
.
.
.
.
.
.
"Kenapa ga dari dulu kamu katakan yang sebenarnya sama aku mas?" tanyaku mengawali pembicaraan di saat kami sedang sarapan.
"Mas butuh waktu sampai mas yakin kalo kamu benar-benar mencintai mas. Biar kamu percaya kalo mas bersama kamu bukan karena balas dendam dengan kelakuan Kirana dan Reyhan. Tapi mas mencintai kamu karena diri kamu sendiri. Bukan karena untuk balas dendam atau semacamnya" Ujarnya sambil menatapku yang masih menekuni sarapanku.
"Kalau mas katakan sejak awal saat kamu belum yakin sama perasaan kamu, apa kamu tidak berpikir untuk meninggalkan mas?" imbuhnya lagi.
Dia benar, mengetahui fakta bahwa dia adalah suami dari selingkuhan mantan suamiku saja membuatku dulu menjauhinya dan menjaga jarak darinya. Apalagi seandainya dia memberitahuku bahwa dia mengetahui semuanya tentangku?
Mungkin kami tidak akan berakhir seperti ini. Saling mencintai dan menguatkan satu sama lain tanpa menghiraukan masa lalu.
Ku letakkan sendok ku dan balik menatapnya "Maaf kalo aku sempet marah-marah sama kamu mas.."
Diraihnya tanganku dan di genggamnya erat "Maaf.. sudah membuat kamu salah paham"
Dia selalu menyalahkan diri sendiri. Sekalipun aku yang bersalah. Dia malah yang selalu meminta maaf. Laki-laki seperti ini, apa aku tidak sedang bermimpi karena di cintai laki-laki berhati baik seperti ini?
Aku beranjak dan menghampirinya. Aku menunduk dan merangkul lehernya dari belakang "Aku mencintaimu Mas... Jangan selalu menyalahkan dirimu atas setiap kesalahan yang ku perbuat"
__ADS_1
"Bagaimana bisa mas menyalahkan kamu, seorang lelaki harus melindungi wanitanya. Mas juga sangat mencintai kamu.." Dikecupnya pergelangan tanganku yang menggantung di lehernya.
"Sayang sekali mas harus berangkat pagi-pagi sekali hari ini" Ucapnya sambil menarik tanganku dan mendudukkan ku di pangkuannya.
"Mas butuh vitamin biar kuat" Ujarnya dan langsung mencium bibirku dengan lembut tanpa meminta persetujuan dariku.
Ku balas ciumannya dengan tak kalah lembut. Ku pejamkan mataku dan ku nikmati setiap sentuhan tangannya di lekuk tubuhku.
Ku buka bibirku dan membiarkan lidah kami bersatu. Ciuman yang semula lembut berubah menjadi panas dan penuh gairah saat tangannya pun ikut merem*s pay*daraku.
Nafsu yang sudah mencapai puncak ubun-ubun ku pun tak tertahankan lagi. Lenguhan ku lolos begitu saja dari bibirku saat bibirnya menyusuri leherku juga pundak ku yang entah kapan sudah terbuka.
Saat tangannya mulai menyingkap gaun tidurku, Aku terkesiap dan sadar "Mas... jangan.." Ucapku tertahan.
Dia langsung menghentikan kegiatannya "Maaf... kebablasan" Ujarnya dengan nafas masih memburu.
Aku tersenyum dan mengecup pipinya "Kapan ga pernah kebablasan?" sindir ku.
Ku cubit pahanya keras "Becanda melulu kamu mas"
"Mas ga becanda, mas udah dewasa. Bisa menikahi siapa saja tanpa restu dari papa. Hanya perlu restu dari orangtua kamu saja kan? Besok kita nikah" Ujarnya ngotot.
"Kebelet banget ya?" Gurauku.
"Iya... " Jawabnya tanpa ragu sedikitpun.
Ku kecup pipinya yang sebelah lagi "Kamu belum minta restu secara resmi dari orang tua aku mas.. Sabar dulu ya.."
"Besok kita pulang ke rumah kamu?" Tanyanya sendu.
__ADS_1
"Kamu bener-bener kebelet nikah ya?" Gurauku lagi.
Dia menghela nafasnya kasar "Mas takut papa akan tambah nekat buat pisahin kita. Mas ga bisa kehilangan kamu"
Ku peluk tubuhnya yang kekar "Kita pasti bisa melaluinya mas, Tuhan Maha baik.. Tidak mungkin Tuhan begitu tega memisahkan kita. Setelah semua rasa sakit yang kita lalui" Hiburku.
"Kenapa mas hari ini harus ada meeting jam 9 pagi? Mas masih pengen sama kamu..." Ucapnya sambil mengeratkan pelukannya padaku.
"Bertanggung jawablah sama pekerjaan kamu mas.. Sama seperti kamu yang nanti akan bertanggung jawab sama keluarga kita kelak" Ujarku yang masih dalam pelukannya.
"Kamu malah semakin bikin mas jadi pengen cepet-cepet nikahin kamu.." Ucapnya sendu.
"Aku ga akan kemana-mana mas, aku tetap akan disini.." Ucapku meyakinkannya.
Di longgarkannya pelukan kami "Kalau begitu, jujurlah sama mas.. Apa yang papa katakan saat menemui mu kemarin?"
"Kamu tau?" Ucapku terkejut. Padahal memang aku berencana tidak memberitahu nya.
"Tentu saja, makannya mas nyariin kamu sampe ke tempat Veronica takut kamu kenapa-kenapa" Ujarnya masih sendu.
"Aku ga kenapa-kenapa kok mas. Papa kamu juga ga ngapa-ngapain aku" Ucapku tanpa berani menatap matanya.
"Mungkin dari luar kamu terlihat baik-baik saja. Tapi hati kamu? Apa papa mengatakan hal yang menyakitimu?" tanya nya penasaran.
Ku gelengkan kepalaku pelan "Papa kamu tidak mengatakan hal yang menyakitiku mas, Beliau hanya ingin aku meninggalkanmu"
"Dengan uang?"
TBC
__ADS_1
Jangan lupa like & comment ya readers yang budiman... 😍😍
Terima kasih untuk vote dan juga yang sudah mampir baca 💖💖💖