
.
.
.
.
.
.
"Dengan uang?" tanya Gerry ketika dia mulai melihatku gelisah.
Aku mengangguk pasrah "Iya.. tapi mau aku transfer balik kok mas.."
"Ga usah... biarin aja. Kita buat shoping aja gimana? atau liburan bertiga sama Aslan kayaknya seru" Ujarnya tak terduga.
"Kamu ga marah mas?" Tanyaku heran.
"Enggak, udah bisa di tebak sih.." Jawabnya santai.
"Tapi tetap mau aku transfer balik kok.. Nanti papa kamu bisa murka sama aku" Ucapku tak enak hati.
"Memangnya berapa sih?" Tanya nya penasaran.
Lalu ku bisikkan sejumlah angka yang menurutku sangat fantastis. Namun dia tak terkejut.
"Kita pulang ke kampung halaman kamu aja gimana? kita nikah di sana, nanti uang tabungan mas sama uang dari papa, kita gunain buat beli rumah dan bikin usaha di kampung kamu. gimana?" Ucapnya serius.
"Bener-bener kebelet nikah ya kamu???" Ku ulang sekali lagi perkataanku dengan gemas.
Bagaimana aku tidak gemas, kalau dia selalu bilang ingin menikah cepat.
"Iya... mas pengen ketika bangun ada kamu di samping mas. Bikinin kopi, bikinin sarapan. Makan di temenin kamu. Ada Aslan juga yang menghibur saking lucunya.." Ujarnya dengan raut wajah sendu.
"Kalo kamu ngoceh terus, kamu bisa telat meeting lho mas.. ini udah hampir jam setengah 9 tau" Aku mengingatkannya.
"Kamu mengalihkan pembicaraan?" Ujarnya kesal.
Ku kecup bibirnya sekilas "Aku hanya mengingatkan mas.. kalau kamu tidak berangkat sekarang kamu bisa sangat telat nanti"
__ADS_1
"Mas udah pesen ojek online. Biar bisa cepet sampai. Mas udah tau kalo ga keburu kalo naik mobil. Berangkat jam 8 aja mas udh pasti telat. Apalagi ini udah hampir jam setengah 9" Ucapnya dan mengecup bibirku.
"Mobil kamu gimana? Aku nanti shift siang lho.." Ujarku khawatir.
"Nanti siang biar mas suruh orang perusahaan untuk ambil mobilnya. Kamu pulangnya mau mas jemput?" Tawarnya.
"Lebih cepet jalan kaki dari pada di jemput kamu mas.." Gurauku geli.
"Pokoknya mas jemput.." Ucapnya sambil mengecup keningku, kedua mataku, pipi kanan dan kiri, hidung dan berakhir di bibirku.
"Mas ke kantor dulu ya... Udah ditungguin abangnya di depan" Ujarnya lagi.
Aku mengangguk dan berdiri dari pangkuannya "Semangat ya sayang kerjanya..." Ujarku menyemangati nya.
Di usaknya rambutku "Iya sayang..." kemudian mengambil tas yang sudah ku siapkan di meja tamu dan berlalu pergi menghilang di balik pintu.
***
Kulihat lagi jam yang melingkar di tanganku. Entah mengapa seharian ini terasa sangat lama. Padahal minimarket ini ramai pembeli. Berkali-kali aku menguap tanpa sadar. Hingga sudut mataku berair.
"Ngantuk ya?" Sapa seseorang yang sedang berdiri di depan meja kasir.
"Maaf.." Aku refleks berdiri dan melihat ke asal suara yang terdengar familiar.
"Kamu kok udah kesini mas? Aku pulangnya masih sejam lagi lho.." Ujarku heran.
"Sengaja.. mau nemenin kamu. Meskipun cuma lihat dari luar" Ucapnya sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam jaket.
Melihat dia berpakaian santai sungguh sangat menyegarkan mata. Dia hanya memakai celana training panjang sederhana dan jaket yang resletingnya ditarik sampai ke dagu, tapi tetap terlihat tampan. Tiba-tiba saja rasa kantuk ku hilang, menguap entah kemana.
"Aku seduhin kopi ya?" Tawarku.
Dia mengangguk pelan "Mas tungguin di depan ya?"
"Mau ramen juga ga mas?" Tanyaku lagi.
"Boleh, mas memang lapar" Ujarnya dan pergi keluar menuju bangku dan meja yang di sediakan minimarket untuk orang-orang yang ingin duduk di depan minimarket, untuk sekedar menikmati kopi atau yang lainnya.
Aku kembali ke meja kasir setelah mengantarkan ramen dan kopi untuk Gerry di luar. Ku pandangi dia dari dalam, dan kami saling lirik satu sama lain. Sampai ada pelanggan yang ingin membayar. Seorang laki-laki muda.
Ting..
__ADS_1
Aku mendapatkan sebuah pesan. Dan yang mengirim adalah dia yang berada di luar minimarket yang sedang menatapku.
"Jangan kebanyakan senyum. Nanti dia Ge-er"
"jangan liat matanya, nanti dia kira kamu suka"
"Kamu nunduk aja biar wajah kamu ga kelihatan"
"Lain kali pake masker aja kalo kamu kerja"
Aku tersenyum membaca pesan-pesannya yang kekanakan. Dan ku abaikan semua pesannya.
Tetapi dia selalu menggangguku dengan pesan-pesannya yang dikirim ke ponselku ketika aku sedang melayani pelanggan yang berjenis kelamin laki-laki. Hingga jam kerjaku berakhir. Dia sungguh lucu jika sedang cemburu. Sangat menggemaskan.
Ku gandeng tangannya dan kami berjalan beriringan "Kenapa ga bawa mobil?"
"Kamu bilang lebih cepat jalan kaki dari pada naik mobil?" Ujarnya yang kemudian mengambil tanganku dan ikut dimasukkan ke dalam jaketnya.
"Iya... kalo naik mobil jalannya muter. Kalo jalan kaki cuma 10 menit aja udah nyampe" Ucapku menjelaskan.
"Lain kali kalo jemput pas aku pulang aja, ga usah nungguin kayak tadi" Imbuhku lagi.
"Kenapa?" Tanyanya heran.
"Ga kenapa-kenapa. Gemes aja liat kamu cemburu gitu sama pembeli" Ujarku sambil tersenyum geli.
"Kayak ABG aja" Imbuhku lagi.
Di cubitnya hidungku dengan gemas "Mas ga suka liat cowok-cowok itu lihatin kamu sampe mau keluar matanya itu, pengen mas colok matanya"
"Itu sih karena kamunya aja mas yang cemburu buta" Gurauku jahil.
Sekali lagi dia mencubit hidungku gemas. Menyenangkan sekali berjalan kaki berdua dengannya dan bergurau sepanjang jalan. Sampai tak terasa ternyata sudah hampir sampai di rumahku.
Namun aku terkejut mendapati sebuah mobil mewah yang bertengger di depan mobil Gerry, juga pemiliknya yang sedang berdiri di samping mobil dan menatap kami.
TBC
Jangan lupa Like & Comment ya...
Terima kasihh untuk Vote nya..
__ADS_1
Terima kasih untuk yg sudah baca.. 💖💖💖
Ada kalanya ketika nanti Author seharian tidak update, bisa jadi di karenakan Author sibuk dengan pekerjaan Author di dunia nyata. Tapi Author selalu berusaha untuk Up setidaknya sehari sekali. Jangan lupa untuk selalu berikan Author semangat ya... 😘