Wanita Penggoda

Wanita Penggoda
Sosok Familiar 2


__ADS_3

.


.


.


.


.


.


"Kenapa kamu tidak mengajak anak kamu sayang? padahal tante ingin berkenalan dengannya.. pasti sangat lucu" Ucapnya dengan mata menerawang.


"Repot tante, ga ada yang ngurus kalo saya kerja.." Bahkan Gerry juga mengatakan bahwa aku sudah mempunyai anak?


"Boleh lihat fotonya ga?" Tanyanya sambil mencondongkan setengah badannya ke arahku.


"Maaf, tante sudah sangat ingin mempunyai cucu. Tapi belum keturutan" Ucapnya sambil tersenyum ramah.


"Ga apa-apa tante" Jawabku sambil mengambil ponsel dari dalam tasku dan mulai mengutak-atik mencari foto Aslan.



"Namanya Aslan tante, umurnya 3,5 tahun" Ucapku sambil memberikan ponselku padanya. Dan detik berikutnya Mamanya Gerry tersenyum dengan mata berbinar.


"Boleh tante putar video ini?" Tanyanya ketika dia melihat sebuah video yang kurekam saat Aslan bermain pasir dan berlarian di pantai.


"Silahkan tante" Jawabku.


"Lucu sekali anak kamu, tante jadi benar-benar ingin sekali bertemu dengannya" Ucapnya yang terus mengamati video Aslan. Ada sedikit gurat sedih tergambar jelas di wajahnya. Seperti perasaan seorang nenek yang merindukan cucunya?


"Kapan-kapan nanti saya kenalkan tante" Ucapku menghiburnya.

__ADS_1


"Benar ya?" Ujarnya sambil mengembalikan ponselku.


Aku mengangguk mengiyakan "Pasti tante" jawabku meyakinkannya.


"Mama?" Sapa seorang wanita dari arah belakang tubuhku.


"Mama ngapain disini? Sama siapa?" Tanya wanita itu lagi.


Dan saat dia menoleh menatapku, Jantungku seperti diremas. Ngilu. Sakit. Melihat sosok familiar yang mengganggu pikiranku. Melihat wanita cantik dengan lipstik berwarna merah terang yang juga sedang menatapku. Kirana?


"Mama sedang bertemu kenalan mama. Ini kenalkan, namanya Caramel" Ucap mama Gerry tanpa canggung sama sekali dan masih dengan nada lembut.


Kulihat Kirana tidak tampak terkejut ketika melihatku. Dia mengulurkan tangannya dan menyebutkan namanya. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Sedangkan aku?


Luka itu kembali meyeruak ke dalam dadaku. Kilasan tentang 'foto ranjang'nya dengan mas Reyhan berseliweran dalam kepalaku. Dadaku sesak, jika saja tidak ada Mama Gerry di hadapanku mungkin aku sudah berlari ke toilet untuk menangis.


Mama Gerry tersenyum menatapku, seperti menguatkan aku dan mengatakan 'tidak apa-apa'. Kubalas uluran tangannya dan kusebutkan juga namaku.


"Kamu ngapain disini Na?" tanya Mama Gerry pada Kirana.


"Saya permisi ke toilet sebentar" pamitku dan beranjak melangkahkan kakiku menjauh dari mereka.


Ku tekan dadaku begitu aku memasuki bilik toilet. Rasanya sangat sakit. Ini pertama kalinya aku berhadapan dengan Kirana setelah apa yang dia lakukan pada keluarga kecilku 2,5 tahun yang lalu.


Aku terduduk di kloset. Kurapalkan dalam hati kata 'Aku baik-baik saja' berulang kali agar aku tak menangis. Aku harus kuat. Aku tidak boleh terlihat lemah. Setidaknya aku ingin terlihat baik-baik saja dan sudah melupakan semuanya.


Meskipun pada kenyataannya, kenangan buruk pernikahanku yang gagal masih jelas kuingat dalam benakku.


Ketika aku keluar dari bilik toilet kulihat Kirana sedang mencuci tangannya di westafel. Apa dia menungguku?


"Gue ga akan nyerah sama Gerry, Gue ga bakal cerai-in dia, buat elo" Ujarnya seperti menantangku.


"Jangan serakah, bukankah kamu tidak mencintainya?" Sindirku yang entah dari mana kudapatkan kekuatan untuk melawannya.

__ADS_1


"Gue ga suka kalo ada yang ngambil apa yang udah jadi milik gue" Ucapnya lantang.


"Jadi, kamu boleh ambil mas Reyhan dari aku tapi aku ga boleh ambil Gerry dari kamu?" Sindirku lagi.


"Elo yang bodoh, karena mau ngelepasin Reyhan. Asal elo tau, perceraian antara gue dan Gerry ga akan mungkin terjadi. Jadi jangan terlalu berharap bisa balas dendam sama gue" Ancamnya padaku.


Aku tersenyum menanggapi celotehnya "Ga ada yang ga mungkin. Wanita egois seperti kamu akan dapat balasannya suatu saat nanti"


Dan aku berlalu meninggalkannya yang masih berdiri di depan kaca westafel di dalam toilet. Syukurlah, hatiku sudah terlatih untuk terluka. Air matakupun dapat ku tahan dengan baik. Setidaknya aku terlihat kuat di matanya. Dan bukan lagi wanita lemah yang dulu pernah di sakitinya.


"Saya pulang dulu tante, sudah hampir petang" Pamitku begitu aku kembali menghampiri mama Gerry yang terlihat cemas.


"Apa Kirana menyakitimu?" Tanyanya tanpa basa-basi.


Aku menggelengkan kepalaku pelan "Tidak tante, saya hanya lelah" Kilahku.


"Baiklah, maafkan tante ya.. sudah mengganggu waktu istirahat kamu" Sesalnya dengan raut wajah merasa bersalah.


"Ga apa-apa tante, Saya senang sekali bisa berkenalan dengan tante" Ucapku tulus.


"Lain kali kita bisa ketemu lagi kan?" Tanyanya penuh harap.


"Pasti tante" Aku meyakinkannya.


TBC


Jangan lupa Like ya readers.....


Masa yang baca banyak yang Like cuma se-Uprit???? 😅


Komentarnya selalu Author tunggu lho...


Terima kasih buat yang udah vote..

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampirrrr 💖💖💖


__ADS_2