
.
.
.
.
.
.
Kutatap langit-langit kamarku saat kurebahkan tubuhku di atas ranjang yang tidak begitu besar ini. Lelah sekali pikiran dan tubuhku. Berendam air hangat di bathup harusnya sangat menyenangkan.
Sayang sekali hanya ada air dingin dari bak mandi di kontrakanku ini. Sedangkan cuaca sudah mulai masuk musim hujan. Pasti akan sangat menyenangkan menghilangkan penat dan lelah dengan berendam air hangat.
Gerimis diluar terdengar sampai kedalam rumah. Kupejamkan mataku sebentar namun malah teringat dengan pertemuanku dengan Mama Gerry dan Kirana tadi.
Menyenangkan sekali saat bertemu mama Gerry tadi, tapi jika mengingat obrolanku dengan Kirana di toilet tadi rasanya benar-benar menjengkelkan.
Kirana benar-benar sangat cantik. Dulu saat aku hanya melihat fotonya saja pun dia terlihat sangat cantik. Dan sekarang, saat aku berhadapan dengannya langsung, dia bahkan terlihat berkali-kali lipat lebih cantik. Pantas saja Mas Reyhan tidak bisa melepaskannya.
Ada hal lain yang juga mengganggu pikiranku sekarang, bahwa Kirana tidak mau menceraikan Gerry. Kalau dia tidak mencintainya kenapa dia tidak mau melepaskannya?
Sayup-sayup aku mendengar pintuku di buka dan seseorang berdiri di ambang pintu kamarku.
"Kamu ga kenapa-kenapa kan sayang?" Tanya Gerry yang tampak khawatir.
"Enggak mas, aku baik-baik saja. Emangnya kenapa?" Aku balik bertanya.
Dia berjalan ke arahku dan duduk di sampingku "Apa Kirana menyakitimu?" Tanyanya sambil membelai rambutku.
"Enggak mas, kenapa kamu bisa berfikir seperti itu?" Tanyaku lagi.
"Karena mas mengenal Kirana sayang, mas harap kamu tidak menyembunyikan apapun dari mas" Jawabnya yang sekarang ikut berbaring di sampingku.
__ADS_1
"Aku ga menyembunyikan apapun dari kamu. Jadi kamu kesini karena itu?" Ku arahkan badanku agar menghadapnya.
"Iya, Mama bilang kalo kamu ketemu Kirana" Jawabnya yang sekarang memelukku.
"Jadi mas langsung datang kesini. Sekalian mau nge-charge" Bisiknya di telingaku.
Kupukul pelan dadanya "Ini masih sore mas, mesum sekali kamu"
"Apa maksut kamu? Batrei ponsel mas habis, jadi mas mau numpang nge-charge disini. Atau, kamu pikir mas mau 'itu' ya?" Godanya padaku.
Semburat merah memenuhi wajahku "Kamu sengaja ya godain aku?"
Dicubitnya gemas pipiku "Batrei ponsel mas memang mau habis sayang.. kamu saja yang pikirannya ngeres" Ujarnya sambil merogoh ponsel dari kantong celananya dan ditunjukkan padaku.
Wajahku bertambah merah saat aku melihat layar ponselnya yang menampilkan batrei lemah.
Ku ambil ponselnya dan aku beranjak berdiri untuk men-Charge ponselnya. Dia duduk di tepian ranjang memperhatikanku.
"Kalo kamu mau, ayo kita lakukan" Ujarnya yang membuat pipiku semakin merah.
"Tapi kan mas ga nginep, mas selalu pulang" Sanggahnya.
Ku hela nafasku pelan "Jangan terlalu sering kesini mas"
Dipeluknya tubuhku hingga aku terbaring di ranjang "Mas ga bisa nahan kalo sehari aja ga ketemu kamu"
Kemudian dia mencium bibirku dengan sangat lembut. Ku balas ciumannya dan melingkarkan tanganku di pinggangnya. Saat ciuman kami semakin panas, dan tangannya sudah bergerilya ke seluruh tubuhku, aku melepaskannya.
"Kenapa?" Tanyanya dengan nafas terengah.
Aku menggelengkan kepalaku pelan "Bisa tidak mas, kita tidak melakukannya" Ujarku lirih.
Kulihat dia tampak kecewa "Mas ga akan lebih" lalu dia kembali menciumku dengan sangat lembut.
Aku kembali terhanyut dengan ciumannya yang lembut. Dan saat ciuman kami semakin panas dia menghentikannya. Dipeluknya tubuhku dan ditenggelamkannya kepalaku di dadanya.
__ADS_1
"Apa yang Kirana katakan padamu waktu kalian di toilet?" tanyanya masih penasaran.
Sepertinya dia tidak akan berhenti bertanya sampai aku memberitahunya "Kamu ga perlu kuatir mas, dia hanya bilang kalo dia ga akan nglepasin kamu. Udah itu aja"
"Bener??" Dia masih ragu.
"Iya..." Jawabku meyakinkannya.
Hening. Hanya terdengar deru nafas kami yang saling bersahutan. Ku lepaskan pelukannya. Sepertinya sekarang saat yang tepat untuk mengatakan padanya tentang Kirana dan mas Reyhan.
"Mas.." panggilku saat kulihat matanya yang terpejam.
"Hmm" Gumamnya pelan.
Bagaimana aku harus mengatakannya. Dan darimana aku harus memulainya?
"Sebenernya, aku bercerai karena mantan suamiku dulu berselingkuh dengan seorang wanita yang sangat cantik" Ucapku lirih hampir tak terdengar.
Dia membuka matanya dan menatapku "Mas ga akan berpaling dari kamu, mas bukan laki-laki seperti itu. Kalo menuruti kata 'Cantik' ga akan ada habisnya. akan ada yang lebih cantik lagi. Dan lebih cantik lagi. Dan lebih cantik lagi. Dan seterusnya"
"Aku percaya mas.. Kamu bukan laki-laki seperti itu. Karena akupun tak secantik istri kamu" Ucapku sambil menundukkan wajahku.
"Siapa yang bilang? Bagi mas, kamu wanita paling cantik nomer 2 setelah mama ku" Ucapnya dengan meraih daguku dan kembali mencium bibirku lembut.
TBC
Jangan lupa Like nya ya guys..👍
Kritik, saran dan komentarnya Author tunggu..
Kira-kira next chapt Caramel jadi kasih tau soal Kirana dan Reyhan ga ya?
Terima kasih untuk votenya..
Terima kasih sudah mampirrr 💖💖💖
__ADS_1