gerry.
"Maafkan Mama dan Papa yang selalu mengatur kehidupan kamu sayang.." Ujar tante Luna dengan air mata yang kini membasahi pipinya.
Pemandangan di depanku ini, siapapun pasti akan meneteskan air mata melihatnya. Tak terkecuali aku yang hanya bisa menunduk menyembunyikan air mata yang begitu deras mengalir di wajahku.
"Aku tidak akan mengecewakan mama dan papa atas pilihanku sekarang" Ujar Gerry dengan mengelus punggung tante Luna dan menenangkannya.
TBC
Plis Like & komen .. 😁
Makasih Utk VOtenya..
__ADS_1
Thanks utk yg udh menyemangati Author 💖💖💖