Wanita Penggoda

Wanita Penggoda
Siang Pertama


__ADS_3

.


.


.


.


.


.


Rumah ini terlalu besar. Itulah kalimat yang pertama kali aku ucapkan ketika 'Mas Gerry' membawaku ke sebuah rumah hadiah dari papa yang akan kami tinggali nanti. Rumah yang sangat besar yang hanya berjarak 1 Km dari rumah papa.


"Apa ga terlalu besar mas?" Aku menatap ke sekeliling ruangan begitu Mas Gerry membuka pintu rumah ini dan menggandengku untuk masuk. Sedangkan Aslan sudah berlarian kesana-kemari dengan girangnya.


"Rumah ini ga akan terlihat besar kalo nanti kita udah bikin rame dengan kehadiran anak-anak kita nanti" Ujarnya dengan mengerling nakal.


Ku cubit pinggangnya dengan gemas "Jangan banyak-banyak mas..."


"Setidaknya... 5 cukup" Ucapnya dengan tersenyum jahil.


"Kamu yang melahirkan?" Sautku sewot.


Di cubitnya gemas kedua pipiku, kemudian mengecup bibirku sekilas "Mas yang membuatnya, kamu yang melahirkan"


Sekali lagi ku cubit pinggangnya hingga dia tertawa keras.


"Tuan-Nyonya.. Perkenalkan, saya Erna. Saya yang di perintahkan oleh tuan besar untuk merawat rumah ini. Dan ini Ijah dan Sri yang akan membersihkan rumah ini dan memasak. Kalau ini pak Ujang, tukang kebun" Tiba-tiba saja ada beberapa orang yang sudah berdiri di belakang kami.


"Untuk pengasuh tuan muda, akan datang besok" Imbuhnya lagi.


"Baiklah.. Semoga kalian senang bekerja disini. Sekarang lakukan tugas kalian. Kami ingin berkeliling sebentar" Ucap mas Gerry yang sepertinya juga terkejut.


"Baik tuan.." Ucap mereka serentak kemudian berpencar dengan tugas masing-masing.


"Kenapa sampai ada 3 pembantu dan 1 pengasuh mas? Aku bisa mengerjakan semuanya, cukup 1 pembantu saja yang di pekerjakan. Aku bisa mengawasi dan merawat Aslan sendiri" Ujarku setelah mereka meninggalkan kami.


"Bukan mas yang mempekerjakan mereka sayang.. Ini pasti kerjaan mama" Ucapnya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ga apa-apa.. kamu kan tau, mama pengen kamu cepet hamil. Makannya mama ga mau kamu capek mengurus rumah atau Aslan. Lagian, apa kamu ga kasian liat mereka? baru kerja beberapa hari udah di pecat?" Ujarnya lagi.


Benar, kasihan mereka. Mencari pekerjaan di Ibukota sangat sulit. Meskipun bekerja sebagai pembantu, tetap saja mereka akan kesulitan mencari pekerjaan lain jika di pecat. Belum lagi jika mereka adalah perantau, maka akan mengecewakan keluarga mereka jika tidak bisa mengirim uang. Aku mengerti, karena aku pernah berada di posisi mereka.


"Tapi jangan larang aku untuk sedikit membantu mereka ya mas.. " Aku mengalah karena tak tega dengan nasib mereka.


"Mas ga mau kalo sampe kamu nanti beralasan cape dan ga mau di ajak bikin adek untuk Aslan" Ujarnya memberengut kesal.


"Apa yang ada di pikiran kamu cuma 'itu' mas?" Ujarku gemas.


"Sayang.. mas udah puasa selama berbulan-bulan lho ini.. Udah di ujung ini sayang.. gara-gara di gangguin bocah lucu yang gemesin itu" Ucapnya sambil menunjuk Aslan dengan dagunya.


Aslan berlari ke arah mas Gerry dan di tangkap mas Gerry kemudian di angkatnya tinggi-tinggi. Lagi-lagi aku tersenyum melihatnya.


"Anak papa seneng ga tinggal di rumah baru ini sama mama sama papa?" Ucapnya sambil menggendong Aslan.


"Teneng pah.. Alan penen belenang. Tadi di belatang liat ada tolam lenang. Tapi Alan tatut talo ailnya dalem. matannya Alan te tini ajatin papa lenang" Ujat Aslan dengan mata berbinar.


"Nanti sayang... papa capek mau istirahat dulu. Berenangnya nanti ya kalo papa udah ga capek.." bujukku karena tau Mas Gerry pasti masih lelah dengan perjalanan kita tadi. Begitupun aku yang ingin berbaring sebentar karena masih lelah dengan acara kemarin.


"Kita lihat kamar Aslan aja yuk..." Ajak mas Gerry yang langsung beranjak menaiki anak tangga menuju lantai dua.


Aslan yang sedikit kecewa kini riang kembali. Matanya berbinar senang ketika pintu kamarnya terbuka dan melihat isi kamarnya. Berbagai macam mainan ada di sana. Berbagai macam robot dan mobil-mobilan berjajar rapi di rak almari di samping tempat tidurnya.


"Kamu terlalu memanjakannya mas.." Ucapku ketika melihat mas Gerry dan Aslan sudah asik bermain baku hantam dengan masing-masing memegang sebuah robot di atas tempat tidur.


"Resiko pilih yang satu paket sayang.. Jangan protes sama pilihan mas" Sindirnya yang membuatku tertawa geli.


Aku ikut duduk di tepi ranjang "Makasih untuk semuanya mas.. Aku belum bisa membalas cinta kamu yang begitu besar untuk kami"


Dia menoleh jahil "Kamu bisa membalasnya nanti setelah Aslan tidur.."


Kemudian dia kembali bermain dengan Aslan yang tertawa riang karena berhasil mengalahkan papanya. Mas Gerry yang pura-pura kalah hanya memberengut kesal saat robotnya jatuh ke lantai.


"Ahhh.. papa tidak bisa mengalahkan jagoan. Sekarang.. saatnya jagoannya papa tidur. Nanti setelah tidur, papa ajak berenang. Kita main air. Oke?" Ujat mas Gerry yang mulai mengambil robot Aslan dan meletakkan kembali di tempatnya.


Aslan yang memang sudah menguap sedari tadi langsung menurut ketika mas Gerry dengan telaten mengusap-usap kepala Aslan sambil berbaring di sebelahnya. Aku ikut berbaring dan memeluk Aslan. Namun mataku juga ikut terasa berat. Dan kemudian jatuh tertidur di kamar Aslan.


Aku merasakan sebuah tangan mengangkat tubuhku. Ku buka mataku dan mendapati mas Gerry sedang menggendongku keluar dari kamar Aslan. aku mengalungkan tanganku ke lehernya namun kembali terpejam.

__ADS_1


Saat aku merasakan tubuhku di letakkan di atas sebuah ranjang yang nyaman, Mas Gerry tak tinggal diam. Di bukanya kancing bajuku satu persatu. Juga celana jeans ku yang tau-tau sudah lolos begitu saja. Hingga aku hanya mengenakan dalaman saja.


"Ga akan ada waktu untuk istirahat sayang.." Bisiknya ditelingaku, kemudian mulai menciumi leherku dan menjil*tnya dengan lidahnya yang panas.


"Ehhmmm" Aku menggumam masih dengan memejamkan mataku.


Bibirnya melum*t bibirku dengan lembut. Ku buka mulutku agar lidah kami saling bertemu. Tubuhnya menind*hku dan menggesek-gesek bagian bawahnya yang sudah mengeras. tangannya merem*s dadaku yang sudah tegang sedari tadi karena permainannya.


Ku tarik kaos yang dikenakannya ke atas dan melepaskannya dari tubuhnya. Terpampang dengan jelas dada berototnya yang sangat ku kagumi. Ku belai sedikit dada berbulunya dan ku kecupi. Dia menggeliat geli di atasku.


Aku beralih membuka celananya dan dia dengan tidak sabar membukanya dan melemparkannya ke sembarang arah. Kemudian kembali menc*mbuku dengan nafsu yang sudah tidak bisa di tahannya lagi.


Aku mendesah, aku mengerang karena permainan lidahnya di sekujur tubuhku. Dia mengangkatku ke atas, aku duduk di atasnya. Ku buka pengait bra ku dan menunduk. Ku arahkan pay*udaraku ke mulutnya.


"Ahhhh.. Mass.." Desahku tertahan ketika dia menyes*p dan mencec*p payuda*ku dengan sangat bergairah.


Aku tak tahan lagi. Ku arahkan milikku agar bisa di masuki dirinya dan Arrrgghhhh..


Ku goyang tubuhku yang berada di atasnya. Tangannya yang tak berhenti merem*s payudar*ku membuat nafsuku semakin menggila. Berulang kali ku dengar dia mengerang nikmat dengan memejamkan matanya.


Hingga menit demi menit berlalu, ku rasakan seperti ada yang meledak dalam diriku. Ku percepat goyanganku pada tubuhnya dan mendesah nikmat saat kurasakan klimaksku. Aku lemas dan jatuh di dada bidangnya.


Di kecupnya keningku dengan sayang kemudian membalik tubuhku sehingga berada di bawahnya.


"Mas akan buat kamu lemas berkali-kali sayang.." Bisiknya lembut di telingaku.


Kemudian kembali memasukiku dan mendorongnya pelan. Namun lama-lama ritmenya berubah cepat. Dia membalik tubuhku untuk membelakanginya. Ahhh, posisi yang sangat ku sukai.


Dan benar saja, belum sampai beberapa menit dia mendorongku dari belakang, aku sudah mencapai klimaksku lagi. Aku benar-benar lemas. Namun dia belum juga menunjukkan tanda akan mencapai klimaksnya.


Hingga kami mengubah berbagai posisi dengan keringat dan peluh yang sudah membanjiri tubuh kamipun dia belum juga lelah. Hingga berpuluh-puluh menit berlalu, dia mendorongku dengan hentakan yang begitu cepat dan mengerang nikmat.


Tubuhnya terjatuh lemas di atasku dengan miliknya yang masih berada di dalam tubuhku.


"Makasih sayang.. aku mencintaimu" bisiknya masih dengan nafas memburu kemudian terguling di sampingku.


Tangannya mengusap pelan perutku "Kembar ya sayang...." Ucapnya usil.


TBC

__ADS_1


Like & Comment plissss..


Terima ksih utk Vote dan semangat kalian 😘


__ADS_2