Wanita Penggoda

Wanita Penggoda
Yes, I do


__ADS_3

.


.


.


.


.


.


"Gombal banget kamu mas" Ujarku setelah dia melepaskan ciumannya.


Dia malah tertawa dan mencubit hidungku gemas "Sama kamu aja mas bisa gombal"


"Iya-in aja deh" gurauku sambil memegang hidungku yang merah sehabis di cubit.


"Mau aku masakin sesuatu mas?" Tawarku padanya karena ini sudah memasuki jam makan malam.


"Gak mau makan di luar?" Dia malah balik bertanya.


"Boleh, tapi aku mandi dulu ya.." pamitku sambil mengambil handuk dari belakang pintu kamarku.


"Bareng ya..." Ujarnya yang sekarang sedang mengekoriku menuju kamar mandi.


Ku hentikan langkahku dan membalikkan badanku menghadapnya "Jangan macem-macem mas..."


"Semacem aja, ga macem-macem kok" Guraunya dengan menunjukkan wajah memelasnya.


Ku kecup bibirnya sekilas lalu lari ke kamar mandi dan mengunci pintu kamar mandi. Aku masih tersenyum-senyum sendiri hanya dengan membayangkan tingkah Gerry yang manja tadi.


Sudah hampir kepala 4 tapi masih saja bersikap seperti Aslan. Ku dengar dia mengetuk pintu kamar mandi.


"Di dapur ga ada kopi ya?" Teriaknya dari luar.

__ADS_1


"Ada mas, di lemari atas yang paling kiri" Jawabku tak kalah nyaring.


"Mas ga denger sayang..." Teriaknya lagi.


Pasti ini akal-akalan dia saja, biar aku bukain pintu kamar mandi ini.


"Nanti aku buatin kalo udah selesai mandi" Teriak ku lagi.


"Kelamaan nungguin kamu, mas bikin sendiri aja" Jawabnya.


"Dimana tadi?" Tanyanya lagi.


"Di lemari atas yang paling kiri mas..." Jawabku lagi.


"Udah ketemu" Jawabnya dan kemudian hening.


Begitu aku keluar setelah selesai mandi, kulihat dia sedang serius dengan pekerjaannya. Berkas-berkas berserakan di atas meja dan dia sedang menatap layar laptop yang terbuka.


Aku masuk ke kamar dan berganti baju. Dia terlalu sibuk, egois sekali kalau aku ingin makan di luar. Meskipun dia yang menawariku duluan. Lebih baik pakai baju santai saja dan kumasakkan dia makan Malam.


Jujur saja aku masih belum mengerti. Kenapa Kirana tidak mau melepaskan Gerry. Padahal jika dia mau melepaskan Gerry, dia bisa bebas bertemu dengan mas Reyhan atau malah menikah dengannya. Dan jika itu benar terjadi, aku tidak peduli.


Mulai saat aku menerima Gerry, aku sudah memutuskan untuk membuang jauh-jauh ingatan tentang gagalnya pernikahan pertamaku. Meskipun sebenarnya aku belum sepenuhnya bisa lupa, tapi aku selalu berusaha.


Ku buang semua pikiran burukku saat ini. setelah sedikit mengoles lipstik tipis-tipis ke bibirku, aku keluar dari kamar dan mendapati dia masih dengan serius berkutat dengan pekerjaannya di ruang tamu.


Dan dimataku sekarang dia benar-benar terlihat sangat ..........?


"Ga jadi pergi? kok pake baju gitu?" Tanyanya heran setelah melihatku keluar dari kamar.


"Aku masakin aja ya buat kamu, ga usah makan di luar. Jadi kamu juga bisa sambil lanjutin pekerjaan kamu" Ujarku yang sekarang duduk di sampingnya.


"Makan kamu saja boleh?" Guraunya sambil memelukku.


Ku kecup kedua pipinya dan juga bibirnya sekilas "Ga boleh, puasa dulu sampai nanti udah resmi" Ucapku kemudian beranjak pergi.

__ADS_1


Dia mengekoriku menuju dapur "Becanda kan sayang?"


"Enggak.." Jawabku yang sudah mulai memotong bawang merah.


"Ga serius kan?" Tanyanya lagi.


"Dua rius malah.." Jawabku lagi yang masih sibuk berkutat dengan bumbu dapur.


"Ya udah, ayo nikah sekarang" Ujarnya yang masih di belakangku.


Ku hentikan kegiatanku yang sedang menyiapkan bumbu untuk memasak, kubalik badanku dan menatapnya yang terlihat serius.


"Kamu sedang melamarku?" Aku sedikit bergurau.


Dia menganggukkan kepalanya pelan "Iya.." jawabnya yakin.


"Ga romantis sekali kamu mas, nglamar kok di dapur. Aku pakai baju tidur juga. Ga ada cincin juga. Ga ada kata-kata romantis juga"


Cup


Dikecupnya bibirku sekilas hingga aku terdiam. Diraihnya tanganku dan dengan satu tangan memegang tangan kiriku, satu tangan yang lain memasukkan cincin ke jari manisku.


"Mas mungkin bukan laki-laki romantis yang bisa merangkai kata-kata indah untuk melamar kamu. Tapi hati mas benar-benar tulus mencintai kamu. Mas juga ga perlu lihat kamu pakai gaun, kamu pakai baju tidur kaya gini aja tetep cantik. Jadi, menikahlah denganku Caramel.."


Mungkin bagi sebagian wanita, ini bukan hal romantis. Tapi bagiku sungguh sangat romantis. Bagaimana bisa dia menyiapkan cincin ini yang begitu pas di jariku?


Tak terasa air mataku sudah jatuh membasahi pipiku. Aku menganggukkan kepalaku dan memeluknya erat.


"Iya mas.."


TBC


Jangan lupa Like ya... Cuma sekali klik aja kok 😅


Ditunggu komentarnya ya....

__ADS_1


Terima kasihhhhhh 💖💖💖


__ADS_2