
.
.
.
.
.
.
Aku sama terkejutnya dengan mas Reyhan karena kedatangan Gerry yang tiba-tiba. Tapi aku bersyukur, Gerry menguatkanku dengan genggaman tangannya.
Sedangkan mas Reyhan masih menatap kami dengan nanar. Aku tak peduli. Tak ku hiraukan tatapan matanya yang sepertinya sangat tidak suka dengan kedatangan Gerry.
"Kamu kok bisa kesini mas?" Tanyaku penasaran.
"Tadi nyariin kamu di rumah ga ada, jadi mas langsung kesini. Telfon ponsel kamu juga ga aktif" Ujarnya khawatir.
Ku ambil tas ku yang tergeletak di atas meja dan mencari ponselku "Lowbat mas.." Ku perlihatkan pada Gerry yang terlihat sedikit lega.
"Lain kali kalo mau pergi cek ponsel kamu dulu batrei nya masih ada ga, biar ga bikin mas khawatir. Ditelfon berkali-kali ga nyambung" Ucapnya lembut.
Aku tersenyum dengan perhatiannya "Iya mas.. ga lagi-lagi deh"
Gerry mengusak rambutku gemas "Jangan di ulangi ya?" ujarnya.
Aku mengangguk pelan "Iya..."
Aku hampir lupa jika di sini masih ada mas Reyhan. Ku lirik sekilas wajahnya yang mengeras. Apa sekarang dia sedang cemburu? Melihat aku dengan Gerry?
Aku tak peduli dengan keberadaannya. Sekalipun kami masih terikat hubungan sebagai Ayah dan ibu dari Aslan. Tapi hanya sebatas itu. Tidak lebih.
"Kamu benar-benar baik-baik saja kan?" Tanya Gerry sambil melirik sekilas ke arah mas Reyhan.
__ADS_1
"Iya mas..." Jawabku yakin.
"Syukurlah.. Mas pikir dia menyakitimu" Ujarnya sambil mengarahkan dagunya ke arah mas Reyhan.
Mas Reyhan membulatkan matanya tak terima "Kami cuma ngobrol.. jangan nuduh sembarangan ya"
"Siapa tau Elo pengen nyakitin Caramel lagi?" Sindir Gerry pada mas Reyhan.
Aku tambah terkejut lagi "Mas... kamu tau kalau dia mantan suami aku?" Tanyaku penasaran.
Gerry merasa salah tingkah "Melihat wajahnya yang sangat mirip dengan Aslan, mas hanya asal menebak saja. Jadi benar?"
Aku mengangguk pelan. Tapi aku masih sedikit curiga, melihatnya salah tingkah. Atau cuma pikiranku saja?
Gerry menghela nafas berat "Tolong jangan ganggu Caramel lagi" Ujarnya.
"Dia sudah cukup terluka selama ini karena Elo, jangan terlalu sering muncul di hadapannya" imbuhnya lagi.
"Apa hak Elo? Elo aja belum cerai dari isteri Elo.." Balas mas Reyhan sewot.
"Selama janur kuning belum melengkung, Gue masih ada kesempatan untuk kembali lagi sama Caramel. Demi masa depan Aslan" Ucapnya sambil tersenyum sinis.
Ku lihat Gerry sedikit menahan emosi "Jangan ngomong sembarangan mas, dan jangan bawa-bawa Aslan seakan-akan kamu adalah Ayah yang baik untuk dia. Sekalipun kamu Ayah kandungnya" Ucapku yang ikut emosi.
Mas Reyhan mengambil gelas yang di bawa waiters kepadanya dan meminumnya. Tatapan tidak suka nya kepada Gerry semakin menjadi.
"Apa baiknya dia? Dia juga meninggalkan istrinya demi kamu. Dia juga baj*ngan. Apa kamu tidak takut? Suatu saat nanti dia juga akan meninggalkanmu demi wanita lain?" Ucapnya kemudian kembali meminum Alkohol di tangannya lagi.
Kilat marah dari kedua mata hazel Gerry sangat terlihat. Aku ingat tatapan matanya yang seperti ini, seperti saat dia menghajar Raditya dulu. Ku tahan tangannya yang sudah terkepal.
"Biarkan saja mas.. Dia hanya tidak terima karena ga bisa dibandingkan dengan kamu" Ku redam sedikit emosinya agar tidak menyulut pertikaian.
Dan lagi-lagi kulihat seraut wajah cemburu dari mas Reyhan saat aku berusaha menenangkan Gerry. Sakit? tentu saja seperti itu dulu saat kamu melukaiku.. Bahkan lebih sakit lagi. Batinku dalam hati.
"Pulang yuk mas.. " Kugandeng tangan Gerry dan beranjak berdiri.
__ADS_1
Gerry ikut berdiri dan melihat mas Reyhan sekilas "Jangan ganggu hidup Caramel lagi. Elo udah ga ada artinya buat dia" Ancamnya.
"Semoga ga ada kata lain kali lagi buat kita" Imbuhku dan beranjak pergi.
Gerry merangkul pinggangku, begitupun aku bergelayut manja di badannya. Sayup-sayup aku mendengar mas Reyhan menggebrak meja dengan sebelah tangannya. Dan segala macam umpatan keluar dari bibirnya. Hingga semua orang menatap ke arahnya.
Ku lambaikan tangan pada Veronica untuk berpamitan. Dan dia balas dengan anggukan.
"Kenapa mantan suami kamu bisa ada di situ?" Tanyanya begitu kami dalam perjalanan pulang.
"Ga tau, tiba-tiba aja nongol di sebelah aku" Jawabku jujur.
"Dia ngejar-ngejar kamu lagi?" tanyanya sambil masih fokus pada jalanan di depannya.
"Iya.." Ku lihat tangannya yang mencengkram setir dengan kuat "Tapi ga aku hiraukan".
Dia menoleh dan tersenyum " Bagus.." Ujarnya sambil mengelus puncuk kepalaku dengan sebelah tangannya.
"Kan aku sudah punya kamu" Ucapku pelan karena semburat merah di wajahku sudah jelas terlihat.
Di genggamnya tanganku dan di kecup.
"Mau ke hotel?"
Ku lepaskan tangannya dan ku cubit pinggangnya keras.
"Dasar mesum..!!"
TBC
Jangan lupa Like dan Comment ya...👍👍
Terima kasih untuk poinnya...
Terima kasih sudah mampir baca...💖💖💖
__ADS_1