
.
.
.
.
.
.
"Cepet sekali kamu datangnya mas?" Sapaku ketika kulihat Gerry yang masih terengah-engah seperti habis berlarian.
"Mas langsung kesini begitu dapet pesan dari kamu" Ujarnya yang masih berusaha mengatur nafasnya.
"Jam berapa nanti kamu dibolehin pulang?" Tanya nya begitu dia duduk di kursi sebelah ranjangku.
"Masih nanti sore mas.." Jawabku sambil membenahi posisiku.
"Bentar biar mas bantu kamu duduk.." Ucapnya dan beranjak berdiri.
Ku peluk tubuhnya dengan begitu erat saat dia berusaha membantuku agar aku bisa duduk. Aroma tubuh inilah yang nanti akan sangat kurindukan. Begitu aku pulang ke kampung halamanku, kehangatan inilah yang akan selalu kurindukan.
"Mas pegel kalo posisinya kayak gini terus.." Godanya padaku.
Aku malu, ku sembunyikan wajahku di dadanya dan ku eratkan pelukanku padanya sekali lagi.
Dia tertawa renyah dan membalas pelukanku. Di usap-usapnya punggungku "Mas bakalan kangen banget sama tubuh kecil kamu ini"
Ku lepaskan pelukanku dan ku cubit pinggangnya keras "Nanti kalo badan aku melar, kamu juga yang malu punya istri kayak aku"
"Beneran jadi nikah ya?" Guraunya sambil mencubit hidungku gemas.
"Kamu ga mau?" Sautku kesal.
"Bahkan kamu ngajak nikah sekarang pun mas langsung siap" Guraunya sekali lagi.
Dan lagi-lagi semburat merah memenuhi wajahku yang sudah tidak sepucat saat pertama kali siuman dulu.
__ADS_1
"Sayang.. Meskipun badan kamu melar, mas ga pernah akan malu mempunyai istri seperti kamu. Karena bentuk tubuh kamu yang nanti berubah itu sebab kamu melahirkan anak-anak mas nantinya. Setidaknya, mas ingin 5 anak dari kamu. Biar rame" Guraunya dengan mengambil tanganku untuk di genggamnya.
"Kamu pikir aku pabrik anak mas?" Ujarku yang di sambut dengan gelak tawanya yang terlihat lepas.
"Karena mas tau rasanya jadi anak tunggal yang ga punya saudara. Jadi mas berencana membuat anak sebanyak-banyaknya sama kamu" Ujarnya setelah tawanya reda.
"Aku masih bisa nolak lamaran kamu ga mas?" Gurauku dan mendapat cemberutan di wajahnya.
"Kamu udah ga bisa nolak lagi. Kamu sudah di takdirkan untuk jadi istri mas" Ucapnya tegas.
"Mas..." panggilku tiba-tiba.
"Iya..?" Jawabnya sedikit khawatir "Ada yang sakit?" imbuhnya lagi.
Aku mengangguk, benar sekali. Rasanya sangat nyeri di dadaku hingga menyesakkan. Mengingat bahwa mungkin akan butuh waktu sedikit lama untuk nanti kita bertemu lagi setelah aku pulang kampung nanti. Dia refleks berdiri dan menunduk sangat dekat dengan tubuhku.
Ku peluk tubuhnya sekali lagi dan menangis dipelukannya.
"Kamu kenapa sayang? mana yang sakit? mas akan panggilkan dokter" Ujarnya begitu panik.
"Dada aku nyeri mas.." Ujarku masih di iringi dengan isak tangisku.
Kupeluk dia semakin erat "Bukan nyeri yang seperti itu mas, aku cuma ga bisa bayangin aja harus terpisah dari kamu. Meskipun cuma sementara"
Dia membalas pelukanku "Mas akan secepatnya menyelesaikan masalah ini dan menikahi kamu secepatnya"
Aku mengangguk dalam pelukannya. Dia mengendurkan pelukannya dan memegang kedua pundakku "Percayalah, sedikit lagi mas akan menjadikan kamu satu-satu nya istri sah mas" ujarnya meyakinkanku.
Tangannya bergerak menghapus sisa-sisa air mata yang membasahi wajahku "Boleh?" pintanya padaku ketika jarinya tergerak membelai bibirku.
Aku mengangguk pasrah, kupejamkan mataku saat tangannya menggapai tengkukku dan bibirnya menempel sempurna di bibirku.
Ku buka bibirku untuk membiarkan dia ******* bibirku dengan lembut. Kubalas lumatan bibirnya dan ciuman kami menjadi sangat panas dan bergelora. Ku cengkeram sprei dengan tangan kananku yang bebas karena menahan nafas yang sedikit tersenggal.
Dadaku naik turun karena nafas dan juga nafsu kami yang memburu ketika lidah kami saling membelit dan tekanan tangannya yang kokoh di tengkukku membuatku hampir kehabisan nafas. Ku dorong tubuhnya pelan.
"Aku ga bisa nafas mas.." Ujarku dengan nafas tersenggal.
"Maaf.." Ucapnya merasa bersalah.
__ADS_1
Namun dia meneruskan lagi untuk ******* bibirku kembali. Aku pasrah, karena aku pun juga menginginkannya. Meskipun nanti jika mengingat hari ini, aku akan menjadi sangat merindukannya.
Hingga bibirnya turun ke leherku dan menggigitnya kecil-kecil namun tidak meninggalkan bekas merah di leherku. Aku melenguh sedikit. Dan dia kembali ******* bibirku dengan gairah yang sudah mencapai ujung kepala.
Ku elus rambutnya pelan, ciumannya pun kembali melembut. Sampai dia melepaskan ciumannya dan mengecup bibirku sekilas. Dan berakhir dengan keningnya yang menempel di keningku dengan nafas kami yang saling bersahutan.
"Mas takut, ga bisa nahan rindu sama kamu" Ujarnya dengan sisa-sisa nafasnya yang masih memburu.
Ku kecup bibirnya balik "Siapa tadi yang nguatin aku waktu aku bilang takut pisah sama kamu?" Ucapku mengingatkan.
Dia kembali duduk dan tersenyum "itukan tadi waktu kita belum ciuman"
"Yang mulai kan kamu.." ujarku tak mau kalah.
"Ga pa-pa sih, naik pesawat bentar juga sampe kok di rumah kamu" Guraunya usil.
"Oh ya, pada kemana kok sepi banget?" Imbuhnya lagi.
"Di kontrakan Mas, nemenin Aslan. Juga ibuk bilang mau kasih kita waktu sebelum nanti sore aku pulang ke jawa" Ujarku pelan. Tenggorokanku terasa kering sehabis ciuman kami tadi.
Aku berusaha menggapai minum di nakas sebelah ranjangku namun di cegah Gerry, yang dengan sigap mengambilkan segelas air putih dari atas nakas.
"Kamu kan bisa suruh mas ngambilin.. nanti kalo kamu jatuh gimana?" Ujarnya sedikit kesal.
Aku hanya tersenyum dan kembali minum, suara pintu terbuka membuat kami sama-sama menoleh ke arah pintu dimana Valley sudah berjalan ke arah kami dengan raut wajah kesal.
"Aku sampai bolak-balik kesini, aku pikir kalian belum selesai juga" Ujarnya sewot.
Uhhuukkkkkk
Aku tersedak air minum yang baru saja melalui tenggorokanku karena perkataan Valley barusan. Dan semburat merah memenuhi wajahku, juga wajah Gerry yang tampak salah tingkah.
TBC
Like & komen nya Author tunggu yaaaaa... biar Author tambah semangat 😘😘😘
Terima kasih untuk Vote nya.. 💖💖💖
Terima kasih untuk yang sekedar mampir, semoga tergerak hatinya untuk like, komen, dan di favoritkan 😁
__ADS_1