
Semburat dari sang mentari mulai masuk melalui celah-celah kaca jendela yang tidak tertutup gorden sepenuhnya. Mata indah itu mengerjab dengan perlahan, sedangkan tangannya memijit pelipisnya karena rasa pening yang menyerang begitu dahsyat. Pijitan itu tidak terlalu membuahkan hasil, tetapi ia menghentikannya karena lebih tertarik pada sebuah lengan kelar yang melingkar di tubuhnya.
Keningnya berkerut mencoba mengingat-ingat ada kejadian apa yang membuatnya ada disini, belum sampai mendapatkan jawaban kedua matanya membola, dengan tangan bergetar ia mencoba mengintip ke dalam selimut, hal mengejutkan ia lihat, ia telanjang tanpa satu helai kain pun.
"Aaaaaaaa," teriakan itu berhasil membangunkan orang yang sedari tadi memeluknya.
"Apa yang kau lakukan padaku Albert?!" tanya Anna sembari merapatkan dirinya ke dalam selimut.
Sedangkan lawan bicaranya masih mencoba mengumpulkan kesadarannya, matanya bahkan belum terbuka sempurna.
"Apa yang kau lakukan padaku?!"
Albert menggeleng, "Kau yang tadi malam memohon padaku Anna, aku juga mabuk jadi tidak memiliki akal sehat untuk menolakmu."
Semalam saat Albert meminta Anna menemaninya minum, Anna juga ikut minum. Tetapi Anna tidak memiliki toleransi terhadap alkohol setinggi Albert, Anna sudah mabuk dalam gelas kelimanya, sedangkan Albert masih setengah sadar pada botol ke tiga nya. Albert adalah seorang lelaki normal, meski kesadaran masih ada 50 persen, tetapi saat Anna meraba dirinya dan terus saja memohon untuk berbuhungan ia tetaplah tidak bisa mempertahankan kewarasannya.
"Apa kau bilang! Tidak mungkin aku segila itu, jangan mengada-ada!"
"Kau bahkan yang memimpin permainan semalam, tubuhmu sangat memuaskan Anna." celetuk Albert.
Plak,
Satu tamparan mendarat di pipi Albert, itu sangat keras sehingga menimbulkan bekas merah disana. Anna beranjak memunguti pakaiannya dan pergi ke kamar mandi, sedangkan Albert masih terdiam di tempatnya. Anna memakai pakaiannya secepat mungkin san terkesan asal-asalan, setelah selesai ia pergi dari kamar itu tanpa sepatah kata pun.
__ADS_1
Albert mengacak rambutnya frustasi, ia juga sama sekali tidak bermaksud untuk menyetubuhi Anna dalam keadaan mabuk seperti selamam, tetapi kesadarannya yang sisa setengah saja tidak bisa menahan godaan Anna, bahkan gadis itu sempat berkali-kali menciumnya sebelum mereka pindah ke kamar.
"Apa yang telah kulakukan!"
***
"Lucas ingin sereal saja, Mommy." anak itu berdiri di samping Dara yang tengah mempersiapkan makanan.
"Baik, kau tunggu saja di meja makan."
Lucas mengangguk dan segera berlari ke meja makan, membiarkan Dara yang sudah berbalut kemeja putih untuk membuatkan sereal untuknya. Dara bangun kesiangan sehingga jika memesan sarapan di tempat biasa, pengantarannya akan lebih lama, sudah tidak keburu.
"Makanlah," Dara memberikan semangkuk sereal itu pada Lucas, sedangkan dirinya memakan buah pisang di tangannya.
Dara hampir saja tersedak pisangnya mendengarkan kalimat itu, selama ini Lucas jarang sekali menyinggung mengenai ayahnya, hanya disaat waktu tertentu saja dan Dara selalu kebingungan untuk mencari jawaban dari pertanyaan itu, begitu juga dengan sekarang.
"Apakah Lucas tidak sayang dengan Mommy, sampai ingin bertemu dengan daddy?"
Anak itu menggeleng, "Bukan seperti itu Mom, tetapi Lucas hanya ingin tahu seperti apa daddy Lucas?"
Dara tersenyum getir, ayah seperti apa yang Lucas harapkan? Apakah Lucas akan mengharapkan ayah semacam Rayden, yang dahulu saja sebelum semuanya terjadi sudah mengatakan tidak berencana akan memiliki anak.
"Seperti apa daddy yang Lucas harapkan?"
__ADS_1
Lucas menautkan kedua alisnya, mencoba berpikir sekiranya sosok seperti apa yang dirinya butuhkan.
"Yang keren Mom, Lucas ingin daddy yang keren dan mau bermain dengan Lucas."
Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya, dalam pikirannya ia tidak akan pernah bisa mewujudkan keinginan Lucas, karena sosok ayah yang Lucas ingin berbanding terbalik dengan ayah kandungnya. Dara sangat menyayangi Lucas dan rela melakukan apapun untuk Lucas, tetapi jika yang Lucas inginkan adalah bertemu dengan ayahnya maka Dara akan kesulitan mewujudkannya.
"Baiklah, Daddy Lu adalah seseorang yang keren."
"Lalu kapan Lu akan bertemu Daddy?"
"Segera mungkin sayang."
"Yeay!"
...━━━ Jerat Cinta Wanita Penggoda ━━━...
Suka dengan cerita ini?
Jangan lupa berikan like dan juga sebuah kalimat di kolom komentar sebagai bentuk aparesiasi, setiap jejak kalian sangat dihargai!
Terimakasih and love you full.
With love,
__ADS_1
Khalisa🌹